Program magang Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) RI tidak hanya mencakup magang dalam negeri, melainkan juga magang ke luar negeri. Menaker Yassierli menyebut saat ini sebagian besar peserta program magang luar negeri masih ditujukan ke Jepang.
Walau begitu, Yassierli mengungkap sebetulnya sudah ada permintaan tenaga kerja magang dari negara-negara lain. Namun, ia menyebut biasanya ada kendala terkait bahasa, seperti yang ditemukan di negara Jerman, Turki, dan Taiwan.
"Biasanya isunya itu adalah terkait dengan bahasa, misalnya di Jerman, di Turki, di Taiwan dan seterusnya," kata Yassierli melalui rapat kerja bersama Komisi IX DPR RI pada Kamis (9/4/2026), yang dilansir melalui YouTube TVR Parlemen.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menaker mengatakan pada 2025 pihaknya mengirim hampir 20 ribu orang ke luar negeri sebagai peserta magang, tepatnya 19.327 orang. Ia mengatakan pihaknya ingin tahun ini jumlah tersebut meningkat, sebagaimana instruksi dari Presiden Prabowo.
"Menurut kami ini menjadi salah satu solusi terkait ketenagakerjaan yang kita hadapi saat ini," ucapnya.
Yassierli mengatakan Kemnaker telah memperkuat kerja sama dengan berbagai pihak seperti Dinas Tenaga Kerja, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), hingga institusi pendidikan.
"Dan kemudian kita juga secara aktif mendatangi peluang-peluang penempatan magang di luar negeri yang saat ini kita memang masih fokus di Jepang," ujar Yassierli.
Menaker menerangkan skema magang di laur negeri sebenarnya adalah dalam rangka peningkatan kompetensi. Pasalnya dalam waktu dua tahun, peserta magang luar negeri harus kembali ke Indonesia.
"Dan mereka yang magang di luar negeri itu masih dalam tanggung jawab setting organization. Jadi isu terkait perlindungan itu sebenarnya berbeda dengan mereka yang bekerja di luar negeri karena mereka masih dalam taraf sebenarnya pengembangan kompetensi. Jadi di bawah kontrol, di bawah kendali," jelas Yassierli.
"Dan kami dengan mudah sebenarnya ketika ada kasus misalnya kemarin di Jepang, kita tinggal cek di database kita, ini magang atau bukan," imbuhnya.
(nah/faz)











































