Musim Panas Global Datang Lebih Cepat dan Lebih Lama, Bagaimana di Indonesia?

ADVERTISEMENT

Musim Panas Global Datang Lebih Cepat dan Lebih Lama, Bagaimana di Indonesia?

Abdur Rahman Ramadhan - detikEdu
Jumat, 10 Apr 2026 14:00 WIB
Warga berjalan menggunakan payung di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat, Selasa (17/3/2026). Payung digunakan untuk melindungi diri dari terik matahari saat beraktivitas di luar ruangan di tengah cuaca panas.
Warga berjalan menggunakan payung di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat, Selasa (17/3/2026). Foto: Muhammad Farrel / detikfoto
Jakarta -

Banyak dari kita mungkin merasa cuaca panas belakangan ini terasa lebih menyengat dan durasinya seolah tidak kunjung usai. Ternyata, perasaan itu dirasakan warga global.

Sebuah studi terbaru dari University of British Columbia (UBC) mengungkapkan musim panas di seluruh dunia kini datang lebih awal, bertahan lebih lama, dan suhunya jauh lebih panas dibandingkan sebelumnya.

Dilansir dari Phys.org, penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Environmental Research Letters ini menemukan, antara tahun 1990 hingga 2023, rata-rata durasi musim panas bertambah sekitar enam hari per dekade. Angka ini melonjak tajam dibanding penelitian sebelumnya yang hanya mencatat penambahan empat hari per dekade.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Transisi Cuaca yang Semakin Drastis

Salah satu temuan paling mengkhawatirkan dari studi ini adalah perubahan transisi musim yang menjadi lebih mendadak. Alih-alih mengalami pemanasan yang bertahap dari musim semi ke musim panas, suhu tinggi kini datang secara tiba-tiba atau "mengegas" lebih cepat.

ADVERTISEMENT

Fenomena ini dapat mengganggu ekosistem alam, seperti bunga yang mekar sebelum hewan penyerbuk aktif, hingga risiko banjir akibat pencairan salju yang terlalu cepat di wilayah kutub.

Di kota-kota besar dunia, dampaknya sangat nyata. Di Sydney, contohnya, musim panas kini berlangsung selama 130 hari. Durasi ini naik drastis dari 80 hari pada 1990 lalu.

Musim Panas vs Musim Kemarau

Indonesia sendiri tidak mengalami musim panas, tetapi mengalami musim kemarau.

Meskipun sering dianggap sama karena identik dengan suhu udara yang tinggi dan terik matahari, secara ilmiah, musim panas (summer) dan musim kemarau (dry season) memiliki perbedaan mendasar:

  • Musim panas: Terjadi di wilayah beriklim subtropis dan kutub (memiliki 4 musim). Ditentukan berdasarkan posisi bumi terhadap matahari dan durasi siang yang lebih panjang.
  • Musim kemarau: Terjadi di wilayah tropis seperti Indonesia (memiliki 2 musim). Ditentukan berdasarkan jumlah curah hujan yang sangat rendah (kurang dari 60mm per bulan) akibat pengaruh angin monsun.

Sementara itu, keduanya sama-sama mengalami peningkatan intensitas panas akibat perubahan iklim global. Alhasil, durasinya menjadi lebih panjang dan suhunya lebih ekstrem bagi manusia.

Prediksi Musim Kemarau 2026 di Indonesia

Kondisi global sejalan dengan prediksi cuaca di Tanah Air. Berdasarkan data BMKG, sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi akan memasuki musim kemarau pada periode April hingga Juni 2026.

Menariknya, awal musim kemarau tahun ini diprediksi datang lebih awal atau maju di 46,5% wilayah Indonesia, diawali dari wilayah Nusa Tenggara. Tidak hanya datang lebih cepat, akumulasi curah hujan selama musim kemarau 2026 diprediksi berada pada kategori Bawah Normal, yang artinya cuaca akan terasa lebih kering dari biasanya.

Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026, dan mayoritas wilayah Indonesia akan mengalami durasi kemarau yang lebih panjang dari normalnya.

Mengapa Fenomena Ini Berbahaya?

Pergeseran ritme tahunan ini memberikan tantangan besar bagi berbagai sektor kehidupan manusia. Diketahui, banyak sistem pertanian, pasokan air bersih, dan kesehatan masyarakat dibangun berdasarkan asumsi siklus musim yang lama.

Ketika musim panas atau kemarau menjadi lebih panjang dan panasnya terakumulasi lebih cepat, sistem-sistem tersebut terancam kewalahan.

"Temuan ini menantang apa yang selama ini kita yakini sebagai siklus musim yang normal," ujar Ted Scott, pemimpin penelitian dari UBC, dikutip dari Phys.org.

Akumulasi panas di belahan bumi utara bahkan tercatat meningkat tiga kali lebih cepat sejak tahun 1990 jika dibandingkan dengan periode 1961-1990. Hal ini memicu pertanyaan besar bagi para ahli mengenai ketahanan pangan dan kesiapan kebijakan publik dalam menghadapi panas ekstrem yang datang lebih dini.




(rhr/twu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads