Jumlah Komodo Tersisa 3.319 Ekor, Perburuan Liar Jadi Ancaman

ADVERTISEMENT

Jumlah Komodo Tersisa 3.319 Ekor, Perburuan Liar Jadi Ancaman

Devita Savitri - detikEdu
Selasa, 10 Mar 2026 14:30 WIB
Komodo merupakan reptil yang hidup sejak zaman prasejarah. Kadal raksasa ini memiliki habitat di Taman Nasional Komodo, NTT.
Komodo di Taman Nasional Komodo. Jumlah komodo tersisa 3.319 ekor, dosen UGM beberkan sebabnya. Foto: Andhika Prasetia/detikcom
Jakarta -

Komodo menjadi salah satu hewan endemik asal Indonesia yang kehadirannya disoroti dunia. Bagaimana tidak, hewan ini merupakan spesies kadal terbesar di dunia.

Sayangnya, kian hari populasi komodo terus merosot bahkan terancam. Diketahui, populasi komodo saat ini diperkirakan tersisa sebanyak 3.319 ekor. Apa penyebabnya?

Dosen Biologi Universitas Gadjah Mada yang juga pemerhati satwa liar, Donan Satria Yudha beri jawaban. Ia menyebut jumlah komodo kian tertekan lantaran perubahan iklim, habitat yang menyusut, dan masalah utama perburuan liar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perburuan Liar Jadi Ancaman Utama

Perburuan liar bisa timbul karena berkaitan dengan berbagai faktor. Diketahui, komodo tidak hanya ada di Pulau Komodo.

Spesies ini juga tinggal di Pulau Rinca, daratan utama Pulau Flores bagian utara, dan pulau kecil lain yang ada di sekitarnya. Donan menilai kesejahteraan warga Pulau Rinca dan Pulau Komodo tidak cukup baik, akibatnya aksi perburuan liar masih dilanggengkan.

ADVERTISEMENT

"Jika warga Pulau Rinca dan Pulau Komodo sejahtera, maka mereka akan dengan senang hati membantu pemerintah dalam menjaga kelestarian komodo," tutur Donan dikutip dari laman UGM, Selasa (10/3/2026).

Ketika warga lokal sejahtera, upaya konservasi komodo akan terwujud. Warga lokal merupakan sosok yang paling tahu mana pendatang yang akan mencuri komodo dan yang tidak.

Hal ini dikarenakan mereka tinggal di kawasan sekitar konservasi setiap saat. Saat ketahuan ada pelaku perburuan liar atau kejanggalan lain, warga lokal dapat segera melapor ke pihak yang berwenang.

Selain meningkatkan kesejahteraan, Donan juga memberikan beberapa solusi untuk mengurangi perburuan liar, yakni:

  • Penambahan staf polisi hutan, terutama di Flores bagian utara.
  • Penegakan hukum yang tegas bagi pemburu dan pembeli hasil buruan.
  • Adanya program breeding yang dilakukan oleh pemerintah. Hasil breeding bisa diperjualbelikan secara resmi dan terbatas.

"Dengan demikian, para kolektor hewan akan memilih jalur resmi, karena terdapat jalur resmi yang disediakan," imbuhnya.

Maksimalkan Habitat Komodo

Berdasarkan data, sebanyak 58 persen habitat komodo berada di daerah Area Penggunaan Lain (APL) atau di luar kawasan hutan. Donan menyebut, langkah Indonesia menghadirkan Taman Nasional Komodo pada dasarnya sudah benar.

Akan tetapi, untuk menjaga habitat hewan ini, jumlah personil dan anggaran dalam menjawab kawasan masih kurang. Apabila personil kawasan jumlah sesuai dengan luas kawasan dan anggaran konservasi memadai, kepunahan komodo bisa ditekan.

Donan menilai, masalah APL di habitat komodo adalah hal yang rumit. Ia menyarankan area inti kawasan diperluas dan wilayah konservasi secara umum ditambah untuk menghadapi masalah itu.

Pemerintah dan berbagai pihak terkait harus bekerja sama dalam menjaga dan melestarikan komodo. Salah satu upaya yang bisa dilakukan pemerintah adalah mengeluarkan aturan atau kebijakan terkait perlindungan kawasan atau habitat komodo, penyediaan kerja sama dan memberikan anggaran yang cukup.

Donan kembali menegaskan bila kehadiran Taman Nasional Komodo sudah baik, tapi perlu peran lebih lanjut guna menjaga habitatnya. Dengan demikian, populasi komodo bisa tetap terjaga bahkan bertambah.

"Perlu ditentukan luasan habitat baru komodo di mainland Flores, terutama di sisi utara, agar perbedaan genetik antar populasi komodo di mainland dan kepulauan tetap terjaga," jelas Donan lagi.



(det/nah)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads