Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja melaporkan jumlah pengangguran di Indonesia pada Kamis, 5 Februari 2026. Menurut laporan BPS, jumlah pengangguran di Indonesia per November 2025 mencapai 7,35 juta orang.
"Jumlah orang yang menganggur pada November 2025 sebanyak 7,35 juta orang atau turun sebesar 0,109 juta orang dibandingkan Agustus 2025," Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti dalam konferensi pers, Kamis (5/2/2026), dilansir detikFinance.
"Dengan demikian jumlah orang yang menganggur mengalami penurunan," imbuhnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lalu lulusan jenjang mana yang menyumbang tingkat pengangguran terbanyak?
Daftar Lulusan yang Menyumbang Pengangguran Terbanyak
Dalam laporan yang bertajuk "Berita Resmi Statistik: Keadaan Ketenagakerjaan Indonesia November 2025", pengangguran didefinisikan sebagai penduduk usia 15 tahun ke atas yang tidak bekerja tapi sedang mencari pekerjaan; mempersiapkan usaha baru; sudah diterima bekerja/sudah siap berusaha tetapi belum mulai bekerja/berusaha; atau merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan (putus asa).
Sementara untuk pengangguran, menggunakan istilah Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT). Definisi TPT yakni indikator yang digunakan untuk mengukur tenaga kerja yang tidak terserap oleh pasar kerja dan menggambarkan kurang termanfaatkannya pasokan tenaga kerja.
Berdasarkan laporan, lulusan SMK menyumbang tingkat pengangguran terbanyak dengan 8,45 persen. Disusul jenjang SMA dengan 6,55 persen.
Sementara untuk jenjang sarjana bersamaan dengan D-IV, S2, S3 menyumbang 5,38 persen. Angka tersebut jadi yang tertinggi setelah jenjang SMK dan SMA.
Berikut daftar lengkapnya:
1. Sekolah Menengah Kejuruan: 8,45 persen
2. Sekolah Menengah Atas: 6,55 persen
3. Diploma IV, S1, S2, S3: 5,38 persen
4. Diploma I/II/III: 4,22 persen
5. Sekolah Menengah Pertama: 3,76 persen
6. SD ke Bawah: 2,29 persen
Puluhan Ribu Lulusan Sarjana Putus Asa Cari Kerja
Berdasarkan laporan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) pada akhir tahun 2025, ada banyak lulusan sarjana yang masuk dalam kelompok putus asa cari kerja. Angkanya disebut mencapai 45 ribu lulusan S1 dan 6 ribu lulusan pascasarjana.
Menurut laporan yang ditulis oleh Muhammad Hanri, PhD dan Nia Kurnia Sholihah, ME, tren kenaikan jumlah pencari kerja putus asa menunjukkan adanya gejala struktural di pasar kerja, bukan sekadar fluktuasi statistik. Kondisi ini menandakan sistem pendidikan, pelatihan, dan layanan ketenagakerjaan gagal memberikan jalur masuk yang kredibel ke pasar kerja.
(faz/nwk)











































