Bumi pernah mengalami penurunan suhu ekstrem hingga dunia tertutup oleh es setelah dinosaurus punah. Kenapa zaman es tersebut bisa terjadi?
Penelitian yang terbit di Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) pada 9 Januari 2026 mencoba menelusuri apa penyebab penurunan suhu ekstrem bisa terjadi di Bumi. Tim ahli internasional yang dipimpin oleh Universitas Southampton menemukan bahwa konsentrasi kalsium di laut telah menurun lebih dari setengahnya selama 66 juta tahun terakhir.
Menurut studi, pergeseran kalsium yang dramatis mungkin telah menyerap karbon dioksida-gas rumah kaca utama-dari atmosfer, sehingga mendorong pendinginan global.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Perubahan besar dalam komposisi kimia air laut mungkin merupakan pendorong utama perubahan iklim," kata Penulis utama, Dr David Evans, seorang ilmuwan kelautan dan bumi dari Southampton, dikutip dari Phys.org.
Bagaimana Lautan Mampu Menyimpan Banyak Karbon?
Model buatan komputer yang digunakan peneliti menunjukkan, kadar karbon yang tinggi di lautan akan diserap oleh ekosistem laut seperti kerang dan plankton. Karbon tersebut kemudian "terkunci" dan tersimpan bersama sedimen di dasar laut.
"Seiring menurunnya kadar kalsium terlarut selama jutaan tahun, hal itu mengubah cara organisme-organisme ini memproduksi dan mengubur kalsium karbonat di dasar laut. Proses ini secara efektif menarik karbon dioksida dari atmosfer dan menyimpannya di dalam," ujar Dr. Xiaoli Zhou, rekan penulis dari Universitas Tongji, China.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada masa awal Senozoikum-periode setelah punahnya dinosaurus, kalsium terlarut di lautan mencapai dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan sekarang. Saat kadar kalsium di laut menurun, lautan akan melepas lebih banyak karbon ke atmosfer.
Penurunan kadar CO2 yang terserap di atmosfer berdampak pada suhu bumi yang turun hingga 15-20 derajat Celsius. Penelitian terkait perubahan iklim Bumi pada masa Senozoikum melibatkan sejumlah ilmuwan asal China, AS, Israel, Denmark, Jerman, Belgia, dan Belanda.
Para ilmuwan menganalisis sisa fosil makhluk kecil yang ditemukan pada lapisan sedimen di dasar laut. Komposisi kimia dari fosil makhluk laut itu disebut foraminifera, yang menunjukkan keterkaitan erat antara kalsium di laut dengan karbon dioksida di udara. Hal inilah yang menempatkan studi tersebut sebagai catatan kimia laut paling detail.
Perubahan Iklim Menyebabkan Penyebaran Dasar Laut Terhambat
Penyebaran dasar laut adalah aktivitas vulkanik di dasar laut yang membentuk dasar laut baru. Saat proses penyebaran dasar melambat, dapat menyebabkan perubahan dalam proses kimia antara batu dan air laut. Perubahan ini kemudian menyebabkan penurunan bertahap konsentrasi kalsium terlarut di lautan.
"Kimia air laut biasanya dipandang sebagai sesuatu yang merespons faktor-faktor lain yang menyebabkan perubahan iklim kita, bukan sebagai penyebab itu sendiri," ujar Profesor Yair Rosenthal dari Universitas Rutgers, Amerika Serikat.
"Namun, bukti baru kami menunjukkan bahwa kita harus memperhatikan perubahan kimia air laut untuk memahami sejarah iklim planet kita," imbuhnya.
Menurut peneliti, kemungkinan perubahan pada proses-proses yang berlangsung di kedalaman bumi ini yang kemudian menyebabkan perubahan iklim besar dalam sejarah geologi bumi.
Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.
(sls/faz)











































