Presiden Prabowo Subianto menilai Indonesia akan tetap terdampak meski tak terlibat bila terjadi Perang Dunia III. Prediksi ini diungkap Prabowo dalam Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 di Sentul, Bogor, Jawa Barat pada Senin (2/2/2026).
"Saudara-saudara, ada simulasi kalau terjadi perang dunia ketiga, nuklir, kita yang tidak terlibat saja pasti kena," kata Prabowo.
Ia mengatakan ada kemungkinan dunia mengalami nuclear winter. Jika perang nuklir meletus, nuclear winter akan menutupi Matahari. Ia menyebut prediksi ini tengan dibicarakan dunia dan Indonesia dapat terdampak apabila perang dunia ketiga terjadi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagi yang belum tahu soal nuclear winter, istilah ini sebenarnya sudah ada sejak lama. Seperti apa sejarah munculnya istilah ini dan bagaimana gambaran nuclear winter seperti yang diungkap Prabowo?
Apa Itu Nuclear Winter?
Musim dingin nuklir atau nuclear winter adalah istilah untuk teori yang menggambarkan efek iklim dari perang nuklir. Asap dari kebakaran yang disebabkan oleh senjata nuklir, terutama asap hitam dan berjelaga dari kota-kota dan fasilitas industri, akan dipanaskan oleh Matahari, terangkat ke stratosfer atas, dan menyebar secara global, berlangsung selama bertahun-tahun.
Kondisi dingin, gelap, dan kering yang dihasilkan di permukaan Bumi akan mencegah pertumbuhan tanaman setidaknya selama satu musim tanam, mengakibatkan kelaparan massal di sebagian besar dunia. Selain itu, akan terjadi penipisan ozon besar-besaran, yang memungkinkan peningkatan radiasi ultraviolet.
Dijelaskan dalam artikel ilmiah yang diterbitkan Rutgers University bertajuk "Nuclear winter" oleh Alan Robock dalam jurnal WIREs Climate Change Volume 1, May/June 2010, efek nuclear winter terkait jatuhnya korban pada negara-negara yang tidak terlibat justru lebih parah.
Lebih banyak orang bisa meninggal di negara-negara non-kombatan daripada di negara-negara tempat bom dijatuhkan, karena efek tidak langsung tersebut. Proliferasi nuklir sekarang memperluas ancaman tersebut.
Sejarah Nuclear Winter
Dampak langsung perang nuklir tentunya mengerikan. Akan ada ledakan, kebakaran, dan radiasi yang membunuh dan melukai banyak orang.
Istilah nuclear winter ini dapat ditelusuri pada 1983 ketika para ilmuwan Amerika Serikat dan Uni Soviet menunjukkan, perang nuklir dapat menghasilkan nuclear winter. Akan ada konsekuensi terhambatnya pasokan makanan global bagi orang-orang yang jauh dari konflik.
Asap dari kebakaran yang dipicu oleh senjata nuklir yang meledak di kota-kota dan target industri akan menghalangi sinar matahari, menyebabkan kondisi permukaan yang gelap, dingin, dan kering, menghasilkan musim dingin nuklir, dengan suhu permukaan di bawah titik beku, bahkan di musim panas selama bertahun-tahun.
Teori winter nuclear membantu mengakhiri perlombaan senjata nuklir pada 1980-an dan membantu menghasilkan Perjanjian Pelarangan Senjata Nuklir pada 2017. Dikarenakan perjanjian ini International Campaign to Abolish Nuclear Weapons (ICAN) menerima Hadiah Nobel Perdamaian 2017.
Penelitian Xia dkk, 2022 bertajuk "Global food insecurity and famine from reduced crop, marine fishery and livestock production due to climate disruption from nuclear war soot injection" sempat mensimulasikan berapa korban jatuh jika terjadi perang nuklir.
Perang nuklir antara India dan Pakistan dapat mengakibatkan kematian akibat kelaparan pada 1 hingga 2 miliar orang di seluruh dunia, dan perang antara Rusia dan Amerika Serikat (AS) dapat menewaskan lebih dari 6 miliar orang.
Apa Saja Dampak Lain dari Perang Nuklir?
Dikutip dari The Astrophysics Data System (ADS) Harvard, penelitian menemukan konflik nuklir berpotensi meningkatkan pH permukaan laut dan menurunkan tingkat kejenuhan aragonit. Penurunan tingkat kejenuhan ini akan memperburuk pelarutan cangkang akibat pengasaman laut antropogenik.
Perang nuklir regional juga dapat memiliki dampak yang luas terhadap kimia karbonat laut global. Kerugian pertanian tidak dapat diimbangi oleh perikanan dunia, terutama mengingat penangkapan ikan berlebihan yang meluas. Suhu dingin dan berkurangnya sinar matahari akan mengurangi pertumbuhan biomassa ikan, mungkin sebanyak yang terjadi jika perubahan iklim tidak diatasi.
Meskipun peningkatan penangkapan ikan pascaperang dapat menghasilkan sedikit peningkatan tangkapan, penurunan drastis akan terjadi akibat penangkapan ikan berlebihan. Pendinginan permukaan yang disebabkan oleh perang nuklir juga akan mencakup perluasan es laut pada tahun-tahun pertama setelah perang.
Pada waktu-waktu tersebut kondisi kekurangan pangan akan sangat tinggi. Situasi ini memengaruhi pengiriman di wilayah-wilayah menuju pelabuhan-pelabuhan penting di mana es laut saat ini tidak ada, seperti Laut Kuning.
Laut akan mendingin dengan cepat, tetapi tidak akan kembali ke keadaan sebelum perang ketika asap mulai mereda. Sebaliknya, lautan akan membutuhkan waktu puluhan tahun untuk kembali normal. Beberapa bagian lautan kemungkinan akan tetap dalam keadaan baru tersebut selama ratusan tahun atau lebih.
Es laut Arktik akan berada dalam keadaan baru, seperti zaman es mini. Ekosistem laut akan sangat terganggu, baik karena gangguan awal maupun keadaan laut yang baru. Hal ini berdampak pada layanan ekosistem di seluruh dunia dan dapat berlangsung selama beberapa dekade.
Sementara, Prabowo mengatakan hal senada.
"Kita akan kena partikel-partikel radioaktif. Mungkin ikan-ikan kita nanti akan terkontaminasi semua. Akan terjadi nuclear winter karena debunya akan menutup matahari dan menutup mataharinya tidak satu tahun, tidak 2 tahun, tidak 3 tahun. Para ahli mengatakan bisa winternya itu puluhan tahun. Ini yang dibicarakan di dunia," kata Prabowo.
(nah/pal)











































