Fenomena sinkhole muncul di wilayah pertanian Pombatan, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat. Ada sebagian masyarakat setempat yang mengambil air dari dalam sinkhole tersebut karena dipercaya mampu menyembuhkan penyakit.
Namun, Kepala Pusat Riset dan Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Adrin Tohari telah mengingatkan bahaya air tersebut. Pasalnya, terdapat kandungan bakteri Escherichia coli (E coli) di dalamnya.
"Yang kualitasnya (air) kan juga tidak, belum tentu bagus kan. Sehingga makanya berdasarkan dari penelitian Dinkes setempat tuh kan bakteri E. coli-nya tinggi kan. Jadi enggak bisa langsung diminum," terangnya, dikutip dari detiksumut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagian jenis bakteri E coli terdapat pada saluran pencernaan. Kendati begitu, kehadirannya dalam air konsumsi menunjukkan pencemaran serius dan dapat menimbulkan penyakit.
Menurut Dosen Fakultas Kedokteran IPB University, dr Aisyah Amanda Hanif, tidak semua E coli berbahaya bagi tubuh, tapi beberapa jenis diantaranya berpotensi menyebarkan patogen. Jika air atau makanan yang telah terkontaminasi bakteri tersebut dikonsumsi, maka akan menimbulkan masalah kesehatan.
"E coli umumnya bakteri normal di saluran cerna, tetapi jenis tertentu dapat menyebabkan gangguan pencernaan jika dikonsumsi," ujar dr Aisyah yang dikutip dari IPB University pada (22/1/2026).
Lalu, gangguan kesehatan apa saja yang dapat ditimbulkan dari konsumsi air sinkhole?
Berisiko Timbulkan Diare-Dehidrasi
Akibat dari konsumsi air sinkhole diantaranya dapat menimbulkan infeksi gastrointestinal yang disebabkan oleh bakteri E.coli. Gangguan tersebut dapat ditandai dengan gejala diare, muntah, bahkan dehidrasi. Hal ini cukup berbahaya, terlebih jika terjadi pada anak-anak dan lansia.
"Jika air sinkhole yang terkontaminasi digunakan, masyarakat berisiko mengalami penyakit infeksi pencernaan dengan risiko dehidrasi yang berbahaya, khususnya pada kelompok rentan," jelas dr Aisyah.
Ia menjelaskan bahwa pencemaran air sinkhole dipengaruhi oleh kotoran manusia dan hewan yang terserap ke tanah. Hal ini dinilai mencemari air tanah dan juga air permukaan, termasuk air yang menggenang di sinkhole.
Infeksi pencernaan dikarenakan E coli juga bersifat menular. Penularan bisa terjadi jika kebersihan tangan, air, dan makanan tidak terjaga.
Upaya Pencegahan dengan Merebus Air Minum
Berdasarkan penuturan dr Aisyah, ia mengatakan merebus air adalah salah satu cara sterilisasi yang bisa membunuh bakteri. Meski begitu, berdasarkan laporan laboratorium kesehatan setempat, jumlah bakteri Ecoli yang terkandung di dalam sinkhole tersebut melampaui batas aman utnuk dikonsumsi.
"Dengan kondisi tersebut, sebaiknya masyarakat menghindari penggunaan air dari sinkhole, meskipun telah direbus," tegasnya.
Beberapa langkah yang harus diambil pemerintah adalah mengedukasi publik. Langkah ini dapat dimulai dengan mengenali sumber air yang aman, gejala penyakit yang ditimbulkan, pertanda bahaya, hingga pertolongan pertama saat gejala menyerang.
Selain itu, menurut dr Aisyah, sumber daya yang cukup di fasilitas kesehatan di sekitar lokasi juga penting untuk mencegah keterbatasan tenaga medis, obat-obatan, ataupun alat medis.
Sinkhole Terjadi karena Apa?
Guru besar Ilmu tanah IPB University, Prof Widiatmaka menjelaskan curah hujan tinggi memang dapat memicu munculnya sinkhole. Walau begitu, penyebab utamanya merupakan melemahnya struktur tanah karena hilangnya partikel halus dari lapisan bawah.
"Rongga terbentuk secara perlahan, tetapi runtuhnya bisa sangat tiba-tiba," kata dia.
Prof Widiatmaka memaparkan, secara ilmiah sinkhole diakibatkan oleh hilangnya kestabilan struktur tanah melalui proses pelindian (leaching) dan erosi bawah permukaan (piping).
Proses tersebut utamanya terdapat pada tanah bertekstur halus hingga sedang yang ada di atas batuan mudah larut atau lapisan berongga.
Fenomena sinkhole diperburuk dengan aktivitas manusia yang mengubah sistem air-tanah secara drastis. Tindakan tersebut meliputi pengambilan air tanah, pembangunan drainase tanpa pengkajian hidrogeologi, hingga pembebanan lahan tanpa perhitungan daya dukung yang matang.
Alih fungsi lahan adalah pemicu yang kerap dihiraukan manusia. Hal ini berdampak pada fungsi ekologis tanah sebagai penyangga air dan struktur.
"Hilangnya penutup vegetasi dan bahan organik tanah menurunkan agregasi tanah. Akibatnya, tanah kehilangan kohesi dan menjadi sangat rentan terhadap erosi internal melalui piping," jelas Guru Besar Ilmu Tanah IPB University, Prof Widiatmaka.
Ia menjelaskan bahwa eksploitasi air berlebihan hanyalah menyimpan 'bom waktu' di bawah permukaan tanah. Penurunan permukaan air tanah dengan cepat akan menghilangkan tekanan penyangga alami pada rongga bawah tanah. Selain itu, fluktuasi basah-kering berulang akan melemahkan kohesi tanah.
"Tanpa pengendalian ketat, pengambilan air tanah bukan hanya mengancam ketersediaan air, tetapi juga mengorbankan stabilitas lahan dan keselamatan manusia," tegasnya.
Prof Widiatmaka juga menyebut bahwa dampak sinkhole selain merusak lahan, tapi juga reruntuhan tanahnya mengubah aliran air dan menyebabkan pencemaran air tanah.
"Sinkhole adalah peringatan keras bahwa sistem tanah air kita sedang tidak sehat. Tanpa sinergi sains dan kebijakan, runtuhan tanah hanya tinggal menunggu waktu," pungkasnya.
(nah/nah)











































