Sebagian wilayah Indonesia memasuki musim kemarau pada April 2026. Kendati demikian, sejumlah daerah masih mengalami hujan deras beserta petir, seperti Aceh, Bandung, dan Bogor beberapa hari terakhir.
Petir sering terlihat saat hujan deras disertai badai. Kilat cahaya yang menyambar dari langit ke bumi ini bukan hanya menakutkan, tetapi juga berbahaya bagi manusia.
Secara ilmiah, petir merupakan pelepasan energi listrik yang sangat besar dari awan ke bumi atau antar awan. Proses ini terjadi karena adanya perbedaan muatan listrik yang besar di atmosfer.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lalu, bagaimana sebenarnya petir terbentuk dan mengapa bisa menyambar bumi? Berikut penjelasan ilmiahnya.
Petir Berasal dari Awan Badai
Petir biasanya terbentuk dari awan badai atau thunderstorm. Awan ini berkembang ketika udara panas di permukaan bumi naik ke atmosfer dan membentuk awan besar yang menjulang tinggi.
Dilansir dari laman Badan Cuaca AS, awan badai mengandung berbagai partikel seperti kristal es, hujan, dan butiran es kecil yang saling bertabrakan. Tabrakan tersebut menghasilkan muatan listrik berbeda di dalam awan.
Kristal es ringan bermuatan positif akan bergerak ke bagian atas awan. Sementara partikel yang lebih berat bermuatan negatif berkumpul di bagian bawah awan.
Akibatnya, bagian bawah awan bermuatan negatif, sementara permukaan bumi di bawahnya menjadi bermuatan positif. Perbedaan muatan inilah yang memicu terbentuknya petir.
Petir Terjadi Saat Muatan Listrik Terlalu Besar
Ketika perbedaan muatan listrik antara awan dan bumi semakin besar, udara yang biasanya menjadi isolator tidak lagi mampu menahan energi listrik tersebut.
Badan Kelautan dan Atmosfer AS (NOAA) dalam laman resminya menjelaskan, petir adalah percikan listrik raksasa yang terjadi ketika muatan listrik dilepaskan secara cepat di atmosfer. Proses ini terjadi sangat cepat, bahkan dalam waktu kurang dari satu detik.
Petir biasanya dimulai dari muatan negatif yang turun dari awan menuju bumi. Pada saat yang sama, muatan positif dari permukaan bumi bergerak ke atas.
Ketika kedua muatan tersebut bertemu, terbentuklah kilatan petir yang terlihat sebagai cahaya terang di langit.
Petir Tidak Selalu Menyambar dari Awan ke Bumi
Tidak semua petir menyambar bumi. Sebagian besar petir justru terjadi di dalam awan atau antar awan.
Dilansir dari Environment and Climate Change Canada, petir dalam awan merupakan jenis yang paling umum terjadi. Untuk setiap satu petir yang menyambar bumi, biasanya terdapat tiga hingga lima petir yang terjadi antar awan.
Selain itu, petir juga bisa terjadi pada fenomena lain seperti badai debu, kebakaran hutan, hingga letusan gunung api. Partikel seperti debu, abu, dan asap dapat menghasilkan muatan listrik yang memicu petir.
Meski demikian, petir yang menyambar dari awan ke bumi tetap menjadi jenis paling berbahaya karena berpotensi menyebabkan cedera, kebakaran, hingga kerusakan infrastruktur.
(rhr/twu)











































