Al-Azhar asy-Syarif atau Universitas Al Azhar merupakan salah satu lembaga Islam tertua di dunia yang didirikan pada 7 Ramadan 361 Hijriah atau 972 Masehi. Pada Ramadan 2026, usia Al Azhar telah mencapai 1.086 tahun.
Mengutip laman resminya, Universitas Al Azhar disebut sebagai universitas tertua ketiga setelah Universitas Zaytouna di Tunisia dan Al-Qarawiyyīn di Maroko. Bahkan, lebih dulu dari kampus tertua di Eropa yakni Universitas Bologna di Italia.
Meski begitu, dalam status pengakuan perguruan tinggi modern, Al Azhar baru dianggap sebagai universitas pada 1961. Namun, sejarah sebagai lembaga pendidikan tertua tetap tidak gugur karena pembelajaran di kompleks Al Azhar telah dimulai sejak 970-an Masehi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejarah Singkat Universitas Al Azhar
Mengutip Times Higher Educatin (THE), Universitas Al Azhar didirikan oleh Dinasti Fatimiyah. Mulanya, cikal bakal universitas tersebut berawal dari lembaga informal tanpa ada persyaratan masuk dan gelar resmi.
Pelajar di sana, akan mempelajari hukum Islam, Al Qur'an, dan berbagai ilmu. Termasuk teologi, bahasa Arab, logika, tata bahasa, dan cara menghitung fase bulan.
Sama seperti lembaga Islam tertua sebelumnya, kompleks pendidikan Al Azhar dimulai dari masjid. Pada masa Dinasti Fatimiyah, Masjid Al Azhar didirikan sebagai masjid pertama di Kairo.
Tak hanya berfungsi sebagai tempat beribadah, masjid tersebut dibangun sebagai pusat ilmu pengetahuan. Berbagai cendekiawan turut serta dalam aktivitas di Masjid Al Azhar dan sekitarnya untuk mengajarkan berbagai disiplin ilmu, termasuk filsafat dan logika.
Dalam peradaban ilmu pengetahuan di Al Azhar, wanita aktif dalam beberapa pelajaran dan studi. Hal ini memicu perluasan bidang hingga ke pengajaran astronomi, aritmatika, kedokteran, arsitektur, geologi, sejarah, ilmu sosial, dan sebagainya.
Sementara itu, ada beberapa ahli ilmu yang kerap dikaitkan dengan Al Azhar antara lain Ibnu Khaldun, Ibnu Ḥajar Al-‛Asqalāni, As-Sakhāwi, Ibnu Taghri Bardi, hingga Al-Qalqashandi.
Status Universitas Modern
Seiring waktu, kompleks pendidikan Al Azhar terus berkembang dari satu dinasti ke kekaisaran hingga era modern. Dalam berbagai gejolak, Al Azhar tetap bertahan dan sempat menjadi satu-satunya sumber pengajaran ilmu pengetahuan dan lulusan pegawai serta guru untuk negara-negara di dunia muslim.
Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, Universitas Al-Azhar mulai mengalami reformasi dan modernisasi. Lembaga ini mengadopsi sistem modern dengan dewan direksi pertama yang dibentuk pada tanggal 6 Rajab tahun 1312 H (1895 M).
Kemudian pada 1911 hingga 1930, Universitas Al Azhar terus berkembang dan memiliki tiga fakultas yakni Teologi Islam (Uṣūlu-Dīn), Hukum Islam (Syariah), dan Bahasa Arab. Tak lama setelahnya, dibuka kampus pascasarjana.
Pada awal tahun 1960-an, Al-Azhar dinasionalisasi dan mengalami reformasi besar-besaran, yang menghasilkan penambahan fakultas kedokteran dan fakultas teknik. Perempuan juga mulai diterima untuk belajar pada 1962.
Al Azhar membuka pintu untuk pendidikan bagi perempuan Muslim dengan mendirikan perguruan tinggi khusus perempuan, yang mencakup cabang studi kedokteran, perdagangan, sains, bahasa Arab dan studi Islam, serta humaniora.
Kini, Universitas Al Azhar dikenal sebagai kampus yang mendukung mahasiswa internasional dari berbagai negara Afrika, Eropa, Amerika, Asia, dan Australia. Kampus ini telah memiliki kurang lebih 34 fakultas sains dan teori serta 45 fakultas Syariah, dengan total 79 fakultas serta dua institut keperawatan, 47 untuk laki-laki dan 32 untuk perempuan.
Selain itu, perpustakaan Universitas Al Azhar juga dianggap sebagai perpustakaan terpenting kedua di Mesir, setelah Perpustakaan dan Arsip Nasional Mesir.
