Putra kedua Ayatollah Ali Khamenei, Mojtaba Khamenei, terpilih sebagai pemimpin tertinggi Iran yang baru. Ia sejak lama dianggap sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh, meskipun kurang terlihat dalam panggung politik Iran.
Majelis Pakar Iran menyerukan kepada rakyat Iran untuk menjaga persatuan dan berjanji untuk mendukung Mojtaba Khamenei. Majelis ini merupakan badan ulama beranggotakan 88 orang yang memilih pemimpin tertinggi negara Iran.
Mojtaba lahir pada 8 September 1969 di Kota Mashhad, di timur laut Iran. Kota tersebut adalah salah satu pusat keagamaan di Iran. Mojtaba selain aktif dalam politik Iran, juga memiliki riwayat sebagai pengajar. Pendidikan seperti apa yang pernah dilalui pemimpin tertinggi Iran yang sekarang ini?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari Sekolah Menengah Bergengsi, Lalu Fokus ke Teologi
Mojtaba merupakan lulusan sekolah menengah yang bergengsi, Alavi High School. Ada banyak elite Iran yang pernah lulus dari sekolah ini, contohnya mantan Menteri Luar Negeri Iran, Javad Zarif. Pejabat tinggi di sekolah tersebut, Kamal Kharrazi kemudian menjadi penasihat politik senior Ali Khamenei.
Setelah lulus, Mojtaba menekuni studi keagamaan di Tehran. Kemudian ia pindah ke Qom untuk menempuh pendidikan di seminari Islam.
Sebagai informasi, Qom merupakan pusat pembelajaran teologi Syiah terkemuka di Iran. Qom adalah rumah bagi seminari-seminari Islam yang melatih ulama Iran.
Disebutkan dalam Anadolu, Mojtaba mempelajari fiqih dan teologi Islam di bawah bimbingan beberapa ulama konservatif terkemuka. Ulama-ulama yang dimaksud termasuk Ayatollah Mahmoud Hashemi Shahroudi, Ayatollah Lotfollah Safi Golpaygani, dan Mohammad-Taqi Mesbah-Yazdi yang merupakan seorang ideolog berpengaruh yang membimbing banyak tokoh politik konservatif di Iran.
Menurut analis-analis Iran, Mojtaba telah menghabiskan sebagian besar kariernya mengajar di seminari-seminari Islam di Qom, termasuk kelas fiqih tingkat lanjut yang dikenal sebagai dars-e kharej, yang dianggap sebagai tingkat pendidikan tertinggi di seminari Islam.
Laporan-laporan terbaru mengatakan Mojtaba telah menangguhkan sementara beberapa kelasnya karena alasan pribadi, meskipun hal ini tidak dapat dikonfirmasi secara independen. Meskipun telah berkiprah selama beberapa dekade di lingkungan keagamaan, Mojtaba tidak pernah memegang jabatan pemerintahan formal atau menjabat di kantor terpilih atau eksekutif.
Dars-e kharej merupakan tingkat pengajaran fiqih tertinggi dan prasyarat untuk mencapai pangkat mujtahid di seminari Islam di Qom.
Namun, sebagaimana dikutip dari El Pais, pada September 2024 ketika muncul berita tentang penangguhan kelas yang diajar oleh Mojtaba, waktunya bertepatan dengan meningkatnya spekulasi suksesi. Di sisi lain ada sebagian ulama Syiah yang mempertanyakan kemampuan Mojtaba Khamenei untuk menjabat sebagai ahli hukum Islam.
Bagi para kritikusnya, penutupan kelas tersebut dinilai sebagai sinyal lemahnya legitimasi keagamaannya.
(nah/nwk)











































