Ilmuwan Sebut Hari di Bumi Makin Panjang, Kok Bisa?

ADVERTISEMENT

Ilmuwan Sebut Hari di Bumi Makin Panjang, Kok Bisa?

Callan Rahmadyvi Triyunanto - detikEdu
Jumat, 03 Apr 2026 11:00 WIB
ilustrasi jam malam
Foto: istockphoto/D-Keine/Ilustrasi durasi waktu sehari
Jakarta -

Siklus siang dan malam yang kita alami setiap hari merupakan hasil dari perputaran Bumi pada porosnya. Namun, tahukah detikers bahwa durasi satu hari di Bumi kini perlahan menjadi lebih lama dari biasanya?

Ternyata, ada penjelasan di balik fenomena durasi hari yang lebih panjang. Untuk mengetahuinya, perlu paham terlebih dahulu bahwa perubahan iklim yang dipicu manusia telah menyebabkan mencairnya gletser dan lapisan es secara masif.

Hal ini mengakibatkan massa Bumi bergeser dari kutub menuju khatulistiwa, sehingga rotasi planet kita melambat dan durasi hari pun bertambah. Perubahan kecepatan rotasi Bumi tersebut terjadi dalam skala waktu yang sangat kecil namun signifikan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat ini, durasi hari di Bumi bertambah sekitar 1,33 milidetik per abad, sebuah angka yang jauh lebih besar dan hampir tidak tertandingi selama jutaan tahun terakhir.

Bagaimana Perubahan Iklim Bikin Panjang Hari?

Untuk menjelaskan durasi satu hari yang lebih panjang, para peneliti dari Universitas Wina dan ETH Zurich menggunakan organisme laut purba yang disebut foraminifera untuk memetakan sejarah rotasi Bumi. Organisme bersel satu ini membangun cangkang mineral dari air laut, yang sisa-sisanya tersimpan di dasar samudra selama jutaan tahun sebagai pelacak iklim alami.

ADVERTISEMENT

"Dari komposisi kimia fosil foraminifera, kita dapat menyimpulkan fluktuasi permukaan laut dan kemudian secara matematis menurunkan perubahan panjang hari yang sesuai," jelas Mostafa Kiani Shahvandi, seorang ilmuwan iklim dan geofisika di Universitas Wina, dikutip dari Science Alert.

Dari komposisi kimia fosil foraminifera, ilmuwan dapat menyimpulkan fluktuasi permukaan laut dan menghitung secara matematis perubahan panjang hari selama hampir 4 juta tahun terakhir. Untuk memastikan akurasi data yang penuh ketidakpastian, peneliti menggunakan algoritma deep learning khusus yang menggabungkan prinsip fisika dengan model difusi probabilitas.

Analisis ini mengungkapkan bahwa peningkatan panjang hari yang terjadi saat ini tidak tertandingi selama ribuan tahun. Kecuali beberapa peristiwa iklim ekstrem di masa lalu, laju perubahan rotasi Bumi saat ini terbukti belum pernah terjadi setidaknya sejak akhir zaman Pliosen, sekitar 3,6 juta tahun yang lalu.

Melalui model ini, peneliti menemukan bahwa durasi satu hari mengalami peningkatan, menjadi lebih panjang.

Kenapa Hari di Bumi Bisa Lebih Panjang?

Penelitian mengungkapkan bahwa hari-hari di Bumi secara bertahap menjadi lebih panjang karena adanya pergeseran massa air dari kutub menuju khatulistiwa akibat mencairnya lapisan es global. Hal ini berkaitan dengan cara rotasi Bumi merespons perubahan bentuk planet.

Saat es di kutub mencair dan airnya mengalir ke arah ekuator, bagian tengah Bumi menjadi lebih menonjol (bulge). Fenomena ini mirip dengan seorang penari es (ice skater) yang memperlambat putarannya dengan merentangkan tangan lebar-lebar.

Karena massa Bumi berpindah menjauhi sumbu rotasinya, kecepatan putaran planet pun sedikit melambat. Akibatnya, durasi satu hari di Bumi bertambah panjang sekitar 1,33 milidetik per abad.

Menurut peneliti, meski angka ini terdengar sangat kecil bagi manusia, perubahan tersebut cukup signifikan untuk mengganggu teknologi komunikasi dan navigasi ruang angkasa yang membutuhkan presisi tinggi.

Apakah Hari Akan Terus Panjang?

Berdasarkan pemodelan yang lebih pesimis, tren perlambatan rotasi ini diprediksi akan terus meningkat. Pada akhir abad ke-21, panjang hari diperkirakan bisa bertambah hingga 2,62 milidetik per abad, sebuah nilai yang melampaui pengaruh gravitasi Bulan terhadap lama hari di Bumi.

Peningkatan pesat ini terutama disebabkan oleh pengaruh aktivitas manusia terhadap pemanasan global. Sejak tahun 2000 hingga 2020, laju kenaikan permukaan laut dan perubahan mekanika rotasi planet kita terjadi sangat cepat, hampir menyerupai kondisi 2 juta tahun lalu, namun dengan intensitas yang lebih konsisten.

Secara teknis, kemampuan manusia untuk memengaruhi mekanika rotasi seluruh planet adalah bukti besarnya skala dampak aktivitas kita terhadap alam. Sayangnya, fenomena ini merupakan dampak negatif yang tidak hanya mengubah ritme alami Bumi, tetapi juga secara harfiah membuat hari kerja kita menjadi sedikit lebih panjang.

Penelitian ini sendiri telah terbit di the Journal of Geophysical Research: Solid Earth pada Maret 2026.

Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.




(crt/faz)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads