Riset Ungkap Berang-berang Bisa Tangkal Perubahan Iklim, Begini Caranya

ADVERTISEMENT

Riset Ungkap Berang-berang Bisa Tangkal Perubahan Iklim, Begini Caranya

Novia Aisyah - detikEdu
Sabtu, 04 Apr 2026 16:00 WIB
Berang-berang laut berpegangan tangan saat tidur di Vancouver Aquarium, Kanada.
Aktivitas berang-berang ternyata bisa jadi solusi alami atasi perubahan iklim. Bagaimana hewan lucu ini bisa bersumbangsih? Foto: Joe Robertson/Wikimedia Commons
Jakarta -

Berang-berang ternyata memiliki peran dalam mengatasi perubahan iklim. Berdasarkan studi yang dinakhodai Universitas Birmingham belakangan ini, berang-berang mampu mengubah sungai menjadi penyerap karbon dioksida yang efektif.

Diterbitkan dalam jurnal Communications Earth & Environment, studi tersebut mengukur karbon dioksida (CO2) yang dilepaskan maupun yang ditangkap sebagai akibat dari aktivitas berang-berang di lingkungan lahan basah. Para peneliti dari Universitas Birmingham, Universitas Wageningen, Universitas Bern, dan beberapa kolaborator internasional melakukan penelitian di koridor sungai di Swiss utara, tempat berang-berang aktif selama lebih dari satu dekade.

Hasil riset ini menunjukkan lahan basah yang dibentuk oleh berang-berang dapat menyimpan karbon dengan laju hingga sepuluh kali lebih tinggi daripada area serupa tanpa kehadiran mereka. Selama 13 tahun, lokasi tersebut mengakumulasi sekitar 1.194 ton karbon, yang setara dengan 10,1 ton CO2 per hektar setiap tahunnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Daerah Sungai Jadi Penyerap Karbon yang Kuat

Penulis senior utama studi ini, Dr Joshua Larsen dari Universitas Birmingham, mengatakan temuan mereka menunjukkan berang-berang tidak hanya mengubah lanskap sungai. Berang-berang juga secara fundamental mengubah cara CO2 bergerak melalui lanskap tersebut.

Saat berang-berang membangun bendungan, mereka membanjiri lahan di sekitarnya, membentuk lahan basah, mengalihkan aliran air tanah, dan menangkap bahan organik dan anorganik, termasuk CO2. Dengan memperlambat aliran air, menjebak sedimen, dan memperluas lahan basah, berang-berang mengubah aliran sungai menjadi penyerap karbon yang kuat.

Perubahan ini secara signifikan mengubah cara karbon disimpan dan diedarkan dalam ekosistem ini. Penelitian ini dipublikasi dengan tajuk "Beavers can convert stream corridors to persistent carbon sinks".

ADVERTISEMENT

Potensi Berang-berang Jadi Solusi Iklim Eropa

Studi ini menurutnya merupakan terobosan penting untuk solusi iklim berbasis alam di masa depan di seluruh Eropa. Berang-berang kembali ke sungai dan habitat alami di seluruh Eropa setelah bertahun-tahun dilakukan upaya konservasi. Kembalinya mereka menunjukkan betapa kuatnya pengaruh mereka terhadap pergerakan karbon, terutama di aliran hulu.

Temuan menunjukkan, peningkatan populasi berang-berang di wilayah lahan basah yang sesuai dapat memberikan manfaat iklim substansial. Caranya yakni dengan meningkatkan jumlah karbon yang ditangkap dan disimpan, sekaligus membatasi pelepasannya kembali ke atmosfer.

Meneliti Peran Berang-berang

Untuk memahami dampak penuhnya, para peneliti menggabungkan pengukuran hidrologi terperinci, pengujian kimia, analisis sedimen, pemantauan gas rumah kaca, dan pemodelan jangka panjang. Hal ini memungkinkan mereka mengembangkan anggaran karbon terlengkap hingga saat ini untuk lanskap yang dipengaruhi berang-berang di Eropa.

Dikutip dari Science Daily, studi tersebut menemukan lahan basah tersebut berfungsi sebagai penyerap karbon bersih, menyimpan rata-rata 98,3 Β± 33,4 ton karbon setiap tahun. Hal ini sebagian besar didorong oleh penghilangan dan retensi karbon anorganik terlarut di bawah permukaan.

Perubahan musiman juga diamati. Selama musim panas, ketika permukaan air turun dan lebih banyak sedimen terpapar, emisi karbon dioksida (CO2) untuk sementara melebihi penyimpanan, mengubah sistem menjadi sumber karbon jangka pendek.

Namun sepanjang tahun, penumpukan sedimen, materi tumbuhan, dan kayu mati menghasilkan penyimpanan karbon bersih yang signifikan. Emisi metana (CH4) yang sering menjadi perhatian di lahan basah, terminimalisasi dan hanya menyumbang kurang dari 0,1% dari total anggaran karbon.

"Dalam waktu lebih dari satu dekade, sistem yang kami pelajari telah berubah menjadi penyerap karbon jangka panjang, jauh melebihi apa yang kita harapkan dari koridor sungai yang tidak dikelola. Ini menyoroti potensi besar restorasi yang dilakukan oleh berang-berang dan menawarkan wawasan berharga tentang potensi perencanaan penggunaan lahan, strategi rewilding, dan kebijakan iklim," jelas penulis utama studi Dr Lukas Hallberg dari Universitas Birmingham.

Seiring waktu, karbon terkunci di tempatnya karena sedimen menumpuk dan kayu mati terakumulasi di lahan basah yang dibuat oleh berang-berang. Para peneliti menemukan sedimen ini mengandung hingga 14 kali lebih banyak karbon anorganik dan delapan kali lebih banyak karbon organik daripada tanah hutan di sekitarnya.

Lahan Basah Menjadi Penyerap Karbon Jangka Panjang yang Stabil

Kayu mati dari hutan di sepanjang tepi sungai, aliran air, dan lahan basah (dikenal sebagai hutan riparian) membentuk hampir setengah dari karbon yang tersimpan dalam jangka panjang.

Cadangan karbon ini dapat tetap berada di tempatnya selama beberapa dekade. Ini menunjukkan lahan basah yang dimodifikasi oleh berang-berang dapat berfungsi sebagai penyerap karbon jangka panjang yang stabil selama bendungan tetap utuh.

Ketika para peneliti menerapkan temuan mereka ke semua area dataran banjir di Swiss yang cocok untuk rekolonisasi berang-berang, mereka memperkirakan lahan basah ini dapat mengimbangi 1,2-1,8% emisi karbon tahunan negara tersebut. Yang perlu diperhatikan, manfaat ini akan diperoleh tanpa intervensi manusia secara langsung atau biaya tambahan.

Seiring pertumbuhan populasi berang-berang, penelitian lebih lanjut akan sangat penting untuk lebih memahami bagaimana hewan-hewan ini memengaruhi ekosistem dan penyimpanan karbon di masa depan dalam skala yang lebih besar.



(nah/twu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads