Hasil survei TOEIC Global English Skills Report menunjukkan, di tengah perkembangan kecerdasan buatan (AI), kemahiran berbahasa Inggris justru makin diperlukan. Survei ini juga mendapati asesmen bahasa Inggris kini kian banyak digunakan pada proses rekrutmen pekerja (78%), evaluasi sebelum ikut pelatihan (71%), dan promosi atau kenaikan jenjang karier (66%).
Sembilan dari sepuluh responden menyatakan, keterampilan berbahasa Inggris diperlukan agar para pekerja dapat menggunakan interface AI, membuat prompt atau instruksi yang efektif pada platform AI generatif, serta menilai hasil jawaban AI itu sendiri.
Temuan ini mematahkan anggapan sebelumnya bahwa AI akan mengurangi kebutuhan orang untuk menguasai bahasa Inggris.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Survei ini melibatkan 1.325 responden yang merupakan decision maker bidang SDM (HR) di 17 negara, yakni Indonesia, Brasil, China, Prancis, Jerman, India, Jepang, Meksiko, Moroko, Arab Saudi, Korea Selatan, Spanyol, Taiwan, Thailand, Turki, Uni Emirat Arab, dan Vietnam.
Minimal 70 responden per negara, para responden dipilih berdasarkan persetujuannya untuk berpartisipasi pada survei online Harris Poll, yang mewakili Educational Testing Service (ETS).
AI Tak Bisa Tutupi Kekurangan Bahasa Inggris Pekerja
Sebanyak 92% responden menyatakan kemahiran berbahasa Inggris para pekerja hari ini lebih penting daripada 5 tahun lalu. Kendati para pemberi kerja optimis AI tools bisa membantu dalam menerjemahkan materi berbahasa Inggris, mayoritas yakin AI tidak dapat mengimbangi kekurangan skill speaking maupun writing bahasa Inggris seorang pekerja.
Mayoritas pemberi kerja (90%) juga menilai kemahiran berbahasa Inggris kini menjadi keterampilan penting yang menentukan keberhasilan perusahaan. Sebanyak 82% di antaranya juga memandang keterampilan berkomunikasi dalam bahasa Inggris makin diperlukan, seiring dengan integrasi teknologi AI pada kerja sehari-hari.
Kebanyakan pemberi kerja (86%) juga menilai, tanpa kemahiran bahasa Inggris, para pekerja akan kalah saing dengan sesamanya.
Sementara itu, mayoritas pemberi kerja (83%) juga berpendapat, merekrut kandidat yang kurang mahir berbahasa Inggris berisiko kurang produktif dan kurang berkembang.
Global General Manager of Institutional Products ETS Ratnesh Kumar Jha mengatakan, riset ini menunjukkan bahasa Inggris kini menjadi kompetensi mendasar para tenaga kerja, bukan lagi soft skill. Ia menjelaskan, kemampuan berbahasa Inggris para pekerja memungkinkan mereka berkolaborasi lintas negara, mengoptimalkan penggunaan AI, dan tetap relevan di tengah ekonomi saat ini yang cepat berubah.
"Bukan AI yang menutupi kesenjangan keterampilan berbahasa Inggris orang, tetapi orang-orang itu sendiri," kata Ratnesh pada perilisan global TOEIC Global English Skills Report di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Senin (9/3/2026).
Tes Terstandar
Sebanyak 84% pemberi kerja memprediksi, dalam 5 tahun ke depan, perusahaan atau organisasi di negaranya akan lebih banyak berinvestasi pada asesmen bahasa Inggris dan pendidikan bahasa Inggris bagi pekerjanya.
Untuk memastikan kemahiran berbahasa Inggris para pekerja, para pemberi kerja menilai tes terstandar yang digelar pihak ketiga paling efektif untuk menilai:
- Pertumbuhan organisasi
- Posisi kompetitif saat ini
- Produktivitas pekerja
- Efisiennya alur kerja
- Perkembangan profesional
"Perusahaan yang berinvestasi dalam kemahiran bahasa Inggris pekerjanya itu secara langsung berinvestasi pada produktivitas, inovasi, dan daya saing global," imbuh Ratnesh.
(twu/nwk)











































