Serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran yang menimbulkan serangan balik, memperburuk kondisi keamanan global. Namun, tahukah detikers jika negara Iran dulunya merupakan kekaisaran Persia, yang terkenal kokoh berabad-abad lamanya?
Di tengah eskalasi militer modern yang melanda Teheran, dunia kembali membahas sejarah panjang Iran yang pernah dinamakan Persia.
Asal-usul Nama Persia-Iran
Persia diambil dari bahasa Yunani kuno yaitu Persis. Kata ini berasal dari Parsa, nama wilayah barat daya tempat lahirnya Kekaisaran Akhemenid yang berkuasa 550 SM hingga 330 SM.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengutip The Daily Star, Persia memiliki dua arti menurut sejarawan klasik dan modern. Ahli sejarah modern menyebut, Persia adalah nama yang diberikan oleh pihak luar (eksonim) untuk menyebut peradaban masa itu.
Sementara menurut sejarawan klasik, nama tersebut melambangkan wilayah kekuasaan yang begitu luas dari Indus hingga Aegea.
Namun, orang Iran zaman dahulu ternyata telah menyebut wilayahnya sebagai "Iran". Mengutip Persian Walk, hal tersebut tertulis dalam dokumen sejarah kitab "Shahnameh. Buku ini mengutip beberapa sumber-sumber kuno dalam bentuk buku lama atau cerita lisan.
Namun, perpecahan yang terjadi kurang lebih empat kali menyebabkan banyak teks-teks kuno yang menyimpan bukti sejarah istilah "Iran" hilang karena sejumlah perpustakaan ikut terbakar. Adapun dokumen tertua yang masih bertahan menyebut, kata Iran merupakan turunan modern dari Aryana, Eran, atau Airan.
Bukti tersebut ditemukan pada sebuah prasasti batu raja Sassanian Persia (226 M - 651 M) di Naghseh-Rostam. Seorang Raja Ardeshir I (226-241 M) mengklaim dirinya adalah raja dari raja-raja Eran dan An-eran atau Arya dan non-Arya. Sassanian juga menggunakan istilah Eran-Shahr yang artinya "tempat orang Arya" yang kemudian berubah menjadi Iran-Shahr.
Akan tetapi, orang-orang luar seperti bangsa Roma dan Kristen Eropa lebih familiar dengan nama Persia dibanding Iran yang merupakan bahasa lokal. Hal ini dipicu oleh peta geopolitik Eropa pada masa Renaisans dan Pencerahan yang menggunakan bahasa pendidikan klasik.
Peresmian Nama Iran secara Diplomatik
Setelah berabad-abad lamanya, nama kekaisaran Persia resmi berganti menjadi Iran di bawah kepemimpinan Reza Shah Pahlavi pada 1935. Sejak saat itu, nama Iran mulai digunakan secara diplomatik dan diperkenalkan secara internasional.
Pemerintah Iran kala itu mengajukan permintaan perubahan nama ke seluruh kedutaan asing, serta persetujuan untuk kembali menggunakan identitas internal dengan bahasa lokal Iran. Bukan sekadar berganti nama, langkah ini adalah bentuk deklarasi kedaulatan wilayah.
Dengan perubahan nama tersebut, Iran menghidupkan lagi peradaban linguistik dan budaya mereka ribuan tahun lalu. Langkah ini sekaligus bentuk penolakan tegas terhadap klaim asing yang memberi nama negara tersebut dengan istilah luar.
Kendati demikian, Persia belum sepenuhnya hilang dari kosakata dunia setelah deklarasi 1935. Hingga saat ini, nama tersebut masih dikenal sebagai bagian dari budaya dan romantisme sejarah.
Pemerintahan Pahlavi tidak melarang total penggunaan istilah Persia secara nonformal. Keduanya boleh digunakan. Karena identitas politik dan hukum negara, namanya secara resmi tetap Iran.
Kekaisaran Jadi Republik Islam
Pada 1979, Persia yang telah berganti nama menjadi Iran kemudian juga bertransisi dari monarki kekaisaran ke negara republik Islam. Transisi ini dipicu oleh penggulingan Shah Mohammad Reza Pahlavi.
Dengan revolusi tersebut, Negara Kekaisaran Iran memiliki nama resmi Republik Islam Iran.
(sls/twu)











































