×
Ad

Hadapi Dampak Krisis Timur Tengah, IPB Usung Teknologi Ini

Siti Nur Salsabilah - detikEdu
Jumat, 10 Apr 2026 12:00 WIB
Ilustrasi sawah. Foto: Shutterstock
Jakarta -

Gencatan senjata Amerika Serikat-Iran berpotensi batal usai Irael menyerang Lebanon. Iran menyatakan serangan tersebut merupakan pelanggaran berat atas kesepakatan mereka.

Perang di Timur Tengah yang belum juga reda berimbas pada pasokan bahan bakar minyak (BBM) dan sektor pertanian secara global. Diketahui, kawasan Teluk memenuhi 40% kebutuhan nitrogen sebagai penghasil bahan baku pupuk global.

Konflik di kawasan Timur Tengah yang kian memanas mengganggu proses distribusi gas alam (LNG), sebagai bahan baku utama pembuatan pupuk. Dekan Fakultas Pertanian IPB University Prof Suryo Wiyono mengatakan, isu ini turut menyentuh kebutuhan dalam negeri.

"Indonesia masih bergantung pada impor bahan baku. Sekitar 42,89 persen bahan baku pupuk fosfor berasal dari Eropa dan negara-negara Arab yang kini terhambat risiko keamanan serta lonjakan biaya asuransi pengiriman," ucapnya konferensi pers Adaptasi Petani Nusantara Menghadapi Dampak Perang di Timur Tengah, dikutip dari laman kampus, Jumat (10/4/2026).

Merespons isu ini, IPB mengusung alternatif teknologi biointensif.

"Pendekatan ini mencakup budidaya padi biointensif yang mampu mengurangi penggunaan pupuk pabrikan hingga 30 persen dan pestisida hingga 70 persen tanpa menurunkan hasil produksi," kata Suryo.

Apa Itu Teknologi Biointensif?

Ia menjelaskan, konsep sistem biointensif yaitu memanfaatkan keterkaitan antara tanah sehat, mikroba (endofit, PGPR, antagonis), tanaman tahan stres, untuk menghasilkan produktivitas yang berkelanjutan dan stabil. Secara praktik, biointensif dapat dilakukan dengan cara rotasi tanaman, tumpang sari, pupuk hijau, dan sistem organik.

Maka dari itu, teknologi ini dinilai memiliki beberapa manfaat. Di samping, efisiensi penggunaan input, teknologi ini juga berbasis ekologi dengan pemanfaatan mikroorganisme tanah. Penerapannya juga tahan terhadap stres lingkungan dan dinilai berkelanjutan, dengan jejak karbon rendah

Ia menambahkan, teknologi biointensif dibuat dengan bahan baku utama dari lokal dengan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) mendekati 100%. Dalam hal ini, petani juga diminta untuk menggunakan pupuk dan pestisida alami. Selain itu, perlu juga meningkatkan bahan organik tanah untuk menekan penggunaan air dan energi.

"Pada komoditas padi, penerapan teknologi biointensif menunjukkan peningkatan produktivitas hingga 24 persen, penurunan biaya produksi sekitar 20 persen, pengurangan penggunaan pupuk sebesar 30 persen, serta penurunan penggunaan pestisida hingga 77 persen," jelas Prof Suryo.

Hasil uji coba di beberapa daerah seperti Karawang, Subang, Indramayu, Tegal, dan Bojonegoro, menunjukkan bahwa teknologi biointensif lebih efisien dibanding dengan metode konvensional.

"Dengan berbagai keunggulan tersebut, kami menilai teknologi biointensif dapat menjadi solusi strategis dalam menjaga ketahanan pangan nasional di tengah tekanan krisis global," ucapnya.

Daya Ekspor Komoditas Pertanian Melemah

Dampak perang di Timur Tengah ini juga menekan daya ekspor komoditas pertanian seperti mangga, pisang dan manggis. Hal ini dikarenakan pasar ekspor Indonesia yang terbesar kedua dan ketiga, Uni Emirat Arab dan Arab Saudi berada di wilayah Timur Tengah yang saat ini sulit diakses.

Selain itu, petani lokal juga merasakan kesulitan akibat dari kenaikan harga pupuk nitrogen sebesar 32,4%, serta pestisida yang diprediksi akan meningkat 20 hingga 30%. Lonjakan harga BBM juga berdampak pada naiknya biaya produksi pada transportasi dan alat mesin pertanian.

Karena itu, IPB University menawarkan strategi biointensif bagi para petani untuk menekan kerugian. Dalam hal ini, penggunaan energi terbarukan seperti biogas, panel surya, biomassa serta energi angin juga disarankan untuk beralih dari BBM fosil.



Simak Video "Video Prabowo Sebut Kondisi RI Lebih Baik di Tengah Krisis Timteng"

(sls/twu)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork