Semakin hari, semakin banyak ujaran kebencian yang dinormalisasi di media sosial. Mayoritas warganet memilih untuk diam saat menyaksikan hal tersebut, apalagi kalau konteksnya menyangkut para pemangku kebijakan atau konten kreator. Seolah mereka menganggap serangan tersebut adalah hal "biasa" di ruang digital.
Ujaran kebencian yang dimaksud adalah ekspresi kebencian, atau sikap merendahkan terhadap individu/kelompok berdasarkan karakteristik tertentu seperti etnis, warna kulit, gender, atau orientasi seksual. Biasanya tidak hanya menyerang individu secara khusus, tapi juga menggeneralisasikan kelompoknya secara menyeluruh.
Menanggapi hal tersebut, para ilmuwan komunikasi dari Tilburg University, Dr Sara Pabian, Eefje van Moorsel, dan Jennifer van Zon, meneliti sejumlah pengguna media sosial berusia 19-25 tahun untuk memahami persepsi orang dewasa muda dalam menanggapi ujaran kebencian di media sosial.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengutip Phys.org, orang dewasa yang menggunakan media sosial sebenarnya yakin bahwa ujaran kebencian di ruang digital akan berdampak negatif. Seperti akan menimbulkan polarisasi hingga agresi di dunia nyata, baik secara verbal maupun fisik.
Mengapa Sebagian Orang Memilih untuk Diam?
Sebagian besar orang dewasa muda, merasa "tidak perlu" menanggapi ujaran kebencian yang tersebar di media sosial. Sikap menghindar yang dilakukan, bukan berarti mereka setuju dengan hal tersebut.
Mereka dihadapkan dengan berbagai hambatan seperti, melaporkan insiden di media sosial adalah hal yang rumit, atau tidak ingin algoritma memunculkan konten serupa lagi karena interaksi yang dilakukannya. Bahkan sejumlah orang akan mengira respon mereka tidak akan ditindaklanjuti oleh pihak pengelola keamanan media sosial.
Seharusnya, mereka bisa mengambil langkah bijak dengan melaporkan unggahan atau profil dan menanggapinya secara konstruktif. Akan tetapi, hambatan intervensi selalu menghalangi mereka untuk bertindak.
Sementara sikap diam dianggap lebih aman dan tidak akan mendapat respons yang tidak diinginkan dari orang lain. Mereka juga tidak ingin tanggapan dan kontribusinya justru mengundang kebencian yang berujung pada keviralan di media sosial.
Bagaimana Seharusnya?
Di sisi lain, para pengguna media sosial yang paham dan berani mengambil tindakan sangat membantu para korban yang menjadi sasaran di ruang digital. Hal tersebut juga dapat memperlambat maraknya penyebaran ujaran kebencian.
Pada dasarnya, setiap orang hanya enggan terlibat lebih jauh pada ruang publik di media sosial. Itulah mengapa, banyak orang yang memilih untuk tidak bertindak meski hanya sebatas komentar.
Mungkin, sikap peduli dapat dilakukan secara personal dengan mengirim pesan pribadi kepada target ujaran kebencian di media sosial. Dengan demikian, seseorang dapat menyampaikan dukungannya tanpa perlu terlihat oleh pengguna lainnya. Selain itu, korban juga akan merasa mendapat dukungan sosial.
Untuk itu, studi yang terbit di jurnal Behaviour & Information Technology pada tanggal 2 Januari 2026, menyarankan agar platform media sosial membuat sistem pelaporan yang lebih menarik dengan proses yang sederhana dan transparan dengan apa yang diajukan dan bagaimana hasilnya.
(sls/pal)











































