Tim Geologi Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh mencatat lubang raksasa Aceh di Ketol, Kabupaten Aceh Tengah kini memiliki luas lebih dari 30 ribu meter persegi. Lubang ini meluas sekitar 10 ribu m² dalam lima tahun terakhir.
Ahli geologi dari Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh, Bambang Setiawan mengatakan, berdasarkan data citra satelit pada 2015, 2021 dan 2025, lubang raksasa Aceh berpeluang untuk meluas.
"Karena citra satelit itu memperlihatkan adanya perluasan lubang ke arah selatan atau mendekati jalan lintas kabupaten," ujarnya, dikutip dari Antara, Jumat (6/2/2025).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengatasi fenomena ini, Bambang menyarankan pengalihan air dari wilayah pergerakan tanah sembari rambu-rambu jalan dipasang di sekitar lokasi. Langkah penanganan jangka pendek ini menurutnya dapat bantu tanah tidak cepat bergerak dan lubang tidak semakin besar.
"Untuk menangani fenomena tersebut dalam jangka pendek, saya menyarankan untuk mengalihkan aliran air permukaan yang ada agar tidak melewati lokasi kejadian," kata Bambang di Banda Aceh, dikutip dari Antara, Jumat (6/2/2025).
Butuh Penelitian Geologi
Ia menjelaskan, jika pengalihan air dilakukan, maka pihak terkait juga perlu menentukan lintasan aliran airnya. Pengalihan air juga menurutnya harus mempertimbangkan kondisi geologi di lokasi.
Untuk itu, Bambang berpendapat, fenomena lubang raksasa Aceh ini masih perlu dilakukan penelitian geologi lebih lanjut.
"Hasil penelitian itu diharapkan dapat menyimpulkan mekanisme terbentuknya 'lubang raksasa' tersebut," kata Dosen Teknik Geologi USK tersebut.
"Upaya-upaya mitigasi teknis untuk penanganan jangka panjang sebaiknya mengacu pada hasil dari penelitian geologi lebih lanjut tersebut," imbuhnya.
Secara geologis, menurutnya fenomena berpotensi dipicu oleh sinkhole. Sinkhole adalah lubang ambles di tanah yang terbentuk saat air melarutkan batuan permukaan.
Sinkhole bisa terjadi karena batu gamping (batu kapur) larut oleh air yang bersifat asam sehingga muncul rongga tanah yang membesar, demikian dikutip dari laman Kementerian ESDM.
Sinkhole juga bisa terjadi karena 'atap' gua atau sebuah rongga bawah tanah runtuh tiba-tiba karena tidak mampu menahan beban di atasnya. Alhasil, muncul juga lubang besar sinkhole.
Sinkhole juga berisiko terjadi karena eksploitasi air tanah berlebihan. Karena eksploitasi ini, struktur bawah tanah jadi melemah dan sinkhole makin cepat terbentuk.
Menurut Bambang, jika sinkhole sudah dipastikan sebagai pemicu lubang raksasa di Aceh, penanganannya lebih kompleks daripada bencana longsor.
"Karena pekerjaan teknis untuk menangani dampak sinkhole ini memerlukan effort dan membutuhkan sumber daya lebih besar dari longsor biasa," ujarnya.
Potensi Sinkhole di Lubang Raksasa Aceh
Bambang mengatakan, berdasarkan penelitian Cameron dkk (1983) yang menyusun peta geologi lembar Takengon, Aceh Tengah, terdapat formasi Sembuang (MPs) berupa batu gamping (limestone). Batu gamping ini mengalasi batuan vulkanik satuan Lampahan (Qvl) di permukaan.
Sementara itu, batuan vulkanik yang menyusun satuan Lampahan juga berisiko tinggi longsor. Risiko ini khususnya lebih tinggi pada lereng-lereng yang curam.
Selaras, Plt Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Dr Lana Saria SSi MSi menjelaskan, pada dasarnya ada pergerakan tanah di lubang raksasa Aceh Tengah. Lubang ini makin besar karena faktor aliran air, batuan, dan kemiringan.
Pada kawasan ambles ini, batuan dasarnya berupa batuan vulkanik yang kebanyakan adalah tufa, yaitu jenis batuan sedimen berpori. Batu dari abu gunung api ini belum sepenuhnya keras sehingga dapat gembur atau hancur kembali.
Batuan di lubang raksasa Aceh Tengah jadi gembur karena lereng tidak stabil dan dipengaruhi adanya rembesan air.
"Batuan dasar berupa batuan vulkanik yang didominasi oleh tufa yang bersifat loose (lepas), porous (sarang), kemiringan lereng sangat terjal hampir tegak, serta terdapat drainase berupa saluran irigasi di bagian selatan yang berpotensi air meluap pada saat hujan besar atau meresap," kata Lana pada Minggu (1/2/2026), dilansir detikNews.
Sementara itu, aliran air juga membuat tebing lubang makin terkikis dan lubang makin lebar.
"Hal ini membuat lereng tidak stabil dan jenuh air sehingga batuan menjadi gembur dan berat massa batuan bertambah. Ditambah dengan adanya erosi lateral oleh rembesan air yang berada pada bagian lembah lereng, menyebabkan terjadinya longsoran dan runtuhan batuan," kata ucapnya.
"Selama penyebabnya berupa aliran air di bawah permukaan tidak bisa dihentikan, maka berpotensi adanya perluasan," sambungnya.
(twu/nwk)











































