Selama beberapa dekade, Iran telah dikenai berbagai sanksi internasional. Contoh saja, sejak 1979 Amerika Serikat (AS) telah memberlakukan pembatasan dengan Negeri Para Mullah itu.
Lalu antara 2006 dan 2010, Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) memberikan sanksi multilateral yang secara khusus menargetkan aktivitas proliferasi nuklir dan rudal balistik Iran.
Iran dikenai embargo kembali dalam hal senjata serta ekonomi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sejak 27 September 2025. Iran dinilai telah melakukan eskalasi nuklir berkelanjutan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebuah studi mengungkap embargo timbulkan kerugian ekonomi Iran sebesar 12 persen. Dampaknya sangat signifikan terhadap kelas menengah di Iran.
Pendidikan yang Tak Padam
Namun menariknya, pendidikan di Iran tidak surut seiring sanksi bertubi-tubi. Menurut laporan pada 2013 saja, jumlah mahasiswa Iran meningkat jadi 4,1 juta orang.
Data terbaru dari National Council of Resistance of Iran menunjukan ada sebanyak 16,5 juta siswa di negara tersebut. Di sekolah dasar ada 7.700 kelas.
Analisis statistik dari Middle East Institute juga menunjukan angka melek huruf warga Iran pada 1966, 1976, 1986, 1991, dan 2006 meningkat. Peningkatan ini terutama pada perempuan yang mencapai 47,5%.
Analisis terbaru dari Pusat Statistik Republik Islam Iran turut memperlihatkan peningkatan angka melek huruf naik jadi 96,1% pada perempuan dan 97,8% pada laki-laki pada 2023.
Begitu juga dalam pendidikan tinggi. Selama bertahun-tahun, jumlah mahasiswa di universitas negeri maupun swasta meningkat pesat. Selama tahun akademik 1991/1992 hingga 2006/2007 lalu, persentase mahasiswa perempuan yang terdaftar di universitas negeri meningkat dari 28% menjadi 58%.
Tak hanya memberdayakan pelajar setempat, Iran punya target ambisius untuk menampung 320.000 mahasiswa dari seluruh penjuru dunia. Dilansir WANA News, Kementerian Sains Iran mencatat pada 2025 Iran memiliki 60.000 mahasiswa asing.
Juga pada tahun lalu, dilaporkan melalui arsip Majelis Umum PBB, selama periode pendaftaran tahap pertama ujian nasional masuk universitas pada 2025, ada 957.798 pendaftar mahasiswa baru di Iran. Terdapat 608.017 perempuan di antaranya.
Maka, dari data tersebut, calon mahasiswa perempuan mewakili 63% pendaftar. Sementara 349.781 pendaftar laki-laki mewakili 37% dari keseluruhan.
Kemajuan Sains dan Teknologi
Sejak 2013 juga, Research & Development Iran turut berkembang. Iran mampu mencetak R&D menjadi empat persen dari GDP.
Jumlah teknologi kian melonjak. Pemerintah Iran mengadakan pameran di pusat-pusat penelitian dan teknologi.
Mengutip laporan mantan Duta Besar Republik Islam Iran untuk Rumania sebelumnya, Dr Seyed Hossein Sadat Meidani di Middle East Political and Economic Institute (MEPEI), ilmuwan-ilmuwan Iran tak dapat terpisah dari perkembangan sains global.
Zaman dahulu dimulai oleh ilmuwan fenomenal seperti al-Khawarizmi, seorang diplomat sekaligus matematikawan atau orang lebih mengenalnya sebagai "Bapak Aljabar".
Selanjutnya pada 1000 M, ada Biruni seorang penuls ensiklopedia astronomi. Kemajuan sains Iran semakin terbukti lewat sistem rumah sakit modern yang dikembangkan seperti di Universitas Gundershapur.
Bicara sains maka tak hanya soal ilmuwan. Siswa-siswa Iran pun turut menyumbang prestasi sains dunia.
Seperti juara di Olimpiade Astronomi dan Astrofisika Internasional ke-17 hingga Olimpiade Informatika Internasional ke-36.
Iran juga tercatat sebagai lima negara teratas yang mampu memproduksi laser berdaya tinggi. Negara ini masuk 10 besar negara dengan ahli bedah operasi jantung.
Dalam inovasi terbaru yakni kecerdasan buatan (AI), Iran membentuk Organisasi AI Nasional. Ini menjadi indikasi atas upaya Iran untuk mengembangkan sains.
Perkembangan keahlian perempuan di Iran juga terbukti dalam hal riset. Kini 70% lulusan universitas di Iran khususnya bidang STEM adalah perempuan. Hal itu juga karena dukungan Yayasan Elite Nasional Iran.
Tetapi 36 Ribu Mahasiswa Tewas akibat Perang
Sayangnya, kondisi pendidikan yang membaik tak menjamin keamanan para pelajar. National Council of Resistance of Iran melaporkan, per Oktober 2025 ada sebanyak 36.000 mahasiswa yang tewas akibat perang selama 8 tahun.
Hiruk pikuk perang turut menyentuh kejiwaan mereka. Dari 16,5 juta pelajar, hampir setengahnya atau 43% menderita depresi.
Sebanyak 19% pelajar merasa depresi ringan, 30% sedang, dan 16% depresi berat. Sebuah fakta yang saling bertolak belakang.
Lebih parahnya, pengangguran di Iran sebanyak 40% merupakan lulusan perguruan tinggi. Kondisi demikian jadi alasan banyak warganya ingin menggulingkan pemerintahan diktator.
(cyu/nah)











































