Waspada Bias Profesi Sejak Dini, Orang Tua Berperan Penting Kenalkan Dunia Sains

ADVERTISEMENT

Waspada Bias Profesi Sejak Dini, Orang Tua Berperan Penting Kenalkan Dunia Sains

Abdur Rahman Ramadhan - detikEdu
Selasa, 10 Mar 2026 08:30 WIB
Ilustrasi ayah antar anak sekolah
Ilustrasi ayah dan anak. Foto: dok. istimewa
Jakarta -

Stereotip tentang siapa yang cocok bekerja di bidang sains dan teknologi ternyata sudah muncul sejak anak masih sangat kecil. Penelitian terbaru menemukan bahwa anak usia sekitar tujuh tahun mulai memiliki gambaran tertentu tentang profesi di bidang STEM.

Dilansir dari Phys.org, pandangan ini bisa memengaruhi cara anak melihat masa depan mereka, termasuk pilihan karier saat dewasa nanti.

Para peneliti juga menemukan bahwa cara anak memandang profesi seperti ilmuwan atau dokter tidak lepas dari pengaruh lingkungan, seperti peran orang tua, guru, hingga figur yang sering mereka lihat di sekitar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Stereotip Profesi Sains Sudah Terbentuk Sejak Anak Kecil

Penelitian yang dilakukan tim psikolog dari University of Alberta ini melibatkan 842 anak berusia tujuh hingga 12 tahun dari berbagai latar belakang ras dan etnis.

Hasilnya menunjukkan, anak percaya teman perempuan mereka lebih mungkin menjadi dokter dibanding ilmuwan. Menariknya, anak perempuan justru lebih terbuka dalam memandang masa depan temannya, mereka menganggap perempuan bisa saja menjadi dokter maupun ilmuwan.

ADVERTISEMENT

Menurut peneliti, keyakinan seperti ini dapat memunculkan bias sejak dini. Jika tidak diatasi, bias tersebut berpotensi membuat sebagian anak merasa tidak cocok atau tidak diterima di bidang STEM.

Karena itu, para peneliti menekankan pentingnya peran orang tua dan guru untuk menunjukkan bahwa semua anak memiliki kesempatan yang sama untuk belajar dan berkarier di bidang sains dan teknologi.

Lingkungan Sekitar Ikut Membentuk Pandangan Anak

Peneliti juga menemukan minat terhadap bidang STEM sering mulai menurun sejak sekolah dasar. Hal ini terutama terjadi pada kelompok siswa yang kurang terwakili di bidang tersebut.

Salah satu penyebabnya adalah sistem pembelajaran yang terlalu fokus pada tes standar. Menurut peneliti, hal ini bisa membuat guru memiliki lebih sedikit ruang untuk membangun motivasi belajar anak secara kreatif.

Selain itu, anak cenderung lebih sering melihat dokter atau tenaga kesehatan dibanding ilmuwan di kehidupan sehari-hari. Karena itu, mereka lebih mudah membayangkan profesi dokter dibanding menjadi ilmuwan.

Faktor lain yang turut memengaruhi adalah sikap orang tua terhadap pelajaran sains dan matematika. Jika orang tua merasa cemas atau kurang percaya diri dengan kemampuan STEM mereka, hal itu bisa ikut memengaruhi cara anak memandang bidang tersebut.

Pada akhirnya, temuan ini menyadarkan kita bahwa pandangan anak terhadap dunia sains ternyata sudah terbentuk jauh sebelum mereka duduk di bangku SMP. Dengan begitu, dukungan lingkungan sejak dini menjadi kunci agar stereotip gender tidak membatasi ruang gerak mereka. Dengan ekosistem yang tepat, setiap anak akan merasa lebih berani dan percaya diri untuk mengeksplorasi minatnya di bidang sains maupun bidang lainnya tanpa rasa ragu.

Hasil studi dalam tulisan ini telah dipublikasikan di jurnal Journal of Experimental Child Psychology dengan judul "Children's math and science beliefs about underrepresented peers are related to STEM occupation expectations", 1 Februari 2026.



(nah/nah)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads