Sebagian besar orang setuju bahwa sakit gigi sangatlah mengganggu. Rasa ngilunya seakan menghantui di setiap kegiatan sehari-hari. Namun, orang zaman dahulu justru percaya jika rasa sakit yang timbul disebabkan hewan kecil bernama "cacing gigi".
Memang terdengar sangat aneh ada seekor cacing yang hidup di dalam gigi berlubang. Namun, British Museum mencatat asumsi ini diperkirakan muncul sejak zaman Mesopotamia. Zaman di mana manusia mulai mengenal baca tulis, dan mulai mencatatkan sejarah.
Dikutip dari IFL Science, ada sebuah artefak berupa tablet aksara paku yang menceritakan tentang seekor cacing yang dikirim dewa ke Bumi. Cacing itu bernama tultu dan bertugas untuk memakan sisa makanan di mulut manusia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ada pula tablet tanah liat dari masa Kekaisaran Neo-Asyria di Irak Utara, yang menggambarkan cacing di gigi sebagai musuh manusia. Cacing-cacing itu dianggap masuk melalui pintu daging (mulut), dan palang tulang (gigi).
Baca juga: Benarkah Pelihara Kucing Bisa Bikin Mandul? |
Tercantum pula seruan terhadap Dewa Marduk untuk memaksa keluar cacing-cacing itu, seperti seekor musang yang dipaksa keluar dari lubangnya.
Selain itu, ada juga aksara paku lainnya dari Babilonia, mengisahkan cacing yang menolak untuk tinggal di buah ara atau aprikot. Mereka justru memilih singgah di gigi dan gusi manusia untuk menghisap darah dan mencabik-cabik gusi.
Uniknya lagi, mitos ini terus berlanjut dan semakin menyebar ke berbagai wilayah. Mitos cacing gigi ini sejalan dengan mitos "ramalan hati domba" yang juga berasal dari zaman Mesopotamia untuk memahami penyakit sebelum ilmu kedokteran berkembang.
Di wilayah berbeda, cacing gigi dideskripsikan menyesuaikan dengan budaya setempat. Seperti di Inggris, ada studi (1999) yang menyebut bahwa masyarakat di sana mengira cacing gigi tampak seperti belut-belut yang sangat kecil. Sementara orang-orang di Jerman membayangkan cacing gigi berwarna merah, biru, dan abu-abu.
Orang dulu percaya bahwa cacing gigi akan muncul pada gigi yang berlubang, dan akan mati begitu lubang terkena udara. Meski keliru, analogi ini cukup jenius untuk menjelaskan cacing gigi yang sebenarnya tidak benar-benar ada.Karena saat gigi berlubang dibuka, maka akan terlihat bubur dan pulpa yang memang mirip seperti cacing yang sudah hancur dan mati.
Memasuki zaman pencerahan sekitar abad ke-17 dan ke-17 masehi, mitos ini mulai dianggap hanya sekadar legenda. Meski kepercayaan ini masih bertahan di zaman modern, hanya sedikit dari tenaga medis yang mempercayai keberadaan cacing gigi.
Tapi detikers tidak perlu khawatir, karena secara medis cacing gigi memang tidak pernah ada bukti kehadirannya di dunia. Rasa nyeri yang timbul akibat gigi berlubang disebabkan oleh mikroba bakteri yang hidup di sana. Mereka sangat menyukai sisa-sisa makanan yang ada di sela-sela gigi terutama makanan manis.
Sejauh ini hanya ada satu cacing yang benar-benar ditemukan hidup di dalam tubuh manusia. Ia adalah cacing Gongylonema, yang mampu bertahan hidup selama sepuluh tahun sebagai parasit. Meski demikian, parasit jenis sangat jarang ditemukan secara medis.
Hewan lain yang diketahui hidup di dalam tubuh manusia adalah lebah. Tapi lebah tersebut ditemukan bertelur pada gigi berlubang milik manusia yang sudah menjadi fosil berusia 20.000 tahun. Jadi, apakah detikers pernah percaya tentang mitos cacing gigi yang hidup di gigi berlubang?
(sls/pal)











































