Mengapa Orang Indonesia Mudik Saat Lebaran?

ADVERTISEMENT

Mengapa Orang Indonesia Mudik Saat Lebaran?

Callan Rahmadyvi Triyunanto - detikEdu
Kamis, 19 Mar 2026 03:00 WIB
Kendaraan melintas di jalur Jalur Pantura arah Serang, Minggu (15/3/2026), yang masih terlihat lancar dari arus mudik.
Foto: Andhika Prasetia/detikFoto
Jakarta -

Setiap tahun menjelang Lebaran jutaan masyarakat Indonesia kembali ke kampung halaman. Fenomena ini dikenal dengan istilah mudik. Namun, tahukah detikers mengapa tradisi mudik begitu penting bagi masyarakat Indonesia?

Mudik Bak Jembatan, Wujud Kerinduan

Dilansir dari laman resmi Kemendikdasmen, tradisi mudik tidak hanya soal perjalanan namun juga wujud kerinduan. Inilah yang membuat orang Indonesia mudik saat Lebaran.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pertama, mudik Lebaran adalah wujud menghormati orang tua dan berkumpul dengan keluarga besar di kampung halaman. Mudik adalah simbol kerinduan.

Mudik berperan seperti jembatan antara kehidupan modern yang serba cepat di kota dengan akar tradisi dan keluarga di kampung. Bagi banyak orang, mudik adalah saat untuk kembali menjadi 'anak' di hadapan orang tua, kembali ke rumah tempat kenangan masa kecil tersimpan, dan kembali merasakan suasana yang mungkin sudah lama ditinggalkan, demikian dilansir dari situs Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

ADVERTISEMENT

Dari sisi sosial, mudik memperkuat solidaritas keluarga dan menjaga hubungan antargenerasi. Kegiatan saat mudik diisi dengan halal bihalal, ziarah kubur hingga berkunjung ke rumah kerabat. Dengan semua kegiatan ini, nilai gotong royong dan kebersamaan ciri khas masyarakat Indonesia dapat terjaga.

Kedua, mudik Lebaran juga bermanfaat untuk refleksi diri. Konsep 'kembali ke fitrah' selaras dengan tindakan kembali ke rumah, kembali ke orang tua, dan kembali ke akar budaya. Dalam konteks ini, mudik bukan sekadar mobilitas fisik, melainkan perjalanan simbolik menuju kesucian dan rekonsiliasi.

Ketiga, mudik Lebaran ini sebagai wujud syukur atas keselamatan serta kesehatan sepanjang tahun.

Penggerak Roda Perekonomian di Indonesia

Selain itu, mudik juga menggerakkan roda perekonomian. Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Mohammad Nur Rianto Al Arif berpendapat mudik Lebaran adalah salah satu fenomena ekonomi terbesar di Indonesia.

Bayangkan, dalam waktu beberapa pekan, mobilitas manusia meningkat drastis, konsumsi masyarakat melonjak, dan aktivitas ekonomi menggeliat dari kota besar hingga desa-desa di pelosok negeri.

Mudik mampu menciptakan perputaran uang dalam jumlah sangat besar, memicu aktivitas perdagangan, menggerakkan sektor transportasi, pariwisata, dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Dalam konteks ini, mudik dapat dipandang sebagai salah satu momentum ekonomi rakyat yang paling signifikan di Indonesia, demikian dilansir dari situs CNBC Indonesia.

Selama mudik, masyarakat biasanya melakukan berbagai kegiatan, seperti ziarah ke makam nenek moyang, mengadakan syukuran, berbuka puasa bersama, bertemu teman lama, mengunjungi tempat wisata, dan membeli oleh-oleh khas daerah.

Mudik merupakan momentum perputaran uang yang sangat besar berdasarkan data pada musim Lebaran tahun:

2024, perputaran uang selama Ramadan dan Idul Fitri diperkirakan mencapai Rp157,3 triliun.
2025, nilai perputaran uang berada pada kisaran Rp137 triliun hingga Rp145 triliun.

"Perputaran uang pada musim mudik lebaran 2026 ini diproyeksikan mencapai Rp 190 triliun," tulisnya.

143,9 Juta Orang Indonesia Diprediksi Mudik Lebaran di 2026

Dilansir dari laman Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg) berdasarkan survei Kementerian Perhubungan Republik Indonesia, arus mudik Lebaran 2026 (1447 H) diperkirakan melibatkan sekitar 143,9 juta orang. Jumlah ini setara 50,60% penduduk Indonesia.

"Angka ini memang menurun 1,75 persen dibandingkan survei pada tahun 2025 sekitar 146 juta. Namun demikian pada realisasi tahun 2025 justru mencapai 154 juta. Artinya mobilitas masyarakat pada masa Lebaran cenderung melampaui angka survei," ungkap Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi dalam Sidang Kabinet Paripurna, Jumat (13/3/2026) lalu.

Sedangkan puncak arus mudik Lebaran 2026, menurut Kepala Kepolisian RI (Kapolri) Jenderal Listyo Sigit Prabowo ada dua gelombang. Puncak mudik gelombang pertama kemungkinan terjadi di tanggal 14 sampai dengan 15 Maret 2026. Dan puncak arus mudik kedua pada 18 dan 19 Maret 2026.

"Setelah periode arus balik pertama, nantinya pemerintah juga akan menerapkan kebijakan Work From Anywhere (WFA) pada tanggal 16 dan 17 Maret. Sehingga diperkirakan bakal terjadi puncak arus mudik kedua pada 18 dan 19 Maret," jelas Sigit dilansir dari situs Polri.

Begitupun puncak arus balik, ada 2 gelombang. Arus balik gelombang pertama pada 24 dan 25 Maret 2026 dan arus balik kedua pada 28 sampai 29 Maret 2026.

Selamat mudik buat detikers yang mudik yaa, hati-hati di jalan dan selamat merayakan Lebaran bersama keluarga!

Halaman 2 dari 3
(nwk/nwk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads