Virus nipah tengah ramai diperbincangkan di berbagai belahan dunia termasuk Indonesia. Setelah dua kasus terdeteksi di India bulan Januari lalu, beberapa negara lantas berjaga-jaga dengan menerapkan protokol kesehatan.
Mengutip detikEdu, virus nipah adalah virus yang ditularkan oleh hewan (virus zoonosis) seperti kelelawar buah atau babi. Virus ini juga dapat ditularkan lewat makanan, atau terpapar secara langsung.
Pasien terjangkit biasanya akan mengalami demam hingga peradangan pada otak. Selain itu, angka kematian yang disebabkan oleh virus nipah juga cukup tinggi, sekitar 40 hingga 75%. Namun, sampai hari ini belum ditemukan obat untuk virus nipah, menurut WHO.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saat ini belum ada pengobatan atau vaksin yang tersedia untuk virus nipah, namun beberapa kandidat produk sedang dalam pengembangan," tulis WHO dalam laman resminya, dikutip detikEdu pada Jumat (30/1/2026) lalu.
Menanggapi kasus ini, Ahli Kesehatan Masyarakat bidang Biostatistika Epidemiologi dan Dosen Luar Biasa Universitas Airlangga (Unair) Dr Windhu Purnomo dr MS, menjelaskan bahwa penting untuk mengantisipasi serta waspada sebelum virus nipah menyerang meski belum terdeteksi kasusnya di Indonesia.
"Jadi, kalau kita melihat secara epidemiologi ya, belum ditemukan kasus virus nipah di Indonesia. Sampai hari ini. Artinya pemerintah itu belum pernah mengumumkan bahwa tak ada satupun kasus manusia di Indonesia yang terinfeksi. Tapi kita harus tahu bahwa meskipun di Indonesia belum ada, virus ini sudah ada sejak lama," ujar Windhu, seperti dikutip dari laman resmi Universitas Airlangga, Jumat (13/2/2026).
Jangan Panik! Fokus pada Pencegahan
Awalnya, virus nipah muncul di negara tetangga yaitu Malaysia pada 1998, kemudian menyebar ke wilayah Asia Tenggara lainnya dan juga Asia selatan. Berdasarkan survei nasional tahun 2023-2024, Windhu menyampaikan telah ditemukan material genetik (RNA) pada kelelawar buah di Indonesia.
"Jadi tahun 2023-2024 itu sudah ada surveillance nasional yang sistematis yang menunjukkan bahwa dari 305 sampel kelelawar buah, itu terdapat empat kelelawar mengandung RNA virus Nipah (NiV). Artinya virus ini memang sudah ada di Indonesia, tapi belum di manusia," jelasnya.
Virus nipah ini dinilai berbahaya karena memiliki Case Fatality Rate (CFR) yang tinggi, atau dapat menjangkit sekitar 45-80%, yang lebih tinggi dari kasus COVID-19. Meski begitu, Windhu mengimbau agar masyarakat tidak perlu panik, hanya butuh fokus dan waspada sebagai upaya pencegahan.
"Yang penting, masyarakat menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Ini nanti juga meningkatkan imunitas tubuh. Makanan cukup, istirahat cukup, jangan terlalu kelelahan. Jangan makan buah codotan dulu. Kan orang senang makan codotan. Kenapa? Karena mesti enak itu, manis. Jangan dulu. Pokoknya ada buah krowok jatuh itu sudah tidak usah dimakan. Ya, buang," tuturnya.
Kenali Gejala Virus Nipah Sedini Mungkin
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dalam laman resminya menjelaskan ciri-ciri dan gajala virus nipah, yaitu:
- Memiliki masa inkubasi sekitar 4-14 hari sebelum gejala muncul
- Demam
- Sakit kepala
- Batuk
- Sakit tenggorokan
- Nyeri otot
- Sesak napas
- Muntah
- Kesulitan menelan
- Peradangan otak (ensefalitis)
Kondisi ensefalitis yang disebabkan oleh virus nipah dapat mengakibatkan gejala serius seperti kantuk berlebihan, sulit berkonsentrasi, disorientasi, dan perubahan mood yang signifikan.
Untuk pencegahan lebih dini, masyarakat perlu mengenali gejala awal yang ditimbulkan oleh virus nipah. Windhu menyebut bahwa gejala dari virus ini mirip dengan flu biasa seperti infeksi pada penyakit lain, seperti demam dan sakit pada umumnya.
Namun, gejala penyakit karena virus nipah dapat menyebabkan radang otak yang berujung koma, bahkan kematian. Windhu menegaskan bahwa masyarakat perlu lebih tegas dalam mengantisipasi virus ini, karena vaksin untuk itu belum ditemukan.
"Kalau sakit langsung ke dokter. Jangan dibiarkan saja sendiri. Puskesmas hingga rumah sakit harus bisa menangkap kasus-kasus dengan demam, dengan ispa berat, dengan encephalitis. Harus ada monitor terus, apakah ada peningkatan ensefalitis," imbaunya.
Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.
(sls/faz)











































