×
Ad

Bukan Cuma Sunyi, Studi Ungkap Nyepi Terbukti Bikin Suhu Harian Turun

Cicin Yulianti - detikEdu
Kamis, 19 Mar 2026 09:00 WIB
Suasana Nyepi di Bali. Foto: ANTARA FOTO/AHMAD SUBAIDI
Jakarta -

Hari Suci Nyepi identik dengan keheningan, di mana para penganut Hindu akan berdiam diri di rumah dan tak keluar selama 24 jam. Tak cuma mengurangi kemacetan di jalan, ternyata Nyepi juga berpengaruh pada suhu harian di sekitarnya.

Seperti diungkap oleh empat peneliti dari bagian Metereologi dan Geofisika Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada 2021. Mereka adalah I Putu Dedy Pratama, Pande Komang Gede Negara, Putu Eka Tulistiawan, dan I Ketut Sudiarta.

Tajuk dari riset adalah "Nyepi Day Impact on Weather Parameters Measurement at Synoptic Observation Stations in Bali". Selain itu, kala itu COVID-19 melanda sehingga sebagian besar kegiatan dilakukan daring.

Manfaatkan Nyepi untuk Pantau Cuaca

Selama Nyepi, satu Pulau Bali akan menghentikan aktivitas selama 24 jam. Penganut Hindu akan menjalani Catur Brata Penyedian yang terdiri dari empat hal.

Pertama amati geni (tidak menyalakan api dan lampu). Kedua, amati karya (tidak bekerja). Ketiga, amati lelungan (tidak bepergian), dan keempat amati lelanguan (tidak bersenang-senang).

Selama Nyepi tersebut, BMKG melakukan pemantauan cuaca di empat stasiun pengamatan sinoptik di Bali. Sebelumnya pada 2014, penelitian oleh Badriah melakukan pengukuran urban heat island selama Nyepi.

Selanjutnya pengamatan konsentrasi karbon monoksida oleh Aprilina, & Aldrian (2016), dan parameter debu total akibat aktivitas manusia oleh Nuraini, dkk., (2019).

Namun, penelitian-penelitian tersebut menurut para periset BMKG perlu untuk diperdalam. Mereka kemudian melakukan penelitian dengan tujuan melihat pengaruh Nyepi terhadap perbandingan suhu rata-rata harian terhadap lama penyinaran matahari.

Selain itu, mereka juga mengamati pengaruhnya terhadap kelembaban udara rata-rata harian pada empat stasiun tempat pengamatan.

Adanya Tren Penurunan Suhu Rata-rata

Peneliti menganalisis suhu udara rata-rata harian, lama penyinaran matahari, dan kelembaban udara rata-rata selama tahun 1999 hingga 2020 selama Nyepi.

Selain itu, peneliti juga memakai data dua hari sebelum dan sesudah Nyepi sebagai perbandingan. Ternyata, data selama kurang lebih 22 tahun tersebut menunjukkan tren menarik.

Peneliti melihat ada tren penurunan suhu rata-rata harian selama Nyepi di seluruh stasiun. Adapun tren yang didapat cukup bervariasi.

Penurunan suhu paling signifikan terjadi di Stasiun Klimatologi Jembrana. Penurunan terjadi hingga mencapai nilai -0,0491.

Sementara tren cenderung landai terjadi di Stasiun Geofisika Denpasar dengan nilai -0,0089. Dalam pengaruhnya terhadap kelembaban udara, terbukti di Stasiun Metereologi Ngurai Rai.

Riset Diganjar EU Star Award

Riset para peneliti BMKG tersebut dianugerahi European Union (UE) Star Award sebagai peneliti terbaik dalam kegiatan The Comprehensive Nuclear-Test-Ban Treaty Organization (CTBTO) Science and Technology Conference (SnT).

CTBTO adalah organisasi internasional dengan tugas sebagai institusi yang melakukan verifikasi atas uji coba senjata nuklir. BMKG sendiri telah bekerja sama dengan CTBTO.

Hasil kerja sama tersebut membuahkan pemasangan 6 stasiun seismik Comprehensive Nuclear Test Ban Treaty Organization (CTBTO) sejak 2002 silam. Stasiun tersebar di enam lokasi yakni Kappang, Parapat, Lembang, Kupang, Sorong, dan Jayapura.

Stasiun dikelola BMKG untuk mengawasi uji nuklir di Indonesia. Dalam hal ini, BMKG menjadi punya tugas dalam monitor uji coba nuklir lewat sistem seismik.



Simak Video "Video: 'Polantas Menyapa' di Bali, Kakorlantas Pastikan Nyepi dan Lebaran Aman"

(cyu/pal)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork