Iran sedang diserang Israel dan Amerika Serikat (AS) pada Sabtu (28/2/2026) pagi. Salah satu yang kena sasaran rudal Israel adalah SD putri di kota Minab, provinsi Hormozgan, Iran selatan.
"Jumlah korban tewas dari sekolah dasar perempuan Minab telah mencapai 40 orang," bunyi keterangan televisi pemerintah Iran, dilansir AFP, Sabtu (28/2/2026) dikutip dari detikNews.
Sebelum itu, Iran telah mengalami krisis geopolitik dan tekanan ekonomi. Semua sektor kehidupan terdampak, termasuk sektor pendidikan. Dilansir China Global Television Network (CGTN) pada 12 Februari 2026 yang memotret kehidupan di Iran di sektor pendidikan. Baik guru, murid dan wali murid sama-sama mengalami kecemasan mendalam tentang masa depan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sekolah-sekolah ditutup-buka imbas pemadaman listrik dan polusi udara. Siklus penutupan dan pembukaan kembali ini telah menyebabkan ketidakstabilan yang melemahkan. Begitu ritme ditemukan, ritme itu hancur lagi.
"Butuh waktu untuk terbiasa dengan situasi ini. Dan kemudian ada masalah dengan semua hari libur yang harus kami ambil. Bolak-balik ini membuat siswa sulit beradaptasi. Dan itu hanya salah satu dampak negatif dari penutupan sekolah," ujar guru matematika, Mahmoodian.
Pembelajaran jarak jauh, juga bukan merupakan solusi. Saat PJJ, guru menggambarkan siswa memang hadir secara fisik di layar tetapi jauh secara emosional.
"Pembelajaran daring tidak memungkinkan pengawasan langsung yang dibutuhkan beberapa siswa untuk mempertahankan fokus. Pembelajaran tatap muka lebih cocok untuk mereka," imbuh Mahmoodian.
Guru mengatakan dampak pendidikan sangat berat. Mengejar ketertinggalan dalam mata pelajaran yang kompleks menjadi hampir mustahil, dan tekanan menumpuk pada siswa. Salah siswa mengaku stres karena bisa menghadapi 3 sampai 4 ujian sehari. Guru pun akhirnya ngebut untuk menuntaskan materi.
"Kami belum menyelesaikan ujian akhir sebelum sekolah ditutup. Saya benar-benar stres saat itu. Sekolah harus mengadakan tiga atau empat ujian dalam satu hari. Ketika kami memiliki banyak hari libur, guru harus mengajar dengan kecepatan yang jauh lebih cepat, sehingga kami tidak dapat mempelajari pelajaran secara efisien," ujar salah satu siswa, Shahrooz.
"Matematika adalah mata pelajaran yang sulit, jadi ini menimbulkan masalah besar bagi kami jika kami tertinggal. Guru harus berusaha keras untuk membantu kami. Saya benar-benar kesulitan dengan matematika, terutama selama ujian akhir," demikian pengakuan siswa lainnya, Amir Mohammad.
Kontribusi terhadap krisis pendidikan ini adalah infrastruktur yang kurang memadai. Bahkan solusi sementara digital pun gagal lantaran Iran sempat memutus jaringan internet untuk alasan keamanan karena demo besar-besaran pada Januari 2026 lalu.
"Apa yang kita hadapi saat ini, dan ini merupakan tantangan nyata, adalah pemutusan internet yang terus-menerus. Kami menggunakan platform daring untuk mengadakan kelas virtual. Tetapi ada gangguan internet, sehingga tidak dapat memenuhi tujuan pendidikan kami," ujar seorang kepala sekolah Mohammad Ali Kazimi.
Tetap Bergeliat dan Berprestasi
Di tengah keterbatasan ini, situs berita pemerintah Iran, IRNA tetap memberitakan kegiatan pendidikan dan siswa berprestasi.
Avan Jalilian (8), seorang siswa SD menduduki peringkat kedua di seluruh dunia dalam kontes poster global yang diselenggarakan oleh Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) yang dilansir 24 Februari 2026 lalu.
Berita IRNA pada 25 Februari 2026 lalu mengabarkan Institut Royan, yang berafiliasi dengan Pusat Akademik untuk Pendidikan, Kebudayaan, dan Penelitian (ACECR), akan menyelenggarakan Kongres Kedokteran Reproduksi Internasional ke-27 bersamaan dengan Kongres Teknologi Sel Punca Internasional ke-22 di Teheran mulai 2 hingga 4 September 2026. Kedua acara tersebut akan berlangsung di Aula Abū Rayḥān Universitas Shahid Beheshti, mengikuti 26 edisi sebelumnya yang telah memainkan peran penting dalam mendorong penelitian ilmiah kolaboratif dan menarik para ilmuwan dan peneliti terkemuka dari seluruh dunia.
Berita IRNA pada 25 Januari 2026 mengabarkan Rektor Universitas Sains dan Teknologi Iran (IUST), Mamhoud Shokrieh, menekankan perluasan kerja sama akademik dengan universitas-universitas Jepang selama kunjungan Duta Besar Jepang untuk Teheran, Tamaki Tsukada.
Akankah sektor pendidikan Iran bertahan di tengah agresi yang dimotori Israel-AS?
