Jam Kiamat Sisa 85 Detik Menuju Kehancuran, Perjanjian Ini Disorot

ADVERTISEMENT

Jam Kiamat Sisa 85 Detik Menuju Kehancuran, Perjanjian Ini Disorot

Devita Savitri - detikEdu
Senin, 02 Feb 2026 06:30 WIB
Doomsday Clock 2026
Jam kiamat 2026. Foto: Bulletin of the Atomic Scientists
Jakarta -

Pada 27 Januari 2026 lalu, Bulletin of The Atomic Scientist mengumumkan bila jarum Jam Kiamat bergerak maju empat detik lebih cepat dibanding 25. Posisi Jam Kiamat kini adalah 85 detik menuju tengah malam.

Kondisi ini dinilai menjadi posisi terdekat yang pernah dicapai Jam Kiamat. Hal ini berkaitan dengan berbagai ancaman utama yang akan terjadi pada 2026, termasuk berakhirnya perjanjian nuklir.

Perjanjian New Start

Mengutip laman The University of Chicago (UChicago) dijelaskan Jam Kiamat hadir sejak 1947. Jam ini dirumuskan oleh sekelompok ilmuwan, pembuat kebijakan, dan ahli.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mereka menetapkan jam sebagai representasi berapa banyak waktu lagi yang tersisa bagi umat manusia untuk mencegah bencana global. Jarum jam pada dasarnya bisa maju dan mundur.

Namun, hal itu tergantung pada bagaimana langkah-langkah yang telah diambil untuk mengatasi ancaman yang dapat mengakhiri peradaban manusia di Bumi. Di 2026, organisasi tersebut menyimpulkan bila dunia telah bergerak lebih dekat dengan kiamat.

ADVERTISEMENT

Oleh karena itu, para ilmuwan mengubah jarum jam yang terletak di kantor Bulletin of The Atomic Scientist, di Keller Center, Haris School of Public Policy, UChicago.

Para ilmuwan secara khusus menyoroti tanggal 5 Februari. Tanggal tersebut dinilai sebagai waktu berakhirnya perjanjian nuklir, yakni Perjanjian New START.

New START adalah sebuah perjanjian antara Amerika Serikat dan Rusia tentang pembatasan jumlah senjata nuklir. Melansir laman resmi Pemerintahan Amerika Serikat (AS), perjanjian ini bertujuan untuk meningkatkan keamanan nasional AS.

Mereka menetapkan batasan-batasan terhadap semua senjata nuklir jarak jauh antarbenua yang dikirimkan Rusia. Perjanjian ini mulai berlaku pada 5 Februari 2011, baik AS maupun Rusia berkewajiban untuk mempertahankan batasan yang dibuat selama waktu perjanjian tersebut.

Namun, perjanjian ini dinilai akan berakhir pada 4 Februari 2026 mendatang. Untuk itulah, ilmuwan seperti profesor astronomi, astrofisika, dan fisika UChicago yang juga ketua Dewan Sains dan Keamanan Jam Kiamat, Daniel Holz was-was.

"Untuk pertama kalinya dalam lebih dari setengah abad, tidak akan ada yang mencegah perlombaan senjata nuklir yang tak terkendali," katanya.

Jam Kiamat Bukan untuk Menyebarkan Ketakutan

Bulletin of The Atomic Scientist menekankan bila Jam Kiamat bukan bertujuan untuk menyebarkan ketakutan. Presiden dan CEO Bulletin of The Atomic Scientist, Alexandra Bell menjelaskan ini jadi upaya ilmuwan untuk mendorong sebuah tindakan penyelamatan bumi.

Dalam publikasi 2026, dipaparkan sejumlah tindakan yang diperlukan agar dunia lebih aman. Tindakan ini ditujukan untuk pemerintah negara di seluruh dunia.

"Jam Kiamat sebenarnya adalah metafora untuk besarnya bahaya yang kita hadapi. Tetapi ini juga merupakan seruan untuk bertindak. Kita masih punya waktu untuk memperbaiki masalah yang telah kita ciptakan sendiri," tegas Bell.



(det/nah)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads