Sekitar tahun 1990-an, seorang penyelam bernama Roberto Samoya sedang menjelajahi Danau AtitlΓ‘n di Guatemala, Amerika Tengah. Pada ekspedisinya itu, Samoya menemukan artefak Suku Maya yang terisolasi di bawah danau.
Setelah diteliti lebih lanjut, penemuannya ternyata bukan benda-benda biasa. Samoya menemukan sebuah reruntuhan yang cukup besar dan menyadari bahwa itu sebuah permukiman.
Pasca penemuan itu, para arkeolog datang menjelajahi situs tersebut untuk mendapat pemahaman lebih dalam. Benar saja, Samoya merupakan suatu kota milik peradaban Maya yang tenggelam. Para arkeolog menyebutnya Atlantis Maya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kota Pusat Keagamaan Milik Suku Maya
Secara umum, para arkeolog menyebut kota tersebut sebagai Atlantis Maya. Namun, untuk menghormati Roberto Samoya, situs itu dinamai Samabaj seperti yang dikutip dari laman Greek Reporter.
Samabaj merupakan gabungan dari nama Samoya (diambil "Sam") dan kata "abaj" yang berarti "batu" dalam bahasa Maya QuichΓ©. Situs Samabaj terletak di bawah Danau AtitlΓ‘n, di bagian barat daya Guatemala.
Danau AtitlΓ‘n berada di bawah kaldera vulkanik besar yang menurut para ilmuwan terbentuk 80 ribu tahun yang lalu. Di sisi barat danau itu, ada sebuah gunung berapi yang dikenal dengan nama VolcΓ‘n San Pedro.
Setelah diteliti, bukti menunjukkan bila Samabaj dulunya merupakan pusat keagamaan yang penting bagi Suku Maya. Bukti yang dimaksud adalah temuan tempat-tempat suci, monumen, dan jejak artefak pengorbanan manusia.
Bukan kota biasa, Samabaj dulunya berbentuk pulau. Hal ini didasarkan pada jejak garis pantai kuno dan temuan adanya tiga dermaga.
Banyak peneliti percaya bahwa para peziarah sering mengunjungi pulau itu untuk mengikuti festival atau upacara keagamaan Suku Maya.
Kenapa Bisa Tenggelam?
Disebutkan Samabaj banyak dikunjungi peziarah sejak abad ke-5 SM. Namun, sekitar tahun 250-300 M, tempat itu ditinggalkan dan akhirnya tenggelam.
Para ahli berspekulasi, penyebab pulau Samabaj bisa tenggelam karena kondisi alam. Danau tersebut dekat dengan gunung berapi besar dengan aktivitas vulkanik.
Salah satu teori menyebutkan bahwa sekitar tahun 250 M, gunung berapi itu meletus dan membuat batuan dan puing-puing jatuh hingga ke saluran keluar danau. Akibatnya, drainase alami yang selama ini menjadi jalan masuk air tertutup.
Dengan curah hujan dan aliran sungai yang terus mengalir ke danau, permukaan air naik secara bertahap. Akhirnya, Pulau Samabaj tenggelam hingga ke dasar danau.
Mirip dengan Atlantis?
Terdapat beberapa kesamaan antara Samabaj dengan legenda Yunani tentang Atlantis. Kesamaan yang dimaksud adalah menjadi pusat keagamaan dan sering dikunjungi oleh banyak orang.
Kesamaan yang paling mencolok adalah Atlantis tenggelam ke dasar laut dan Samabaj tenggelam ke dasar danau. Kemiripan-kemiripan inilah yang membuat Samabaj disebut sebagai "Atlantis"-nya Suku Maya.
Meski disebut demikian, pada dasarnya Samabaj dan Atlantis adalah dua hal yang berbeda. Legenda Atlantis dituliskan oleh Plato pada abad ke-4 SM dan Samabaj baru tenggelam berabad-abad setelah Plato menulis kisah Atlantis.
Berbeda dengan Atlantis yang digambarkan tenggelam dalam satu hari-satu malam, Samabaj kemungkinan besar tenggelam dalam waktu yang cukup lama. Ahli memperkirakan sekitar beberapa minggu atau bulan.
Bukti yang ada juga menunjukkan bahwa ada barang-barang berharga di pulau tersebut yang dipindahkan. Hal ini mengindikasikan penduduk punya cukup waktu untuk mengungsi.
Kendati demikian, beberapa ahli tetap bak memiliki "teori konspirasi" terkait hubungan Samabaj dan Atlantis. Beberapa orang berspekulasi Samabaj mungkin berisikan orang-orang yang mengungsi dari Atlantis.
Oleh karena itulah, danau yang ada di pulau itu disebut AtitlΓ‘n. Mereka yang mendukung teori ini percaya bahwa AtitlΓ‘n merupakan perubahan dari "Atlantis" untuk mengenang tempat tinggal mereka dahulu. Sayangnya, tidak ada bukti yang mendukung gagasan ini.
Para ahli memahami bahwa "AtitlΓ‘n" berasal dari dua kata dalam bahasa Nahuatl yang berarti "air" dan "antara". Arti kata tersebut memberikan penjelasan yang logis untuk kondisi nama danau tersebut, yakni sebuah air di antara (daratan atau gunung).
Penjelasan inilah yang kemudian menghilangkan teori konspirasi yang mengaitkan Samabaj dengan Atlantis sebagai asal-usulnya.










































