Cara agar Gen Z Senang Belajar Sains dari Pasangan Peraih Nobel-Pakar Kepemimpinan

ADVERTISEMENT

Cara agar Gen Z Senang Belajar Sains dari Pasangan Peraih Nobel-Pakar Kepemimpinan

Trisna Wulandari - detikEdu
Jumat, 30 Jan 2026 20:00 WIB
Phaedria St Hilaire dan Morten Meldal
Peraih Nobel Kimia Prof Morten Meldal dan pakar kepemimpinan Phaedria St Hilaire berbagi tips agar anak Gen Z senang belajar sains, secara fisik dan mental. Foto: Dok YouTube YARSI TV
Jakarta -

Pasangan peraih Nobel Kimia Prof Morten Meldal dan pakar kepemimpinan Phaedria Marie St Hilaire PhD berbagi tips agar anak Gen Z senang belajar sains. Bagaimana kiatnya?

Meldal mengatakan penting agar anak Gen Z punya pengalaman nyata langsung di alam, di samping mahir menggunakan teknologi modern seperti HP dan laptop. Ia menjelaskan, anak butuh waktu untuk mengalami, berpikir, dan merenungkan apa yang ia alami di alam sekitarnya sehari-hari.

"Punya pengalaman nyata dan memerhatikan: alam itu tersusun dari apa, bagaimana alam bekerja, sehingga kita benar-benar dapat pengalaman nyata tentang gravitasi, cahaya, bagaimana biologi bekerja, dan lain-lain. Ini sangat penting," ucap kimiawan Denmark ini usai mengisi kuliah umum di Auditorium Universitas Yarsi, Jakarta, Jumat (30/1/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Anak muda tidak dapat gambaran bagaimana ajaibnya alam sebenarnya kalau jika tidak melihat langsung," tuturnya.

ADVERTISEMENT

Meldal mengatakan, dari pengalaman di luar ruangan, proses berpikir anak akan berjalan dan akan muncul pertanyaan di benaknya. Pada tahap ini, bimbing anak untuk fokus pada pertanyaan-pertanyaan tersebut secara runut, dari A sampai Z, sampai menemukan jawabannya, ataupun cara menjawabnya. Ini menurutnya juga bantu anak muda belajar menjadi ahli di bidangnya.

"Khususnya jika nanti mau bekerja di bidang STEM (sains, matematika, rekayasa, dan matematika)," ucap Meldal.

Sementara itu, Phaedria mengatakan sebenarnya Gen Z punya semangat tinggi dan berani, termasuk dalam belajar sains. Namun, penting bagi para anak muda ini untuk membangun ketahanan mental agar tidak rentan berkecil hati dan demotivasi.

"Saya suka Gen Z. Saya suka passion mereka, saya suka keberanian mereka, saya suka bagaimana mereka saling terhubung dan dapat mengungkapkan isi pikirannya. Jadi keep that up," kata Duta Global untuk Global Girls Foundation/Plan International ini pada kesempatan yang sama.

Ia mengatakan, meski terkadang ada rasa kurang layak atau berkecil hati, Phaedria mengingatkan tujuan jangka panjangnya yakni masa depan yang lebih baik bagi diri sendiri maupun orang sekitar.

"Ingatkan diri bahwa pikiran itu salah. Ingatkan diri bahwa kamu ingin yang lebih baik untuk masa depan kita, jaga semangat itu, dan bantu kita untuk bareng-bareng mencari solusi (untuk masalah dunia). Karena kami tidak tahu semua hal, sedangkan kamu muda, kamu bersemangat, tetaplah saling terhubung, karena suara anak muda itu sangat kuat," sambungnya.

Jika sedang butuh motivasi, Meldal mengatakan, cek kembali kisah-kisah tokoh sejarah. Perjalanannya bisa jadi menginspirasi.

"Lihat perilaku atau tindakan mereka yang dianggap heroik, atau etis, atau bagus untuk bertahan pada masa itu. Setidaknya, itu menunjukkan kemampuan-kemampuan bagus yang pernah terjadi di dunia kita," tuturnya.



(twu/pal)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads