Setiap hal yang ada di dunia punya sejarah asal-muasalnya tersendiri. Termasuk kehadiran simbol-simbol yang digunakan di bidang matematika.
Sejarah kehadiran dan penggunaan simbol-simbol matematika ini hadir sejak tahun 1400-an seiring dengan berkembangnya pengetahuan manusia. Dikutip dari unggahan Instagram Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Puslapdik Kemendikdasmen), kita ulik sejarahnya, yuk!
Sejarah Simbol-simbol Matematika
1. Sama Dengan (=)
Simbol ini diperkenalkan pada 1557 oleh matematikawan asal Inggris, Robert Recorde. Ia menghadirkan simbol dua garis sejajar untuk melambangkan kesamaan dengan filosofi "tidak ada yang lebih setara daripada itu".
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
2. Minus (-)
Johannes Windmann adalah sosok yang memperkenalkan simbol minus (-) pada 1489. Windmann menggunakan garis horizontal pendek untuk menunjukkan pengurangan.
Namun, literatur lain menyebut bahwa sebenarnya simbol minus telah digunakan sebagai lambang pengurangan selama berabad-abad. Asal muasalnya diketahui dari matematikawan Mesir dan Yunani kuno.
3. Bagi (Γ·)
Simbol bagi punya nama lain, yakni obelus. Bagi atau obelus pertama kali digunakan oleh matematikawan asal Swiss bernama Johann Rohn pada 1659.
Lambang ini menampilkan garis horizontal dengan titik di atas dan di bawahnya. Maknanya, lambang itu mewakili pembagian atau pecahan antara dua angka.
4. Tak Terhingga (β)
Tak terhingga atau lemniscate diperkenalkan oleh matematikawan Inggris, John Wallis, pada 1655. Simbol ini menggambarkan lingkaran tak berujung dan tidak berulang yang menandakan konsep matematika tentang tak terhingga.
5. Penjumlahan (β)
Matematikawan Jerman, Leonhard Euler, memperkenalkan huruf kapital Yunani sigma (β) ke bidang ini pada abad ke-18. Ia menyebutnya sebagai simbol penjumlahan dari serangkaian kata. Seringkali, simbol ini digunakan dalam konteks kalkulus atau aljabar.
6. Notasi Fungsi (f(x))
Kehadiran simbol f(x) tak bisa dilepaskan dari matematikawan dan filsuf asal Prancis, RenΓ© Descartes. Pada tahun 1600-an, Descartes menyarankan penggunaan huruf untuk melambangkan nilai-nilai yang tidak diketahui pada persamaan aljabar.
Saran itu kemudian disempurnakan oleh matematikawan Swiss, Leonhard Euler, pada pertengahan abad ke-18. Euler menyempurnakan notasi f(x) dan menggunakannya untuk menunjukkan ketergantungan suatu fungsi pada variabel 'x'.
7. Integral (β«)
Simbol integral (β«) diperkenalkan oleh matematikawan Jerman, Gottfried Wilhelm Leibniz, pada akhir abad ke-17. Simbol ini menandakan proses pengintegrasian suatu fungsi pada konsep dasar kalkulus. Desain simbol berakar dari huruf S yang memanjang. Diketahui, desain ini terinspirasi dari istilah Latin "summa" yang berarti jumlah atau total.
8. Phi (Ο)
Awalnya, simbol Phi (Ο) diperkenalkan oleh matematikawan Wales, William Jones pada 1706. Simbol ini berasal dari huruf Yunani untuk mewakili perbandingan antara keliling dan diameter lingkaran.
Namun, penggunaan Phi ramai pada abad ke-18. Hal ini karena Leonhard Euler mempopulerkan simbol tersebut.
9. Akar Kuadrat (β)
Akar kuadrat atau tanda radikal diperkenalkan oleh matematikawan Jerman, Christoph Rudolf, dalam bukunya yang berjudul "Coss" pada 1525. Simbol ini berasal dari istilah Latin "radix", yang berarti "akar", kemudian secara konsisten digunakan untuk menunjukkan akar kuadrat dari suatu bilangan.
10. Perkalian (Γ)
Matematikawan Inggris, William Oughtred, memperkenalkan simbol perkalian pada 1631. Simbol ini menggantikan notasi sebelumnya, yakni titik (.).
Titik sebelumnya ditempatkan di antara dua angka untuk menunjukkan perkalian. Meski kini simbol (Γ) kerap digunakan, masih ada yang menemukan kehadiran titik untuk melambangkan perkalian.
11. Plus/Tambah (+)
Tanda plus berasal dari istilah Latin "et" yang berarti "dan". Simbol tersebut kemudian berevolusi menjadi bentuk "+".
Kehadiran simbol "+" pertama kali didokumentasikan pada 1489 di buku karya Johannes Windman. Dalam buku itu tanda plus mengacu pada surplus dan defisit dalam masalah bisnis.










































