Sains di Balik Daun yang 'Diam'

ADVERTISEMENT

Sains di Balik Daun yang 'Diam'

Cicin Yulianti - detikEdu
Sabtu, 21 Mar 2026 06:00 WIB
Green Bay leaf leaves hanging on the tree. Bay leaf is one of herbs and use for cooking. Indonesian call it daun salam
Ilustrasi dedaunan Foto: Getty Images/Mangkelin
Jakarta -

Pagi di hari raya Idul Fitri menghadirkan suasana yang kontras dibanding hari biasa. Umat berbaris rapi menunaikan salat Id dengan khusyuk. Di tengah ketenangan itu, muncul satu pengamatan yang kerap dirasakan sebagian orang yaitu dedaunan di sekitar seolah diam, nyaris tanpa gerak.

Fenomena ini sering dimaknai secara spiritual. Sebagian meyakini bahwa alam ikut "tenang", bahkan ada yang mengaitkannya dengan keyakinan bahwa seluruh makhluk tengah bertasbih. Sebagaimana firman Allah dalam QS Al-Isra ayat 44 yang berbunyi:

Arab Latin: TusabbiαΈ₯u lahus-samāwātus-sab'u wal-arḍu wa man fΔ«hinn, wa im min syai'in illā yusabbiαΈ₯u biαΈ₯amdihΔ« wa lākil lā tafqahΕ«na tasbΔ«αΈ₯ahum, innahΕ« kāna αΈ₯alΔ«man ghafΕ«rā.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Artinya: Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya senantiasa bertasbih kepada Allah. Tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak memahami tasbih mereka. Sesungguhnya Dia Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. (QS Al-Isra: 44)

ADVERTISEMENT

Penjelasan Sains tentang Daun Tak Bergerak

Sementara dari sudut pandang sains, ada penjelasan yang tak kalah menarik. Hal ini dan justru membantu kita memahami bagaimana alam bekerja dengan cara yang sangat halus.

Pengaruh Inversi Suhu

Salat Idul Fitri umumnya berlangsung pada pagi hari, sekitar pukul 06.00 hingga 07.30. Pada waktu inilah kondisi atmosfer berada dalam fase yang relatif stabil.

Sepanjang malam, permukaan bumi perlahan kehilangan panasnya. Proses ini membuat udara di dekat permukaan ikut mendingin, sehingga terbentuk lapisan udara dingin yang "terperangkap" di bawah lapisan udara yang lebih hangat di atasnya.

Dalam ilmu meteorologi, kondisi ini dikenal sebagai inversi suhu. Inversi suhu merupakan sebuah fenomena yang umum terjadi menjelang pagi hari.

Sejumlah studi atmosfer menunjukkan inversi suhu menciptakan kondisi udara yang stabil karena menghambat pergerakan vertikal dan pencampuran udara di lapisan bawah atmosfer.

Akibatnya, turbulensi berkurang drastis dan angin menjadi jauh lebih lemah dibandingkan siang hari seperti disebut dalam artikel berjudul The impact of temperature inversions on black carbon and particle mass concentrations in a mountainous area karya Kristina Glojek dkk dari Departemen Geografi, University of Ljubljana, Slovenia yang terbit di jurnal Atmospheric Chemistry and Physics.

Dalam kondisi seperti ini, dedaunan di pepohonan memang cenderung tampak lebih diam. Bukan karena benar-benar berhenti bergerak, melainkan karena tidak ada cukup dorongan angin yang kuat untuk membuatnya bergoyang secara jelas.

Situasi ini akan berubah ketika matahari mulai naik. Pemanasan permukaan bumi memicu kembali pergerakan udara dan memecah lapisan inversi yang terbentuk sejak malam hari. Seiring meningkatnya aktivitas atmosfer, angin pun kembali bergerak dan dedaunan terlihat lebih hidup dibandingkan saat pagi yang tenang.




(cyu/pal)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads