Capung Bisa Jadi Pendeteksi Bersihnya Lingkungan, Kini Semakin Langka

ADVERTISEMENT

Capung Bisa Jadi Pendeteksi Bersihnya Lingkungan, Kini Semakin Langka

Siti Nur Salsabilah - detikEdu
Selasa, 10 Mar 2026 05:00 WIB
Ilustrasi 3 Siklus Metamorfosis Capung, Cari Tahu Yuk Bareng Si Kecil Yuk Bun
Foto: Getty Images/iStockphoto/mizcaz/ilustrasi capung
Jakarta -

Capung menjadi hewan yang kerap terlihat di halaman rumah. Namun, kini capung menjadi semakin jarang terlihat. Kenapa ya?

Salah satu penyebabnya karena kerusakan lingkungan, terutama di perairan. Capung sangat bergantung pada lahan basah dan air yang tidak tercemar, untuk menetaskan larva mereka.

Itulah kenapa capung dikenal sebagai pendeteksi lingkungan bersih yang alami. Hewan dengan lebih dari 3.000 spesies tersebut, menjadi semakin sedikit ketika air tercemar dan lingkungan rusak.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Fase Hidup Capung Bergantung pada Air

Sebelum terbang dengan sayap dan tubuh warna-warni yang indah, larva capung akan berada di air. Fase ini biasanya berlangsung beberapa minggu, bulan, atau dalam spesies tertentu bisa lebih dari satu tahun.

Dikutip dari buku Mengenal Klasifikasi Capung dan Kupu-Kupu di Surabaya karya Muhammad Rifqi Zumar dkk, capung mengalami metamorfosis tidak sempurna (telur-naiad-capung dewasa).

ADVERTISEMENT

Setelah proses pembuahan, capung akan meletakkan telur mereka di permukaan air atau di dekat akar tumbuhan air agar tidak tenggelam. Kemudian, telur-telur capung berubah menjadi nimfa lalu berpindah ke batang tumbuhan atau bebatuan untuk berubah menjadi capung dewasa.

Karena sebagian besar hidupnya berada di wilayah perairan, capung membutuhkan air yang bersih untuk berkembang biak. Sebagaimana penelitian tahun 2025 tentang "Biodiversitas Capung sebagai Bioindikator Kualitas Perairan" oleh Andriani, dkk, semakin banyak jenis capung yang menghuni suatu perairan, maka terjamin kualitas airnya dan sebaliknya.

Namun, tidak semua jenis capung sensitif terhadap perubahan lingkungan. Ada juga yang mampu bertahan sekalipun di lingkungan tercemar, yaitu Orthetrum migratum.

Maka dari itu, peneliti biasanya tidak hanya menghitung jumlah capung yang ada tapi juga mengidentifikasi jenisnya.

Spesies Capung yang Peka terhadap Air dan Udara yang Tercemar

Capung dari famili Chlorocyphidae adalah salah satunya yang peka terhadap perubahan perairan dan udara, karena ia hanya hidup di lingkungan yang belum tercemar. Selain itu ada juga capung jarum yang dapat menjadi bioindikator lingkungan. Mereka tidak akan ditemukan pada ekosistem yang terkontaminasi.

Sementara itu, secara umum, capung sendiri membutuhkan lingkungan stabil untuk tetap hidup aman dengan suhu maksimal 37 derajat Celcius, pada ketinggian 47 meter di atas permukaan laut. Capung juga membutuhkan sinar matahari yang cukup untuk berjemur dengan rata-rata kelembaban udara maksimal 70 persen.

Tak hanya peka terhadap lingkungan bersih, capung termasuk serangga dengan kemampuan terbang yang andal. Kecepatan terbangnya bisa mencapai sekitar 56 km/jam.

Sebagai karnivora serangga, capung kerap memakan nyamuk, kutu daun, lalat dan juga sesama capung. Dalam satu hari, capung mampu menangkap sekitar 100 nyamuk dan juga serangga lainnya. Bahkan, ketika masih berbentuk nimfa, mereka dapat memperoleh 40 ekor nyamuk dalam satu hari.

Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.




(sls/faz)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads