Misi luar angkasa yang menandai kembalinya astronaut ke bulan, Artemis II telah berakhir pada Jumat lalu (10/4/2026). Keempat astronaut yang tergabung dalam misi tersebut mendarat dengan selamat di Samudra Pasifik.
Setelah berada di luar angkasa selama 9 hari, 1 jam, 32 menit, penerbangan lintas bulan berawak itu akhirnya mempertemukan kembali para astronaut dengan keluarga tercinta. Pada Sabtu (11/4/2026), empat astronaut tersebut hadir di Ellington Field, Johnson Space Center, Houston yang disambut meriah oleh para hadirin.
Administrator NASA yang turut hadir, Jared Isaacman juga menyambut mereka dengan pelukan hangat. Ia bahkan menyebut perjalanan tersebut merupakan yang terbesar sepanjang sejarah umat manusia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pasalnya, penerbangan tersebut berhasil memecahkan rekor dalam penerbangan lintas bulan. Awak pesawatnya terdiri dari 3 perwakilan NASA, Reid Wiseman, Victor Glover, Christina Koch, serta satu orang dari Badan Antariksa Kanada, Jeremy Hansen. Mereka telah berjasa dalam penentuan dasar untuk misi di masa depan.
Namun, ada banyak kesan yang membuat mereka merasa bahwa misi tersebut lebih dari penerbangan bersejarah. Bagi mereka, berbagai cerita dan pengalaman di dalam perjalanan tersebut adalah hal paling istimewa dalam hidup.
"Victor, Christina, dan Jeremy, kita terikat selamanya, dan tidak seorang pun di sini akan pernah tahu apa yang baru saja kita berempat alami," ujar Wiseman dikutip dari CNN Sains, Senin (13/4/2026).
Bumi adalah Rumah Ternyaman
Hal yang tidak mudah juga dirasakan para keluarga dari keempat awak, mereka hanya bisa berharap anggota keluarganya kembali dengan lengkap dan selamat. Makna dari rasa rindu tersebut bukan karena jauhnya jarak yang memisahkan, tapi mereka menyadari betapa istimewanya Bumi sebagai tempat tinggal manusia.
"Sebelum peluncuran, rasanya seperti mimpi terindah di Bumi, dan ketika berada di sana, Anda hanya ingin kembali ke keluarga dan teman-teman Anda. Menjadi manusia adalah hal yang istimewa, dan berada di planet Bumi adalah hal yang istimewa," tuturnya terisak haru.
Bagi Glover, dirinya belum sepenuhnya mampu untuk mencerna apa yang ia dan tim alami di luar angkasa. Namun yang jelas, ia sangat bersyukur dapat terlibat dalam misi luar biasa tersebut.
"Ketika ini dimulai, saya ingin berterima kasih kepada Tuhan di depan umum, dan saya ingin berterima kasih kepada Tuhan lagi, karena bahkan lebih besar dari tantangan saya untuk menggambarkan apa yang telah kami lalui, rasa syukur karena melihat apa yang telah kami lihat, melakukan apa yang telah kami lakukan, dan bersama orang-orang yang bersama saya, itu terlalu besar untuk hanya diungkapkan dalam satu kata," ungkapnya.
Koch merasa bahwa perjalanan ini telah mengajarkannya bagaimana menjadi bagian dari sebuah kru yang sebenarnya. Ia turut menceritakan "momen kemanusiaan" dari pelukan yang ia berikan kepada perawatnya di kapal penyelamat Angkatan Laut.
"Sebuah kru adalah kelompok yang selalu ada, apa pun yang terjadi, yang bekerja bersama setiap menit dengan tujuan yang sama, yang bersedia berkorban secara diam-diam untuk satu sama lain, yang memberi pengampunan, yang bertanggung jawab," kata Koch.
"Sebuah kru memiliki kepedulian dan kebutuhan yang sama, dan sebuah kru tak terpisahkan dari keterikatan yang indah dan penuh tanggung jawab," imbuhnya.
Ia menyaksikan betapa kecilnya Bumi yang berada di tengah kegelapan, saat dilihat dari dari jendela Orion.
"Saya tahu saya belum mempelajari semua hal yang akan diajarkan perjalanan ini kepada saya.Tetapi ada satu hal baru yang saya ketahui, dan itu adalah planet Bumi: Anda adalah sebuah kru," jelasnya.
Kegembiraan dan Cinta
Pada kesempatan tersebut, Hansen juga menuturkan kisahnya bersama tim dalam misi Artemis II ini. Mereka bukan hanya yang pergi ke luar angkasa, tapi juga yang bertugas memantau para astronaut dari Bumi.
Ia dengan bangga mengatakan, perjalanan tersebut dipenuhi dengan kegembiraan yang mereka ciptakan. Meski tidak semua fase dilalui dengan rasa gembira, tapi mereka berkomitmen untuk kembali menciptakan kegembiraan tersebut.
"Kami punya istilah di tim kami yang kami ciptakan sejak lama, 'kereta kegembiraan', dan kedengarannya seperti Anda melihat banyak kegembiraan di sana. Memang ada banyak kegembiraan. Tim ini tidak selalu berada di kereta kegembiraan, ada banyak waktu di mana kami tidak berada di kereta kegembiraan, tetapi kami berkomitmen untuk kembali ke kereta kegembiraan sesegera mungkin. Dan itu adalah keterampilan hidup yang berguna bagi tim mana pun yang mencoba menyelesaikan sesuatu," tutur Hansen.
Selama berada di luar angkasa, para astronaut masih dapat berkomunikasi dengan keluarga mereka melalui panggilan jarak jauh yang singkat. Wiseman mengakui bahwa suatu pengalaman yang membahagiakan, dapat mendengar percakapan rekannya dengan keluarga mereka di dalam pesawat selebar 5 meter tersebut.
"Mendengar rekan kru tertawa cekikikan, menangis, terengah-engah, mendengarkan, dan menyayangi keluarga mereka dari jauh. Telah menjadi pengalaman mempererat ikatan yang "paling menyenangkan," ungkapnya.
Generasi Muda Punya Kesempatan yang Sama
Misi Artemis II akan menjadi perjalanan yang selalu dikenang, setelah sekian lama manusia mendarat lagi di Bulan. Isaacman juga menyampaikan kemungkinan bahwa akan dilakukan misi Artemis III pada tahun 2027 mendatang.
"Awak kru berikutnya akan mulai bersiap untuk memainkan peran mereka saat kita kembali ke permukaan bulan, kita membangun pangkalan dan kita tidak akan pernah menyerahkan bulan lagi," katanya.
Direktur Pusat Antariksa Johnson NASA, Vanessa Wyche juga mengatakan bahwa kegembiraan yang dibagikan para awak Artemis II akan menginspirasi generasi di masa depan.
"Hal ini akan membimbing banyak siswa untuk menjadi ilmuwan, insinyur, penemu, matematikawan, dan astronaut berikutnya yang berani menciptakan cakrawala baru di luar angkasa, dan mendorong batas-batas kemungkinan demi kepentingan semua orang," kata Wyche.
Penulis adalah peserta MagangHub Kemnaker di detikcom.
(nah/nah)











































