Sampai hari ini, perang antara Iran dan Amerika Serikat (AS)-Israel belum juga reda. Meski kedua negara saat ini tidak menggunakan senjata nuklir, kemungkinan ancaman mematikan itu masih membayangi.
Hal yang paling bahaya justru efek jangka panjang dari nuklir. Pasalnya, dampak yang ditimbulkan akan mengguncang keseimbangan dunia secara menyeluruh, yang disebut dengan nuclear winter atau "musim dingin nuklir." Lantas seberapa parah efeknya?
Akibat dari Musim Dingin Nuklir
Musim dingin nuklir adalah skenario di mana sebagian besar jelaga yang berasal dari kota yang terserang langsung, memenuhi atmosfer dan menghalangi sinar matahari dalam waktu yang lama. Penjelasan ini dicetuskan oleh astronom Amerika Carl Sagan, yang juga mencetuskan istilah "musim dingin nuklir."
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hilangnya sinar matahari, matinya sistem pertanian, dan putusnya rantai pasokan makanan, lebih mengancam kelangsungan hidup manusia. Berbagai skenario yang telah dipelajari menunjukkan, akan terjadi kematian massal akibat kelaparan massal di musim dingin nuklir.
Seorang jurnalis sekaligus penulis buku Nuclear War: A Scenario, Annie Jacobsen telah menggambarkan dalam tulisannya tentang dampak buruk dan mengerikan dari perang nuklir bilamana terjadi.
"Pertanian akan gagal, dan ketika pertanian gagal, orang-orang akan mati. Selain itu, ada juga keracunan radiasi karena lapisan ozon akan sangat rusak dan hancur sehingga Anda tidak bisa berada di luar ruangan di bawah sinar matahari - orang-orang akan terpaksa tinggal di bawah tanah," ujar Jacobsen dikutip dari ZME Science (25/3/2026).
Kehancuran tidak hanya disebabkan oleh perang nuklir berskala besar, tapi juga konflik sekalipun kecil. Model matematika sederhana yang digunakan juga mengkhawatirkan dampak global yang bisa memengaruhi tempat-tempat yang jauh dari ledakan.
Bahkan, penelitian tahun 2025 telah menyebut,"Sepuluh kali lebih banyak orang dapat meninggal (akibat dampak musim dingin nuklir) di negara-negara yang jauh dari konflik, daripada yang akan meninggal akibat ledakan, kebakaran, dan radiasi yang mengerikan secara langsung di negara-negara target."
Parahnya, negara dengan produksi pangan terbesar (AS, China, Rusia) dapat lumpuh hampir seluruhnya dan ekosistem lautnya menjadi terganggu. Berdasarkan catatan studi tahun 2022, lebih dari 5 teragram jelaga akan melumpuhkan sumber pangan global.
Pemodelan lain menunjukkan perang nuklir antara AS dan Rusia yang melibatkan 4.400 senjata nuklir 100 kiloton yang terutama ditujukan ke pusat-pusat populasi dan daerah industri, akan menghasilkan 150 teragram (lebih dari 330 miliar pon atau 30 kali lebih banyak dari ambang batas untuk keruntuhan pertanian).
Pada bulan pertama pasca konflik nuklir, suhu bumi akan menurun sekitar 7 derajat Celcius. Perubahan suhu ini diperkirakan lebih dramatis dari Zaman Es terakhir.
Selain itu, suhu laut juga mencapai titik beku bahkan saat jelaga mulai menghilang dari atmosfer. Kondisi ini berdampak pada perdagangan global yang terancam terputus.
Kendati demikian, ada dua negara kepulauan yang paling aman jika skenario buruk ini terjadi. Dalam sebuah studi pada 2022 bertajuk "Island refuges for surviving nuclear winter and other abrupt sunlight-reducing catastrophes" oleh Matt Boyd dan Nick Wilson, dua negara yang dimaksud adalah Australia dan New Zealand.
Mengapa Australia dan Selandia Baru?
Australia dan Selandia Baru diuntungkan dengan letak geografis mereka yang ada di belahan bumi selatan. Hal tersebut ditemukan setelah peneliti membandingkan 38 negara dari segi lokasi, sumber pangan, infrastruktur, sumber energi, dan ketahanan sosial. Selain itu, sebagian besar serangan nuklir dan kebakaran besar karena jelaga terkonsentrasi di area berlawanan.
Namun, posisi geografis bukanlah satu-satunya alasan mengapa kedua negara itu dapat lebih aman. Australia dan Selandia Baru juga terbukti memiliki sistem ketahanan pangan yang luar biasa tangguh.
Studi tersebut mencatat, Australia memiliki potensi besar untuk berkembang dan menyediakan pangan bagi puluhan juta tambahan orang. Negeri kanguru itu juga memiliki kualitas infrastruktur yang baik dan sistem kesehatan terbaik nomor dua di dunia. Mereka juga telah surplus energi dalam skala besar serta memiliki dana pertahanan 3 kali lipat lebih tinggi.
Sementara Selandia Baru lebih mencolok di sektor pertanian yang mampu menghasilkan lebih banyak bahan pangan dari jumlah penduduknya. Mereka memperoleh hasil sekitar 90-95% dari tanaman, susu, dan daging ekspor.
Maka tidak heran, jika negara tersebut mampu bertahan saat musim dingin nuklir melanda. Secara teori, negara tersebut dapat memenuhi lebih dari setengah kebutuhan pangan warganya.
Selain sektor pangan, lautan yang mengitari Selandia Baru juga berperan sebagai penstabil iklim, dengan menyerap dan menyebarkan kembali panas. Proses ini dapat menurunkan suhu ekstrem yang melanda sejumlah benua besar, serta mendorong sektor pertanian.
Meski masih ada dua negara ini yang dinilai aman pasca perang nuklir, tetap saja yang terbaik adalah tidak terjadi konflik tersebut. Apabila kedua negara tersebut bergantung pada bahan bakar dan pupuk impor, maka keseimbangan sistem pangan mereka juga akan terganggu.
Jadi, saat perang dunia benar-benar pecah, maka sebenarnya tidak ada satu negara pun yang benar-benar aman.
Penulis adalah peserta magang Kemnaker.










































