Rendang, opor, dan berbagai jenis kue kering menjadi makanan khas yang kerap tersaji saat Hari Raya Idul Fitri. Tapi, tahukah detikers, mana yang lebih sering dimakan perempuan di Indonesia?
Pertanyaan itu dijawab lewat studi oleh peneliti Fikri Al Mukhlas, Linda Riski Sefrina, Eka Andriani dari Universitas Singaperbangsa Karawang; dan Adriyan Pramono dari Universitas Diponegoro. Dipublikasi 23 Maret 2025 lalu, hasil studi mereka terbit di di jurnal Discover Food.
Hasil studi mereka menunjukkan, sebagian besar perempuan di Indonesia melaporkan kurang mengonsumsi buah dan sayur saat lebaran. Namun, bila dibandingkan makanan khas lebaran lain, kue kering lebih sering dimakan dibandingkan opor dan rendang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Studi tersebut juga menemukan jenis kelamin, usia, pendidikan, dan wilayah tempat tinggal secara signifikan memengaruhi pilihan makanan dan aktivitas fisik saat lebaran.
"Studi ini bertujuan untuk menilai frekuensi konsumsi makanan dan aktivitas fisik di kalangan Muslim Indonesia selama Idul Fitri melalui survei daring," ungkap peneliti.
"Dengan menganalisis perilaku ini, studi ini berupaya memahami pengaruh praktik keagamaan terhadap kebiasaan makan dan aktivitas fisik, serta potensi implikasi kesehatan selama Idul Fitri," sambungnya.
Menggali Konsumsi Saat Lebaran
Studi ini diikuti oleh 533 responden usia 18-65 tahun antara hari kelima hingga ketuju lebaran dengan mengisi kuisioner secara daring. Peserta direkrut melalui metode pengambilan sampling sukarela dan mewakili 20 provinsi di Indonesia.
Ke-20 provinsi tersebut yaitu Jawa Barat, Jakarta, Sumatera Selatan, Yogyakarta, Bengkulu, Kepulauan Riau, Banten, Jawa Tengah, Kalimantan Selatan, Lampung, Jawa Timur, Jambi, Kalimantan Timur, Sulawesi Tenggara, Sumatera Barat, Kalimantan Tengah, Sumatera Utara, Riau, Nusa Tenggara Barat, dan Bangka Belitung.
Tautan survei disebarluaskan melalui platform media sosial, termasuk Facebook, WhatsApp, dan Instagram. Survei ini memuat 6 bagian, yakni:
1. Konfirmasi persetujuan untuk berpartisipasi dalam survei.
2. Informasi sosiodemografis (jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, pulau asal, status pekerjaan, dan pendapatan bulanan).
3. Frekuensi konsumsi makanan (buah-buahan, sayuran, rendang, opor, kue, dan minuman manis) selama minggu Idul Fitri.
4. Tinggi dan berat badan yang dilaporkan sendiri.
5. Total menit aktivitas fisik dalam seminggu.
6. Alasan rendahnya konsumsi buah dan sayuran.
Penulis menggunakan analisis tabulasi silang untuk menguji frekuensi dan persentase konsumsi makanan serta tingkat aktivitas fisik di berbagai kelompok sosiodemografis.
Konsumsi makanan dikategorikan menjadi dua kelompok, yakni kurang dari 2 kali per hari (<2kali/hari) dan lebih dari atau sama dengan 2 kali per hari (β₯ 2 kali/hari).
Peneliti mendapati, partisipan dalam penelitian tersebut sebagian besar adalah perempuan, berusia 18-35 tahun, berasal dari Jawa, memiliki setidaknya gelar sarjana, dan berpendapatan bulanan lebih dari Rp 3,5 juta.
Sebagian besar responden adalah aparatur sipil negera (ASN, 25,7%), karyawan swasta (18,9%), wiraswasta (7,9%), pekerja lepas (7,5%), pekerja kasar (0,6%), dan mahasiswa (34,5%).
Berdasarkan tinggi dan berat badan yang dilaporkan secara mandiri, sekitar setengah dari partisipan memiliki indeks massa tubuh (BMI) normal. Sedangkan, sebanyak 30,2% responden diklasifikasi kelebihan berat badan atau obesitas, dan sisanya kurang dari BMI.
Lebaran: Kurang Buah-Sayur, Lebih Sering Kue
Dalam hal konsumsi, mayoritas peserta melaporkan mengonsumsi buah dan sayur kurang dari dua kali sehari. Menariknya, meskipun opor dan rendang adalah hidangan tradisional lebaran, hanya sepertiga peserta yang mengonsumsinya β₯ 2 kali/hari.
"Pola konsumsi serupa tampak pada minuman manis. Sebaliknya, hampir 60% peserta melaporkan mengonsumsi kue β₯ 2 kali/hari," tulis peneliti.
Tim peneliti juga menganalisis pola konsumsi berdasarkan data sosiodemografis dan BMI. Hasilnya menunjukkan, peserta dari Kalimantan memiliki pola konsumsi yang berbeda dalam hal sayuran dan kue.
Kendati sampelnya lebih kecil daripada sejumlah daerah lain, responden di Kalimantan menunjukkan mereka lebih sering makan sayur dan lebih jarang makan kue daripada responden daerah lain.
Peneliti memperkirakan, hal ini dipengaruhi oleh makanan tradisional mereka seperti soto Banjar, lontong Banjar, dan ketupat yang bahan-bahannya juga termasuk sayur dan herba. Keanekaragaman di Kalimantan dinilai juga mendukung akses warga untuk memperoleh dan makan sayur.
Sedangkan peserta dari Sulawesi dan Sumatera memiliki persentase individu yang melaporkan aktivitas fisik dibandingkan wilayah lainnya. Peneliti memperkirakan, hal ini dipengaruhi oleh aktivitas sosial dan budaya yang lebih tinggi di daerah ini pada periode tersebut.
Berdasarkan profesi, responden yang berprofesi sebagai petani ditemukan mengonsumsi buah, sayur, dan rendang lebih tinggi dibanding kelompok lain. Temuan ini diperkirakan punya kaitan dengan akses para petani yang lebih tinggi pada hasil bumi segar, baik saat maupun di luar periode lebaran.
Terkait rendahnya asupan buah dan sayur, studi menemukan hambatan utamanya adalah masalah ketersediaan dan diikuti perasaan kenyang. Sementara itu, hampir 60% perempuan beraktivitas fisik kurang dari 150 menit selama seminggu lebaran, kebanyakan karena kurangnya kesadaran diri.
Temuan yang Menarik
Studi sebelumnya memang menyatakan bila frekuensi konsumsi buah dan sayur di kalangan penduduk Indonesia memang rendah. Data nasional menunjukkan bahwa sekitar 95% penduduk RI gagal memenuhi asupan buah dan sayur yang dianjurkan.
"Hal ini tidak mengherankan, karena Idul Fitri seringkali ditandai dengan konsumsi makanan cepat saji. Selama periode perayaan ini, hidangan seperti opor, rendang, kue dan minuman manis umumnya disajikan di rumah tangga Indonesia," jelas Fikri dan rekan-rekan.
Studi lain di Guam menunjukkan, perempuan mengonsumsi lebih banyak makanan padat energi tinggi selama hari raya dibandingkan hari biasa. Hal ini terjadi lantaran otak memberi sinyal bahwa kita menginginkan reward atau 'hadiah' setelah sebulan berpuasa Ramadan.
Namun, Fikri dkk mengungkap temuan menarik, kue kering lebih sering dikonsumsi perempuan RI dibanding opor dan rendang.
"Menunjukkan preferensi untuk nyemil, terutama makanan manis selama perayaan, dibandingkan makanan tradisional yang kaya protein," bebernya.
Hari Raya dan Makan-makan
Hal ini selaras dengan studi yang dilakukan di Turki. Dipublikasi di Journal of Food Research (2017), studi tersebut menunjukkan, konsumsi makanan setiap hari keagamaan tertentu bisa berbeda.
Contohnya, Idul Fitri berkaitan dengan konsumsi makanan manis, sedangkan Idul Adha berkaitan peningkatan konsumsi hidangan kaya protein.
Pergeseran ke arah ngemil kue kering dapat mengurangi asupan makanan utama. Akibatnya konsumsi hidangan kaya protein seperti opor dan rendang bisa menurun.
Sementara itu, konsumsi buah dan sayuran yang lebih tinggi sering dikaitkan dengan asupan camilan yang lebih rendah.
Penulis menggarisbawahi, studi ini masih memiliki keterbatasan, lantaran hanya mempertimbangkan frekuensi konsumsi makanan. Kendati demikian, meningkatkan pengetahuan gizi dapat berperan penting dalam mengurangi konsumsi berlebihan dan mendorong kebiasaan makanan yang lebih sehat selama perayaan keagamaan.
"Selain itu, meningkatkan kesadaran akan pentingnya aktivitas fisik dapat membantu mengurangi perilaku kurang gerak yang umum terjadi selama perayaan Idul Fitri," tandas Fikri dkk.
Studi ini terbit pada jurnal Discover Food pada 23 Maret 2025 dengan judul "Fruits, vegetables, Opor and Rendang consumption, and physical activity among Indonesian muslims during Eid Al-Fitr: a cross-sectional online survey study". Detikers juga bisa membacanya dengan klik DI SINI.










































