China memiliki program pelatihan bakat matematika di Universitas Tsinghua untuk para siswa terpilih. Hasilnya, para siswa memiliki akademik yang lebih unggul dari Amerika Serikat (AS) dalam kompetisi matematika bergengsi.
Program tersebut dibuat oleh profesor matematika ternama Shing-Tung Yau. Program pelatihan bakat matematika ini diluncurkan pada 2020 dan memilih sekitar 100 siswa SMA berprestasi di seluruh negeri setiap tahunnya.
Rektor Qiuzhen College di Universitas Tsinghua, Profesor Qiu Chengdong, mengatakan bahwa program ini telah melampaui harapan awal. Salah satunya, partisipan mahasiswa Universitas Tsinghua yang bisa melampaui mahasiswa dari kampus top AS.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mahasiswa Tsinghua yang berpartisipasi dalam program ini tidak hanya mampu mengimbangi tetapi juga melampaui mahasiswa dari banyak universitas top Amerika dalam kompetisi matematika bergengsi," ujar peraih Medali Fields, penghargaan tertinggi matematikawan dunia, dikutip dari Vietnam.VN.
Pelatihan Khusus 8 Tahun, Bebas Ujian Masuk Universitas
Bagi siswa yang lolos program pelatihan bakat matematika, mereka akan dibebaskan dari "gaokao" atau ujian masuk universitas. Mereka akan fokus mengikuti program selama 8 tahun, dari tingkat sarjana hingga doktoral, yang berfokus secara mendalam pada matematika dan bidang terkait.
Saat ini, akademi yang memiliki program tersebut sudah memiliki hampir 800 siswa. Hasil dari program ini, terlihat dalam Kompetisi Putnam - yang dianggap sebagai salah satu kompetisi matematika universitas tersulit di AS.
Pada 2022 lalu, mahasiswa Universitas Tsinghua telah mencapai hasil yang setara dengan Massachusetts Institute of Technology (MIT) dan melampaui banyak universitas top Amerika lainnya.
Dalam kompetisi tersebut, mahasiswa tidak hanya mempelajari matematika dan fisika, tetapi juga terlibat dengan kecerdasan buatan, biologi, dan humaniora. Selain itu, juga mengunjungi situs-situs bersejarah untuk mengembangkan pemahaman tentang budaya dan identitas.
Menciptakan Kelas Unggulan di Sekolah Menengah
Selain program universitas, Professor Qiu mendirikan lebih dari 50 kelas berbakat di seluruh China untuk siswa SMP dan SMA. Setiap tahun, sekitar 3.000 siswa berusia 12 tahun ke atas dipilih untuk mengikuti kelas ini. Fokus utama adalah pembelajaran nyata, bukan sekadar persiapan ujian
"Banyak matematikawan hebat menunjukkan bakat mereka sejak usia 12-13 tahun. Yang penting adalah membimbing mereka dengan pengetahuan nyata, bukan tekanan ujian," jelas Qiu.
Program ini juga menekankan kerja kelompok dan dukungan dari peneliti sarjana dan postdoctoral, sehingga siswa merasa didukung dan tekanan psikologis berkurang.
Tantangan Terbesar
Meski optimis, Profesor Qiu mengakui bahwa tantangan terbesar terletak pada tahap pascasarjana. Hal ini terutama berkaitan dengan bagaimana mahasiswa bisa menghasilkan penelitian paling mutakhir di dunia.
Pada saat yang bersamaan, ia yakin terhadap prospek karier mahasiswa matematika, karena China meningkatkan investasi di bidang ilmu pengetahuan dasar. Ia turut menasihati para peneliti muda untuk tidak mengejar gelar atau kesuksesan jangka pendek, tetapi untuk tekun dalam memperdalam keahlian mereka.
Baginya, ukuran keberhasilan program yang paling utama bukanlah jumlah penghargaan atau publikasi, melainkan kemampuan untuk melatih para pemikir yang dapat "mengubah arah matematika".
Saat ini, akademi pelatihan bakat matematika memiliki banyak profesor terkemuka, seperti matematikawan peraih Medali Fields, Caucher Birkar, dan ahli geometri simetri, Kenji Fukaya.
Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.
(crt/faz)











































