Beragam kebiasaan mewarnai perayaan Idul Fitri di Indonesia, salah satunya membeli baju baru. Meski tidak bersifat wajib, praktik ini mengandung makna simbolik yang kuat di tengah masyarakat.
Dosen Antropologi Universitas Brawijaya, Ary Budiyanto, menjelaskan baju baru menjadi simbol dari harapan untuk memulai lembar kehidupan lebih baru setelah menjalani Ramadan.
"Simbol-simbol dari harapan supaya memulai lebih baru, yang lebih fresh. Sehingga itu diwujudkan dalam bentuk baju baru," ujar Ary kepada detikEdu, ditulis Jumat (20/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, ia menilai makna tersebut kini mulai mengalami pergeseran. Perayaan Idul Fitri tidak lagi identik dengan keharusan mengenakan pakaian baru. Sebagian masyarakat kini memilih alternatif seperti thrifting atau membeli pakaian bekas yang masih layak pakai.
"Kalau sekarang nggak. Nggak harus baru-baru banget. Thrifting baru aja enggak apa-apa, bekas yang baru," katanya.
Ary menambahkan, perubahan ini dipengaruhi oleh pergeseran preferensi generasi. Belakangan orang cenderung lebih mengutamakan gaya atau tampilan yang trendi dibandingkan status "baru" pada pakaian.
Di sisi lain, meningkatnya kesadaran terhadap kondisi ekonomi juga turut membentuk pola konsumsi yang lebih rasional di masyarakat.
Sejarah Baju Lebaran
Berdasarkan buku Sejarah Nasional Indonesia oleh Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, tradisi membeli baju Lebaran dimulai ketika zaman Kesultanan Banten (1596). Meski demikian, kala itu hanya kalangan kerajaan yang dapat membeli pakaian bagus ketika Idul Fitri.
Merujuk buku yang sama, dikutip dari Majalah AULA Edisi Mei 2022, meskipun kalangan Kesultanan Banten membeli baju baru saat Idul Fitri, mayoritas masyarakat kala itu masih menjahit bajunya sendiri.
Tradisi serupa juga dijumpai di Kerajaan Mataram Islam. Masyarakat Yogyakarta mengusahakan baju baru, baik dengan cara membeli ataupun menjahit sendiri.










































