Pakar IPB: Ramadan Jangan Jadi Ajang Balas Dendam Belanja

Pakar IPB: Ramadan Jangan Jadi Ajang Balas Dendam Belanja

Abdur Rahman Ramadhan - detikEdu
Sabtu, 28 Feb 2026 05:01 WIB
Warga memadati PKL Kebon Kacang di Kecamatan Tanah Abang, Jakarta, Kamis (26/2/2026). Sejak pukul 16.00 WIB, PKL mulai diserbu warga hingga waktu berbuka puasa.
Warga berburu takjil saat Ramadan. Foto: Andhika Prasetia/detikFoto
Jakarta -

Setiap Ramadan, euforia belanja semakin terasa. Mulai dari promo hampers, diskon baju Lebaran, hingga war takjil kerap berujung pembelian berlebih.

Di balik kemeriahannya, bulan suci justru terkadang bergeser dari makna utamanya, yaitu menahan diri.

Pakar perilaku konsumen IPB University Prof Megawati Simanjuntak mengingatkan, Ramadan kerap menjadi periode rawan terjadinya pembelian berlebihan (overbuying). Menurutnya, kondisi ini berlawanan dengan esensi puasa yang sejatinya mengajarkan kesederhanaan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Overbuying adalah perilaku membeli barang atau jasa secara berlebihan tanpa mempertimbangkan kebutuhan yang sebenarnya. Perilaku ini sering terjadi saat Ramadan dan lebih banyak membawa dampak negatif," jelasnya, dikutip dari keterangan kampus, Jumat (27/2/2026).

Godaan Takjil Berlebihan

Megawati mencontohkan, perilaku konsumtif paling sering terlihat menjelang waktu berbuka puasa. Berbagai hidangan disiapkan secara berlebihan, mulai dari makanan berat hingga aneka takjil seperti gorengan, kolak, es buah, dan kurma.

ADVERTISEMENT

"Sering kali makanan yang tersedia di meja berbuka jumlahnya jauh melebihi yang diperlukan tubuh. Ini tidak baik, baik dari sisi kesehatan maupun pengeluaran," ujarnya.

Ia menjelaskan, kondisi lapar setelah seharian berpuasa sering kali memicu apa yang disebut "lapar mata". Keinginan untuk membeli banyak makanan muncul bukan karena kebutuhan, melainkan dorongan emosional sesaat.

Jangan FOMO

Tak hanya itu, perilaku konsumtif juga meningkat menjelang Hari Raya. Masyarakat terdorong membeli berbagai kebutuhan tambahan, mulai dari pakaian baru, hidangan khas Lebaran, hingga aneka kue kering. Di era digital, tekanan konsumsi semakin kuat akibat pengaruh media sosial.

"Ketika ada tren tertentu, orang merasa harus ikut beli meski sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Contohnya tren busana Lebaran yang hanya dipakai sekali, lalu tidak digunakan lagi," katanya.

Ramadan, Momentum Latihan Kendali Diri

Menurut Megawati, agar nilai Ramadan tetap terjaga, masyarakat perlu membekali diri dengan perencanaan keuangan yang baik. Salah satunya dengan membuat daftar kebutuhan sebelum berbelanja dan menahan diri dari pembelian impulsif.

"Jangan sampai lapar mata membuat kita membeli barang-barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan dan bahkan cenderung berlebihan. Perlu diingat, Ramadan bukan hanya soal konsumsi, tapi momentum untuk berlomba-lomba dalam ibadah, kebaikan dan melatih pengendalian diri," ujarnya.

Ia juga mengajak masyarakat menjadikan Ramadan sebagai momen untuk hidup lebih sederhana dan bijak berbelanja.

"Kalau kita bisa menahan diri saat belanja, kita bukan cuma lebih sehat dan hemat, tapi juga ikut membangun kebiasaan hidup yang lebih baik," ujarnya.




(rhr/twu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads