Selat Bab el-Mandeb diharapkan menjadi alternatif jalur kapal tanker minyak dan kapal kargo di tengah perang AS-Israel-Iran. Sebelumnya, perang ini membuat Iran menutup Selat Hormuz bagi kapal-kapal negara lawannya.
Berdasarkan Badan Informasi Energi AS (EIA), Selat Bab el-Mandeb juga merupakan jalur pengiriman minyak dunia sebelum perang tersebut berlangsung. Sekitar 12 persen minyak dunia melalui selat ini, dikutip dari ABC News.
Selat Kecil tapi Penting
Selat Bab el-Mandeb hanya selebar 32 km. Selat ini memisakan Yaman di timur dan Eritrea dan Djibouti di barat. Secara garis besar, garis ini juga memisahkan Asia dengan Afrika. Selat ini menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan Samudra Hindia, dikutip dari Encyclopaedia Britannica.
Selat ini menjadi penghubung utama Eropa dan Asia untuk kapal tanker minyak dan kapal kargo. Jalur bersejarah ini memungkinkan perdagangan antara Asia dan Eropa lewat Laut Mediterania tanpa harus memutari Afrika.
Selat Bab el-Mandeb merupakan chokepoint atau titik sempit tersibuk ketiga perdagangan minyak global.
Risiko Jika Selat Bab el-Mandeb Diblokade
Pada Maret 2026, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan, mereka akan meminta sekutunya, militan Houthi dari Yaman yang anti AS-Israel untuk memblokade Selat Bab el-Mandeb. Cara ini dapat menambah tekanan pada pasar global, sehingga memperbesar tekanan internasional terhadap AS dan Israel.
Ekonom transportasi di Bank ING, Rico Luman memperingatkan, kebijakan di selat ini akan mengakibatkan kesuraman di kawasannya sendiri maupun perekonomian global, seperti namanya.
Nama Selat Bab el-Mandeb sendiri dalam bahasa Arab berarti Gerbang Air Mata. Nama ini muncul karena pada masa lalu, pelayaran di kawasan ini sangat berisiko.
1. Jalur Minyak Memutar
Ia menjelaskan, jika kebijakan selat Bab el-Mandeb dipersulit, kapal-kapal akan terpaksa memutari Benua Afrika, lewat Tanjung Harapan. Akibatnya, perjalanan minyak jadi bertambah beberapa minggu atau hingga satu bulan lebih. Alhasil, biaya rantai pasokan global jadi naik.
Sementara itu, beberapa jalur minyak sendiri saat ini juga sudah dialihkan eksportir, antara lain lewat Laut Merah.
"Menjadi sekitar 3-4 kapal tanker tambahan per hari, yang relatif cukup banyak," ucapnya pada AFP.
Selaras, peneliti di Deakin University, Ali Mamouri mengatakan pentingnya jalur minyak di selat Bab el-Mandeb mungkin akan digunakan Iran untuk menekan AS.
"(Iran) mau mengontrol dan memoderasi eskalasi pergerakan ini," ucapnya.
"Mereka mengeluarkan kartu satu per satu, dan masih ada banyak lagi kartu yang akan mereka buka," imbuh Mamouri.
2. 5 Juta Barel Minyak Terhambat Per Hari
Profesor rantai pasokan Michigan State University, Jason Miller memperkirakan, dengan dukungan militan Houthi dari Yaman, pergerakan kapal minyak pengangkut minyak mentah bisa makin terhambat sekitar 5 juta barel lagi per hari.
"Kalau (ketegangan AS-Israel-Iran) masih berlangsung 1-2 bulan lagi, dan Laut Merah juga ditutup, beginilah kira-kira situasi mengerikan yang akan kita hadapi," ucapnya.
Di Selat Hormuz sendiri, diperkirakan sudah sekitar 16-20 juta barel minyak per hari terhambat lantaran blokade. Angka ini setara dengan 20 persen suplai minyak harian dunia.
Simak Video "Video Selat Bab el-Mandeb: Penyelamat Minyak Dunia atau Jebakan Baru di Tengah Konflik?"
(twu/nah)