Guru Besar UI Tawarkan Solusi Kurangi Risiko Gempa Megathrust di Indonesia, Apa Itu?

ADVERTISEMENT

Guru Besar UI Tawarkan Solusi Kurangi Risiko Gempa Megathrust di Indonesia, Apa Itu?

Nikita Rosa - detikEdu
Kamis, 16 Apr 2026 20:00 WIB
Ilustrasi Gempa Bumi di Indonesia
Ilustrasi Gempa di Indonesia. (Foto: detikcom/Mindra Purnomo)
Jakarta -

Gempa Megathrust kini menjadi sorotan. Usai gempa tergolong Megathrust beberapa waktu lalu, ilmuwan mulai memberi perhatian pada risiko dari gempa ini.

GempaMegathrust adalah gempa bumi tektonik berskala besar yang terjadi di zona subduksi. MenurutBMKG dalamInstagram resminya @infobmkg, ada 13 segmenMegathrust di Indonesia, salah satunya di Selat Sunda.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selat Sunda terakhir melepaskan gempa besar pada tahun 1757. Kemudian segmen Mentawai-Siberut belum aktif sejak gempa tahun 1797.

Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI), Prof Drs Mohammad Syamsu Rosid, menekankan ancaman di Indonesia sebenarnya tidak hanya berasal dari Megathrust, tetapi juga dari gempa-gempa dangkal di daratan yang daya rusaknya tinggi.

ADVERTISEMENT

"Kita tidak boleh hanya terpaku pada megathrust. Gempa di wilayah back-arc seperti Sesar Kendeng dan Sesar Baribis memiliki hiposenter dangkal. Meski energinya lebih kecil, daya rusaknya sangat tinggi, seperti yang kita lihat pada kasus gempa Cianjur 2022," ujarnya dalam laman resmi UI dikutip Kamis (16/4/2026).

Prof Rosid juga menyoroti risiko yang diperparah oleh ulah manusia. Salah satunya adalah penurunan muka tanah di Jakarta yang mencapai lebih dari 10 cm per tahun akibat pengambilan air tanah berlebihan. Fenomena serupa juga terjadi di Danau Toba, di mana permukaan air turun rata-rata 24 mm per tahun selama enam dekade terakhir akibat perubahan iklim dan aktivitas manusia.

"Bumi tidak bernegosiasi. Ketika keseimbangan terganggu, Bumi merespon melalui bencana," ujarnya.

Solusi Risiko Akibat Gempa Megathrust

Sebagai solusi, ProfRosid menawarkan pendekatan berbasis teknologi geofisika seperti metodegeolistrik untuk mendeteksi bidang gelincir di daerah rawan longsor pegunungan, prinsipgeomekanik dalam pengelolaan energi panas Bumi, dan metode VerticalGradiometric Gravity (VGG) untuk memetakan struktur patahan bawah permukaan di wilayah perkotaan.

Menurutnya, bencana geologi bukan hanya persoalan alam, tetapi juga bagaimana manusia berinteraksi dengan alam. Ia menegaskan manusia tidak bisa mencegah gempa Bumi, tapi bisa mengurangi risikonya.

"Kita tidak bisa mencegah gempa, tapi kita bisa mengurangi risikonya melalui ilmu pengetahuan dan kebijakan pembangunan yang berbasis keseimbangan alam," tegasnya.



(nir/pal)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads