Bumi Kini Berputar Lebih Lambat, Apa Sebabnya?

Bumi Kini Berputar Lebih Lambat, Apa Sebabnya?

Trisna Wulandari - detikEdu
Senin, 16 Mar 2026 11:00 WIB
Kontes fotografi Tournament Earth mempertandingkan 32 foto hasil jepretan astronaut di luar angkasa
Ilustrasi Bumi. Foto: NASA
Jakarta -

Peneliti dari Universitas Wina dan ETH Zurich mendapati Bumi kini berputar lebih lambat. Maka, anggapan bahwa satu hari sama dengan sekitar 24 jam menjadi lebih tidak pasti lagi.

Diketahui, satu hari atau 24 jam dihitung berdasarkan satu kali rotasi atau perputaran Bumi pada porosnya. Satu kali rotasi Bumi setara dengan sekitar 23 jam 56 menit, tetapi diambil rata-rata 24 jam.

Hasil riset pada Journal of Geophysical Research: Solid Earth menunjukkan, panjang hari bertambah sedikit demi sedikit, 1,33 milidetik setiap 100 abad. Kendati tampak sangat sedikit, panjang hari saat ini dengan 3,6 juta tahun lalu jelas tampak berbeda.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bumi Berputar Lebih Lambat

Dilansir dari Phys.org, peneliti menjelaskan bahwa perubahan panjang hari 24 jam dipengaruhi oleh efek gravitasi Bulan dan proses geofisika di Bumi, baik di permukaan, di bagian dalam, maupun di atmosfernya.

ADVERTISEMENT

Faktor iklim juga berpengaruh pada perubahan panjang satu hari. Fenomena pergeseran material di permukaan bumi, terutama massa benua dan samudra, akibat pencairan lapisan es di kutub dan gletser pegunungan ternyata punya andil pada melambatnya perputaran Bumi dan bertambah lamanya satu hari.

Peneliti dari Departemen Meteorologi dan Geofisika Universitas Wina, Mostafa Kiani Shahvandi, menjelaskan bahwa saat lapisan es kutub dan gletser pegunungan mencair pada abad ke-21, permukaan laut naik. Akibatnya, rotasi Bumi menjadi lebih lambat. Maka, terjadilah satu hari yang durasinya lebih panjang sedikit demi sedikit

"Mirip dengan pemain seluncur es yang berputar lebih lambat saat mereka merentangkan lengan mereka, dan lebih cepat saat mereka menjaga tangan mereka tetap dekat dengan badan mereka," jelas Shahvandi.

Bukti Pengaruh Perubahan Iklim pada Perputaran Bumi

Ia mengatakan peneliti semula belum tahu apakah ada periode saat perubahan iklim menambah panjang satu hari, tetapi kecepatan Bumi berputar tetap sama. Untuk itu, mereka mencari tahu perubahan panjang hari jutaan tahun lalu berdasarkan naik-turunnya permukaan laut yang terekam dalam susunan kimiawi fosil protista foraminifera.

Para peneliti lalu menguji penelitiannya dengan model berbasis fisika yang dilengkapi dengan algoritma deep learning probabilitas. Hasilnya, perubahan iklim masa kini yang membuat permukaan air laut naik memengaruhi melambatnya perputaran Bumi. Faktor ini juga tampak muncul sekitar 2,6 juta tahun lalu.

Pada periode purba Quaternary itu, pertumbuhan dan pencairan lapisan besar es benua membuat tinggi permukaan laut berubah, sehingga durasi satu hari juga berubah.

"Tapi sebelum itu, atau setelah itu, belum ada lagi momen saat permukaan air laut Bumi naik secepat periode (perubahan iklim pada 2000-2020)," ujar Shahvandi.

Hasil studi ini telah dipublikasikan dengan judul Climate‐Induced Length of Day Variations Since the Late Pliocene di Journal of Geophysical Research: Solid Earth, 10 Maret 2026.




(twu/faz)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads