Paparan Radiasi Alam Mamuju Capai 9 Kali Rerata Dunia, Disorot Laporan PBB

Paparan Radiasi Alam Mamuju Capai 9 Kali Rerata Dunia, Disorot Laporan PBB

Pasti Liberti Mappapa - detikEdu
Senin, 02 Mar 2026 20:32 WIB
Balai Kota Mamuju. Hafis Hamdan/detikcom
Ilustrasi Kota Mamuju Sulawesi Barat. Hafis Hamdan/detikcom
Jakarta -

Wilayah Mamuju, Sulawesi Barat, dilaporkan menerima paparan radiasi alam hampir sembilan kali lipat di atas rata-rata global.

Fakta ini tercantum dalam UNSCEAR 2024 Report - Annex B, yang dipublikasikan dalam daftar Latest Publications per 12 Februari 2026 oleh United Nations Scientific Committee on the Effects of Atomic Radiation (UNSCEAR).

Laporan tersebut memuat evaluasi tingkat paparan radiasi pengion yang diterima masyarakat di berbagai belahan dunia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perwakilan Indonesia untuk UNSCEAR sekaligus Peneliti Ahli Madya di Pusat Riset Teknologi Keselamatan, Metrologi, dan Mutu Nuklir (PRTKMMN) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Nur Rahmah Hidayati, menjelaskan Mamuju dikategorikan sebagai High Natural Background Radiation Areas (HNBRA) atau wilayah dengan radiasi latar belakang alami tinggi.

Dalam laporan tersebut, estimasi dosis efektif tahunan dari radiasi alam di Mamuju mencapai sekitar 27 milisievert (mSv) per tahun. Sebagai pembanding, rata-rata paparan radiasi alam global hanya berkisar 3,0 mSv per tahun.

ADVERTISEMENT

"Artinya, paparan radiasi yang diterima masyarakat Mamuju hampir sembilan kali lebih besar dibandingkan rata-rata dunia," ujar Nur Rahmah, dalam keterangan tertulis BRIN yang dituliskan detikEdu, Selasa (3/3/2026).

UNSCEAR adalah komite ilmiah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang sejak 1955 memiliki mandat menilai tingkat dan dampak paparan radiasi pengion terhadap kesehatan manusia dan lingkungan secara global.

Sementara PRTKMMN-Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN) BRIN memiliki tugas dan fungsi melakukan riset terkait keselamatan dan kaji efek radiasi di Indonesia.

Dipicu Kandungan Uranium dan Thorium Tinggi di Tanah

Nur Rahmah mengungkapkan, tingginya radiasi di wilayah tersebut terutama dipicu oleh kandungan uranium dan thorium yang sangat tinggi di dalam tanah.

Konsentrasi isotop ²³⁸U dan ²³²Th di sejumlah titik di Mamuju tercatat mencapai ratusan hingga lebih dari 1.000 becquerel per kilogram (Bq/kg), jauh melampaui rata-rata global yang masing-masing berada di kisaran 33 Bq/kg dan 45 Bq/kg.

Selain itu, kadar radon di udara luar ruangan di Mamuju dilaporkan berkisar antara 22 hingga 760 Bq/mΒ³, dengan nilai rata-rata sekitar 290 Bq/mΒ³. Menurut Nur Rahmah, angka tersebut tergolong sangat tinggi dan menjadi kontributor utama terhadap dosis radiasi yang diterima penduduk setempat.

Meski demikian, karakteristik bangunan dan pola hidup masyarakat lokal dinilai berperan dalam menekan akumulasi radon di dalam rumah. Ventilasi alami serta struktur bangunan tradisional membuat konsentrasi radon di dalam ruangan tidak meningkat secara signifikan dibandingkan lingkungan luar.

"Wilayah dengan radiasi alam tinggi seperti Mamuju memiliki nilai penting bagi dunia ilmiah, terutama sebagai lokasi penelitian untuk memahami dampak paparan radiasi rendah dalam jangka panjang terhadap kesehatan manusia," ujar Rahmah.




(pal/nwk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads