Ada situs megalitik yang tersebar di Pulau Ternate. Siapa sangka penempatan situs megalitik di Pulau Ternate ternyata tidak dilakukan secara acak, melainkan memperhitungkan kondisi alam secara cermat.
Tim peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yang dipimpin Chusni Ansori dari Pusat Riset Sumber Daya Geologi, mengungkap bahwa masyarakat prasejarah di Ternate mempertimbangkan kondisi alam, terutama sumber daya geologi dan potensi bahaya gunung api, saat menentukan lokasi situs budaya.
Dikutip dari keterangan resmi BRIN, temuan ini merupakan hasil kajian hubungan antara sebaran situs Jere dan kondisi geologi di Ternate Aspiring National Geopark, Maluku Utara. Penelitian ini bertujuan memahami bagaimana masyarakat masa lalu berinteraksi dan beradaptasi dengan lingkungan alam di wilayah pulau vulkanik itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Penelitian ini bertujuan mengetahui apakah penempatan situs budaya megalitik di Pulau Ternate mempertimbangkan kondisi alam, terutama parameter sumber daya dan bencana geologi seperti bahaya gunung api, potensi air tanah, air permukaan atau jarak dari sungai, serta geomorfologi," jelas Chusni, seperti dilansir dari BRIN, dikutip Rabu (18/3/2026).
Sebaran Situs Megalitik di Pulau Ternate
Pulau Ternate merupakan pulau vulkanik yang didominasi Gunung Gamalama yang masih aktif. Di pulau ini terdapat peninggalan budaya megalitik berupa menhir dan monolit yang oleh masyarakat setempat disebut Jere. Situs-situs ini hingga kini masih dianggap sakral dan kerap menjadi lokasi ziarah serta ritual masyarakat.
Berdasarkan survei lapangan, tim peneliti BRIN mengidentifikasi 56 lokasi situs megalitik yang tersebar di Pulau Ternate. Analisis menunjukkan bahwa sekitar 37,49% situs berada di ketinggian kurang dari 50 meter di atas permukaan laut. Mayoritas situs terletak di kaki gunung dan lereng bawah Gunung Gamalama, yang relatif lebih aman dibandingkan wilayah lebih tinggi.
"Distribusi ini menunjukkan adanya pola pemilihan lokasi yang berkaitan dengan keamanan lingkungan dan kemudahan akses terhadap sumber daya alam," ujar Chusni.
Pengaruh Faktor Geologi terhadap Lokasi Situs
Menurut Chusni, penelitian ini menggunakan pendekatan spatial geoarchaeology yang memadukan data arkeologi dan geologi. Metode yang dipakai meliputi survei lapangan, analisis geokimia batuan dengan X-ray Fluorescence (XRF), serta pemodelan digital elevasi.
Selain itu, penelitian melakukan analisis spasial berbasis sistem informasi geografis (GIS) menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk menilai pengaruh berbagai faktor geologi terhadap lokasi situs megalitik.
Dari tujuh parameter geologi yang dianalisis, tiga faktor utama paling berpengaruh adalah bahaya erupsi gunung api, jarak dari sungai, dan geomorfologi kaki gunung.
Faktor pertama, bahaya erupsi gunung api memiliki pengaruh terbesar, sekitar 37,97%. Sebagian besar situs megalitik terletak di luar zona bahaya erupsi, menunjukkan bahwa masyarakat masa lalu di Ternate memilih lokasi yang relatif aman dari bencana alam.
Faktor kedua adalah jarak dari sungai, dengan pengaruh sebesar 25,75%. Mayoritas situs terletak kurang dari 250 meter dari sungai, menekankan pentingnya akses air bagi kehidupan sehari-hari, pertanian, dan aktivitas ritual.
Faktor ketiga adalah geomorfologi, khususnya morfologi kaki gunung, yang berpengaruh sekitar 13,78%. Area ini memiliki relief lebih landai, sehingga memudahkan mobilitas manusia dan pembangunan situs.
"Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat masa lalu telah memiliki pengetahuan lingkungan yang baik dalam memilih lokasi yang relatif aman dari bencana namun tetap dekat dengan sumber air," kata Chusni.
Budaya Ternate dan Lingkungan Vulkanik
Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya masyarakat Ternate memiliki hubungan erat dengan lanskap geologi setempat. Situs Jere bukan hanya simbol spiritual, tetapi juga mencerminkan sistem adaptasi manusia terhadap lingkungan vulkanik. Hal ini menegaskan bagaimana masyarakat menyesuaikan diri dengan kondisi alam di sekitarnya.
Hingga kini, situs-situs Jere tetap menjadi bagian penting dari tradisi masyarakat Ternate. Dalam ritual adat seperti Kololi Kie, masyarakat mengunjungi situs-situs tersebut untuk memanjatkan doa. Doa-doa ini biasanya ditujukan untuk keselamatan dari ancaman erupsi Gunung Gamalama.
"Keberadaan Jere mencerminkan hubungan erat antara kepercayaan masyarakat dengan lingkungan alamnya, khususnya gunung api yang menjadi bagian penting dari kehidupan mereka," ungkap Chusni.
Warisan Budaya dan Alam untuk Geopark
Chusni meyakini kajian ini memberikan kontribusi penting bagi pengembangan Ternate Aspiring National Geopark. Keragaman geologi di kawasan ini terkait erat dengan biodiversitas sekaligus keragaman budaya masyarakat setempat.
Pemahaman hubungan antara situs budaya dan kondisi geologi diharapkan mendukung pengelolaan geopark secara terintegrasi. Hal ini mencakup konservasi, pendidikan, dan pengembangan ekonomi lokal melalui geowisata.
"Pendekatan spasial gearkeologi dapat membantu menjelaskan bagaimana manusia masa lalu membangun hubungan dengan lingkungannya, sekaligus menjadi dasar penting dalam pengelolaan warisan geologi dan budaya di masa depan," pungkas Chusni.
Simak Video " Video: Menbud Rencanakan Pemberian Logo pada Cagar Budaya "
[Gambas:Video 20detik]
(nwk/nwk)











































