Kata Pakar IPB soal Fenomena War Takjil: Tak Sekadar Berebut Makanan, Tapi Kenangan

ADVERTISEMENT

Kata Pakar IPB soal Fenomena War Takjil: Tak Sekadar Berebut Makanan, Tapi Kenangan

Devita Savitri - detikEdu
Kamis, 19 Feb 2026 18:00 WIB
Meme war takjil
Ilustrasi war takjil. Pendapat pakar IPB University soal fenomena war takjil saat Ramadan. Foto: x/Instagram
Jakarta -

Ramadan di Indonesia dipenuhi dengan berbagai tradisi dan fenomena unik yang mungkin tidak ditemukan pada negara lain. Salah satu fenomena yang viral pada Ramadan tahun lalu adalah war takjil.

Takjil menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti panganan dan minuman untuk berbuka puasa. Menjelang waktu berbuka, banyak pedagang takjil di berbagai wilayah Indonesia.

Suguhan yang dijual beragam, termasuk makanan khas seperti bubur sumsum, lontong, dan gorengan, atau makanan langka yang tak ada di hari biasa. Istilah war takjil timbul lantaran masyarakat bersaing untuk mendapatkan takjil favoritnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bukan hanya umat muslim yang berpuasa, pada 2025, war takjil juga diikuti oleh masyarakat nonmuslim di berbagai daerah. Cara yang disampaikan juga unik, ada yang terang-terangan membeli takjil saat sore hari atau menggunakan selendang seperti hijab agar tak dicurigai.

Melihat fenomena ini, pakar dan dosen IPB University Tjahja Muhandri beri pendapat. Menurutnya, war takjil merupakan fenomena sosial yang unik.

ADVERTISEMENT

Keunikan bisa dilihat dari munculnya makanan dan minuman yang tergolong langka. Untuk itu, Tjahja menilai tak hanya rebutan makanan, umat muslim dan nonmuslim yang war takjil juga berebut kenangan.

"Silakan dicek, akan banyak makanan atau minuman yang pada hari biasa tidak ada, tapi muncul saat Ramadan. Tersaji menarik, harganya murah. Maka rebutan akan makanan atau minuman takjil itu bisa jadi adalah rebutan 'kenangan'," tuturnya dikutip dari laman IPB University, Kamis (19/2/2026).

Ingatkan Kebersihan dan Tak Ragu Ikuti Trend

Meningkatnya minat masyarakat pada takjil tentu membawa dampak positif bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Ketika konsumen sampai berebut membeli takjil, artinya kebutuhan dan pasar tengah merespons dengan cepat.

Produk yang dijualkan cenderung laku keras dan hampir tidak tersisa. Terlebih, jika produk tersebut tengah viral di media sosial.

Tjahja menyebut, tak ada salahnya penjual mengikuti tren dan meniru produk yang sedang viral. Namun, penjual harus mencantumkan harga jual secara transparan.

Pencantuman harga jual yang jelas akan membuat konsumen merasa nyaman dan aman saat membeli produk. Mereka juga tidak khawatir akan 'digetok harga' mahal oleh penjual.

Selain mengikuti tren, Tjahja menekankan pentingnya aspek kebersihan dan keamanan pangan. Pengawasan terhadap kualitas dan kebersihan produk jualan merupakan hal yang tak bisa dianggap sepele.

Kebersihan ini mencakup produk, wadah, penyajian, bahkan lapak jualan. Ia mengingatkan agar penjual menggunakan perlengkapan standar, minimal masker dan sarung tangan bersih saat melayani konsumen.

"Semua bisa jualan dan gelar lapak. Karena itu, aspek kebersihan sangat penting untuk mencegah risiko keracunan atau penyakit," tegas sosok yang sehari-hari aktif membina pelaku usaha UMKM itu.



(det/twu)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads