Gubernur Jakarta Pramono Anung memerintahkan pemberantasan ikan sapu-sapu di sejumlah wilayah Jakarta secara berkala. Hal ini dikarenakan populasi ikan sapu-sapu sudah membeludak sehingga menjadi invasif dan merusak ekosistem perairan.
Secara morfologi, sapu-sapu memiliki tubuh yang ditutupi oleh sisik keras namun fleksibel. Bentuk kepalanya pipih mirip dengan ikan lele, dengan pola titik-titik putih besar di bagian abdomen. Mulut penghisap yang terletak di bagian bawah kepala berfungsi untuk menyedot makanan dan membersihkan permukaan yang ditempati.
Ikan ini memiliki sirip dorsal dengan jumlah 9 hingga 14 buah dan sirip dada yang dilengkapi dengan duri kecil seperti gigi. Ukuran tubuhnya bisa mencapai 40 cm, bahkan lebih, dengan pertumbuhan yang cukup cepat, yaitu hingga 35 cm dalam waktu dua tahun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ikan jenis ini pada awalnya berasal dari kawasan sungai dengan aliran air deras dan jernih di Amerika Selatan, seperti di Argentina Utara, Paraguay, dan Uruguay. Selain itu, spesies ini juga ditemukan di Brazil bagian selatan, tepatnya di Sungai Rio Paraguay, Rio de Plate, Rio Uruguay, dan Rio Panama.
Hewan ini dikenal sebagai hewan omnivora oportunistik yang memakan alga, ikan-ikan kecil, dan tanaman air. Kemampuannya untuk membersihkan akuarium dari ganggang dan kotoran yang menempel di dinding kaca membuatnya sering dijuluki sebagai 'janitor fish' alias 'tukang bebersih'
Ikan ini sangat mudah beradaptasi, baik di air tawar maupun air payau. Ikan ini bahkan mampu bertahan hidup di sungai yang mengering, berkat kemampuannya bernapas melalui kulit dan menggeliat untuk mencari tempat tinggal baru. Ikan jenis ini juga mampu hidup hingga 30 jam di luar air jika memiliki cadangan oksigen yang cukup di perutnya.
Apa Bahayanya Ikan Sapu-sapu?
Lantas, mengapa ikan sapu-sapu bisa mengancam ekosistem?
Berdasarkan laporan dari Texas Parks & Wildlife dan pakar perikanan IPB University, ada tiga alasan utama mengapa ikan ini merusak:
1. Mereka menggali lubang yang dalam di pinggiran sungai untuk bersarang. Dalam jumlah besar, aktivitas ini meruntuhkan struktur tanah dan menyebabkan erosi parah.
2. Ikan sapu-sapu memakan alga dan detritus secara masif, yang merupakan sumber makanan utama bagi ikan-ikan kecil asli lokal. Akibatnya, populasi ikan asli menurun drastis karena kalah bersaing.
3. Seekor betina sapu-sapu bisa menghasilkan 19.000 telur per siklus. Dengan tingkat kelangsungan hidup di atas 90% karena dijaga ketat oleh induk jantan, populasi mereka meledak dalam waktu singkat. Akibatnya, ikan-ikan asli suatu wilayah terancam eksistensinya.
Cara Memberantas Ikan Sapu-Sapu
Dilansir penjelasan Dr. Charles PH Simanjuntak, seorang pakar konservasi ikan dari IPB, upaya pemberantasan sapu-sapu harus dilakukan secara terpadu, meliputi:
1. Penangkapan Selektif: Menggalakkan penangkapan ikan berukuran di bawah 30 cm untuk memotong generasi reproduksi. Penangkapan secara sistematis di sepanjang aliran sungai lebih efektif daripada dilakukan secara acak.
2. Predasi Alami (Biokontrol): Memanfaatkan ikan predator lokal seperti baung dan btutu untuk memangsa larva atau anakan sapu-sapu yang masih berukuran kecil (di bawah 1 cm).
3. Edukasi untuk Tidak Melepasliarkan: Masyarakat dilarang keras melepas ikan ini ke alam. Pilihan terbaik jika sudah tidak ingin memelihara adalah menghibahkan ke komunitas atau melakukan pemusnahan secara manusiawi.
4. Pemanfaatan Alternatif: Ikan yang tertangkap dapat diolah menjadi bahan non-pangan, seperti pupuk organik atau bahan pakan ternak setelah melalui pengolahan yang tepat.
Saksikan pembahasan selengkapnya hanya di program detikPagi edisi Jumat (17/4/2026). Nikmati terus menu sarapan informasi khas detikPagi secara langsung langsung (live streaming) pada Senin-Jumat, pukul 08.00-11.00 WIB, di 20.detik.com, YouTube dan TikTok detikcom. Tidak hanya menyimak, detikers juga bisa berbagi ide, cerita, hingga membagikan pertanyaan lewat kolom live chat.
"Detik Pagi, Jangan Tidur Lagi!"
(detikPagi/detikPagi)










































