Ilmuwan Perkirakan Inti Bumi Bisa Simpan Air hingga 50 Samudra

Ilmuwan Perkirakan Inti Bumi Bisa Simpan Air hingga 50 Samudra

Novia Aisyah - detikEdu
Minggu, 22 Feb 2026 19:00 WIB
Kontes fotografi Tournament Earth mempertandingkan 32 foto hasil jepretan astronaut di luar angkasa
Foto Bumi dari angkasa luar. IFoto: NASA
Jakarta -

Bumi memang disebut-sebut menyimpan banyak misteri. Salah satunya diungkapkan dalam penelitian terbaru yang menguak inti bumi merupakan lokasi penyimpanan utama hidrogen.Jika bertemu dengan oksigen untuk membentuk air, hasilnya bisa mencapai 9 sampai samudra global.

Badan Kelautan dan Atmosfer AS dalam lamannya menjelaskan, pada dasarnya hanya ada satu samudra global di permukaan Bumi. Hamparan air luas ini kemudian dibagi berdasarkan wilayah dan diberi nama, yakni Atlantik, Pasifik, Hindia, Arktik, dan yang terbaru, Samudra Selatan.

"Air yang kita lihat di permukaan Bumi saat ini mungkin hanyalah 'puncak gunung es' yang berada jauh di dalam planet ini," kata Profesor ETH Zurich Motohiko Murakami, dikutip dari laman kampus.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Simulasi Pembentukan Inti Bumi

Dalam penelitian tersebut, tim yang dipimpin oleh Murakami di ETH Zurich melakukan eksperimen laboratorium yang dirancang untuk mensimulasikan tekanan dan panas sangat tinggi yang ada selama pembentukan bumi. Mereka menyimpulkan, hidrogen kemungkinan memasuki inti bumi sejak dini, bergerak bersama silikon dan oksigen saat bagian dalam planet terpisah menjadi beberapa lapisan.

ADVERTISEMENT

Tidak ada bor yang dapat mencapai inti bumi. Gelombang seismik memang membantu, tetapi kondisi inti bumi sangat ekstrem sehingga mencocokkan data laboratorium dengan Bumi yang sebenarnya dapat dikatakan sulit, dikutip dari ZME Science.

Jadi, tim tersebut menciptakan kembali kondisi pembentukan inti bumi menggunakan sel landasan berlian yang dipanaskan laser. Dua berlian kecil menekan sampel pada tekanan yang jauh melebihi apa pun di permukaan, sementara laser mendorong suhu hingga ribuan derajat.

Dalam pengaturan para peneliti, kapsul kristal yang mengandung air menampung sepotong kecil besi logam. Ketika besi meleleh, hidrogen, oksigen, dan silikon bergerak ke dalam logam cair.

Kemudian para peneliti dengan cepat membekukan sampel tersebut sehingga mereka dapat memeriksa di mana atom-atom itu berada. Bagian yang menantang adalah menemukan hidrogen, unsur teringan, di dalam logam padat dalam kondisi tersebut.

"Dengan menggunakan tomografi mutakhir, kami akhirnya dapat memvisualisasikan bagaimana atom-atom ini berperilaku di dalam besi logam," kata mantan peneliti pascadoktoral dan penulis pertama studi tersebut, Dongyang Huang.

Hasil kuncinya adalah hidrogen secara kimiawi terbungkus dalam material inti. Hidrogen tidak berada di inti sebagai gas bebas atau sebagai molekul air. Sebaliknya, ia menjadi bagian dari logam itu sendiri, membentuk hidrida besi yang terikat pada nanostruktur kaya silikon dan oksigen di dalam paduan besi.

Bagian itu penting karena menawarkan mekanisme bagaimana hidrogen dapat terbawa ke bawah selama pembentukan inti, alih-alih tetap berada di dekat permukaan.

Jika Membentuk Air, Bisa Mencapai 50 Samudra

Tim memperkirakan bahwa hidrogen membentuk sekitar 0,07% hingga 0,36% dari massa inti. Persentase itu terdengar kecil, tetapi inti Bumi sangat besar.

Jika bertemu oksigen dan membentuk air, perkiraan tersebut setara dengan sekitar 9 hingga 45 samudra. Beberapa ringkasan menggambarkannya hingga sekitar 45 samudra.

Para ilmuwan telah lama memperdebatkan apakah air di Bumi sebagian besar tiba terlambat, dibawa oleh komet dan asteroid setelah inti terbentuk, atau apakah sebagian besar air tersebut sudah ada selama fase pembentukan utama planet ini.

Studi ini mendukung teori kedua, yaitu jika begitu banyak hidrogen berakhir di inti, kemungkinan besar persediaan yang besar sudah ada sejak awal, saat inti sedang terbentuk, bukan hanya setelahnya.Namun, itu tidak berarti komet tidak membawa apa pun.

Hidrogen yang tersimpan di kedalaman dapat memengaruhi beberapa sistem Bumi besar dalam jangka waktu yang panjang. Tim ETH menunjukkan kemungkinan keterkaitan dengan bagaimana inti menghasilkan medan magnet bumi, bagaimana mantel bergerak, dan bagaimana hidrogen mungkin perlahan-lahan bersirkulasi antara Bumi bagian dalam dan permukaan selama miliaran tahun.

Ada juga manfaat yang lebih luas, yaitu mempelajari bagaimana hidrogen berperilaku dalam logam pada tekanan tinggi membantu para peneliti memodelkan planet ekstrasurya berbatu. Campuran unsur ringan di interior planet dapat memengaruhi apakah planet tersebut membentuk inti logam dan bagaimana ia berevolusi.

"Temuan ini meningkatkan pemahaman kita tentang Bumi bagian dalam," kata Murikami.

"Temuan ini memberikan petunjuk tentang bagaimana air dan zat volatil lainnya didistribusikan di tata surya awal dan bagaimana Bumi memperoleh hidrogennya," imbuhnya.

Penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications dengan judul "Experimental quantification of hydrogen content in the Earth's core", 10 Februari 2026.




(nah/twu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads