Serangan Iran Rusak Pabrik Desalinasi, Apa Itu dan Kenapa Vital?

ADVERTISEMENT

Serangan Iran Rusak Pabrik Desalinasi, Apa Itu dan Kenapa Vital?

Novia Aisyah - detikEdu
Senin, 09 Mar 2026 06:30 WIB
Smoke rises in the sky after blasts were heard in Manama, Bahrain. Photograph: Reuters
Kepulan asap di Bahrain (ilustrasi serangan Iran). Foto: Reuters
Jakarta -

Serangan drone Iran merusak pabrik desalinasi air di Bahrain. Kementerian Dalam Negeri setempat menyebut serangan ini menyebabkan kerusakan material dan sejumlah warga terluka.

"Agresi Iran secara acak membom target sipil dan menyebabkan kerusakan material pada pabrik desalinasi air setelah serangan oleh drone," kata Kementerian Dalam Negeri Bahrain dalam sebuah pernyataan, seperti dilaporkan oleh AFP, Minggu (8/3/2026).

Pabrik desalinasi air memang merupakan unsur vital di negara-negara Teluk. Mengapa demikian?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kawasan Teluk Bergantuk ke Pabrik Desalinasi

Kawasan Teluk sangat bergantung pada sumber daya yang tidak dapat diperbarui seperti air tanah fosil (air tanah purba) dan air hasil desalinasi. Keduanya bersama-sama mencakup lebih dari 90% dari keseluruhan sumber daya air di kawasan tersebut.

ADVERTISEMENT

Air tanah tetap menjadi sumber daya air utama di sebagian besar wilayah. Namun, desalinasi memainkan peran yang semakin penting dan sudah menjadi sumber air utama bagi beberapa negara Teluk. Oleh sebab itu, serangan terhadap pabrik desalinasi bisa sangat merugikan.

Dikutip dari Middle East Institute, negara-negara Teluk adalah negara-negara yang paling bergantung pada desalinasi di dunia. Kawasan ini secara kolektif menghasilkan sekitar 40% air hasil desalinasi dunia, dengan kapasitasnya diperkirakan akan berlipat ganda pada 2030.

Seperti Apa Desalinasi?

Gulf Cooperation Council (GCC) atau Dewan Kerja Sama Teluk terletak di salah satu wilayah paling kering di dunia dengan sumber daya air tawar yang sangat sedikit. Oleh sebab itu mereka bergantung pada pabrik desalinasi untuk mengatasi kelangkaan air dan memenuhi peningkatan permintaan air. Sayangnya, beberapa efek buruk dikaitkan dengan proses desalinasi dan karenanya banyak teknologi yang diterapkan untuk mengurangi dampak lingkungannya.

Dijelaskan dalam artikel ilmiah bertajuk "Desalination in teh GCC countries-a review" dalam jurnal Cleaner Production Volume 357, 10 Juli 2022, desalinasi dianggap sebagai pilihan yang lebih disukai untuk mengatasi peningkatan permintaan air di dunia, menurut Ghaffour dkk, 2013.

Desalinasi adalah proses menghasilkan air minum murni dari air asin dengan menghilangkan garam dan mineral, sebagaimana dijelaskan oleh Nair dan Kumar, 2013.

Dikatakan oleh Lado dkk (2021), proses ini dapat digunakan untuk air laut dan air payau. Sementara itu, proses ini juga dapat digunakan untuk menghasilkan air ultra-murni untuk aplikasi industri tertentu seperti farmasi (menurut Ahmed dkk, 2021) dan industri pengolahan makanan (menurut Son dkk, 2021).

Dalam konteks desalinasi, kandungan garam total atau total padatan terlarut (total dissolved solids/TDS) diukur dalam miligram per liter (mg/L); bagian per seribu (ppt); atau bagian per juta (ppm). Menurut Pramanik dkk (2017), proses desalinasi membuang limbah yang sangat asin dan pekat dengan berbagai komposisi kimia yang disebut 'air garam'.

Di negara-negara GCC, sejarah desalinasi sangat terkait dengan sejarah minyak, sebagaimana diterangkan oleh Eltamaly dkk (2021). Tahun 1973 menandai perubahan bersejarah di negara-negara GCC karena lonjakan harga minyak mentah. Hal ini memungkinkan pendanaan dan investasi yang diperlukan untuk mengembangkan proyek-proyek terobosan untuk infrastruktur air dan energi mereka.



(nah/nwk)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads