Dipuji Berlebihan Bisa Membentuk Anak yang Narsistik? Ini Bahayanya

ADVERTISEMENT

Dipuji Berlebihan Bisa Membentuk Anak yang Narsistik? Ini Bahayanya

Siti Nur Salsabilah - detikEdu
Sabtu, 04 Apr 2026 09:00 WIB
Ilustrasi ibu dan anak
Foto: Getty Images/urbazon/Ilustrasi ibu dan anak
Jakarta -

Narsis dan narsistik tidaklah sama. Narsis mengacu pada perilaku umum mencintai diri sendiri, sedangkan narsistik termasuk gangguan kepribadian yang bisa berbahaya. Benarkah narsistik bisa muncul sejak kecil?

Mengutip BBC Science Focus, narsistik (gangguan kepribadian) bisa disebabkan oleh pola asuh. Anak yang terlalu dipuji-puji berlebihan dan sering diberi tahu bahwa dia istimewa bisa memicu gangguan kepribadian narsistik.

Alih-alih mendorong rasa percaya diri anak, pujian terus-menerus kepada anak bisa berdampak tidak sehat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Memuji Anak dengan Berlebihan Justru Berbahaya?

Sebuah studi pada 2015 menunjukkan bahwa narsisme muncul dari pujian berlebihan orang tua kepada anaknya dan bukan disebabkan oleh kurangnya perhatian. Anak-anak yang terbiasa menerima pujian dari orang tua mereka justru lebih mudah rapuh karena kepercayaan diri yang mereka bangun di atas pujian.

Biasanya, anak yang terbiasa dipuji terus-menerus oleh orang tuanya akan tumbuh menjadi orang yang haus validasi dari orang lain. Sementara anak yang dididik dengan pola asuh pujian sewajarnya, akan tumbuh dengan percaya diri yang sehat meski tanpa validasi orang lain.

ADVERTISEMENT

Psikoanalis asal New York, Dr Anthony Mazella, menjelaskan bahwa pujian berlebih pada anak perlahan-lahan mengganggu perkembangan anak secara alami. Saat anak beranjak dewasa, mereka akan belajar sedikit demi sedikit untuk hidup terpisah dari orang tua. Itu artinya kedua orang tua tidak akan selalu hadir dalam setiap proses pendewasaan pada anak.

"Hal itu memang bisa sangat membuat frustrasi dan sulit ditoleransi, tetapi itu adalah bagian penting dari perkembangan yang kita sebut membangun 'toleransi terhadap frustrasi'," ujar Mazella, dilansir BBC Science Focus.

Jika seorang anak tumbuh tanpa kemampuan toleransi terhadap frustrasi, maka ia akan hidup dengan 'diri palsu'. Kepribadian yang tumbuh untuk memenuhi ekspektasi orang lain dan mempertahankan perkataan orang tua mereka.

Pujian yang wajar dari orang tua, misalnya, "Kamu harus bangga pada dirimu sendiri". Kalimat sederhana itu mampu menjaga fokus anak untuk terus berusaha menjadi yang terbaik dalam versi mereka sendiri. Nantinya, anak akan merasa lebih percaya diri dibandingkan dengan mengharapkan validasi orang lain.

Saat orang tua terlalu memanjakan anak dengan pujian, mereka justru menyulitkan anak untuk mengembangkan kemampuan ketahanan dan toleransi terhadap frustrasi. Inilah yang menyebabkan seorang anak tumbuh dengan "jati diri palsu" karena usahanya ditujukan untuk memenuhi harapan orang tua.

Apakah Narsistik Terkait dengan Psikopat?

Hal ini tidak pernah diduga oleh para orang tua: pujian yang menumbuhkan sifat narsis pada anak mereka, yaitu narsisme, masuk dalam kelompok gangguan kepribadian seperti psikopat atau sosiopat.

"Kita sering berpikir bahwa psikopati, narsisisme, atau sifat-sifat gelap lainnya muncul akibat pelecehan dan pengabaian," ujar Dr Ava Green, dosen psikologi forensik di City St George's, University of London.

Green mengungkap bahwa narsisme lahir dari kebiasaan anak untuk dimanjakan. Akibat dari dimanja berlebihan pada anak adalah menciptakan citra diri yang manja dan berlebihan: versi fantasi diri yang mati-matian ingin diwujudkan oleh anak-anak, sering kali dengan mengorbankan kepercayaan diri yang sebenarnya.

Narsisme dan psikopat saling terkait satu sama lain, yaitu sama-sama minim empati. Saat keduanya bertemu, sifat yang tercipta akan sangat buruk, sama seperti saat sikap angkuh bertemu dengan manipulatif. Dalam hal ini, mereka merasa berhak untuk mengabaikan orang lain atau tebar pesona tanpa rasa bersalah.

Gangguan kepribadian Narsistik (NPD) juga dapat disebabkan oleh faktor genetik, neurobiologis, hingga lingkungan. Berdasarkan sebuah penelitian, pelecehan dan pengabaian yang menimbulkan gangguan lain meningkatkan kemungkinan seorang anak tumbuh dengan sikap NPD.

Mengenali Ciri-ciri Awal dari Perilaku Narsistik

Meski psikolog menyampaikan untuk tidak mendiagnosis gangguan kepribadian pada anak sebelum remaja, ciri-cirinya dapat dilihat sedini mungkin. Itu termasuk sikap anak yang selalu ingin jadi pusat perhatian.

Sering kali anak-anak terlihat menjadi manipulatif untuk mengalihkan perhatian orang tua atau teman sebaya. Pola umum lainnya yaitu saat mereka begitu mendambakan kasih sayang, tapi juga sering menolaknya begitu saja. Ciri-ciri tersebut dapat terlihat sejak usia dini, namun belum mendapat diagnosis secara formal.

"Kita bisa mengatakan ada sifat-sifat yang mulai berkembang sejak usia sangat dini, dan tragedinya adalah sifat-sifat itu sering diabaikan sementara masalah keterikatan yang mendasarinya tidak terdeteksi," ujar Green.

Orang tua bisa melakukan hal berikut ini untuk mengantisipasi narsistik anak sejak dini:

1. Memuji usaha anak, bukannya bakat atau bawaan.

2. Dibandingkan dengan mengatakan "kamu sangat pintar", lebih baik berkata "Kamu telah bekerja keras untuk itu."

3. Menumbuhkan rasa bangga dalam diri anak.

4. Lebih baik mengatakan "Kamu harus merasa bangga pada dirimu sendiri" dibandingkan "Aku bangga padamu."

5. Toleransi rasa frustrasi

6. Biarkan anak mengalami kegagalan dan kemudian mengambil pelajaran dari situ.

7. Tunjukkan sikap hangat

8. Ekspresikan rasa cinta dan kasih sayang dengan bebas, tanpa mengubahnya menjadi hierarki nilai.

Langkah-langkah ini membantu anak menjadi pribadi tangguh, karena rasa berharga yang stabil dan terinternalisasi. Alih-alih citra diri yang rapuh karena membutuhkan validasi eksternal yang menimbulkan sifat narsisme.

Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.



(sls/faz)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads