Peristiwa gempa terjadi di sejumlah titik di selatan Jawa pada Selasa (27/1/2026). Salah satunya yakni di Bantul, DI Yogyakarta, yang mengalami gempa susulan berkekuatan di bawah M2.5 hingga 121 kali per Selasa (28/1) pukul 10.15.32 WIB.
Data tersebut disampaikan Stasiun Geofisika Sleman, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam Instagram resminya, Rabu (28/1). Sebanyak 3 gempa berkekuatan M2.0 - M2.4, sedangkan 118 lainnya di bawah M.20.
Gempa Bantul pertama pada Selasa sekitar pukul 13.00 WIB tercatat berkekuatan M4.5. Episenter gempa bumi terjadi di darat pada jarak 16 km arah timur Bantul dengan kedalaman 11 km. Gempa bumi ini dirasakan di Bantul, Gunung Kidul, Kulonprogo, Sleman, Kota Yogyakarta, dan Klaten dengan skala intensitas III MMI, yakni getaran serupa truk bermuatan melintas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, Wonogiri, Purworejo, Trenggalek, Solo, Pacitan, dan Magelang juga merasakan gempa Bantul ini dengan skala intensitas II MMI. Getarannya dirasakan sedikit orang dan benda-benda ringan yang digantung bergoyang.
Pacitan sendiri mengalami gempa berkekuatan M5,7 pagi harinya, sekitar pukul 08.30 WIB. Episenter gempa bumi berlokasi di darat, 24 km arah tenggara Pacitan, Jawa Timur pada kedalaman 122 km.
Gempa Pacitan dirasakan di Pacitan, Karangkates, Tulungagung dengan skala intensitas III - IV MMI, yakni getara dirasakan banyak orang di dalam rumah pada siang hari.
Sedangkan daerah Malang, Nganjuk, Ponorogo, Blitar merasakan gempanya dengan skala III MMI. Gempa Pacitan juga dirasakan hingga Madiun, Denpasar, Kuta, Karangasem, Jember, Mojokerto dengan skala II-III MMI.
Intensitas lebih rendah dari Gempa Pacitan pagi Selasa kemarin juga dirasakan di Yogyakarta, Bantul, Sleman, Kulon Progo, Purworejo, Semarang, Pasuruan, dan Mataram, dengan skala II MMI.
Penyebab Gempa Bantul dan Gempa Pacitan
Dijelaskan Stasiun Geofisika Sleman BMKG, lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa Bantul merupakan gempa bumi dangkal yang terjadi akibat aktivitas Sesar Opak, patahan aktif di Di Yogyakarta yang memanjang di aliran Sungai Opak.
Sesar Opak memiliki panjang sekitar 45 km, dari lereng Gunung Merapi hingga Pantai Parangtritis, Bantul.
Sementara itu, gempa Pacitan merupakan gempa menengah yang terjadi karena aktivitas deformasi (perubahan bentuk, posisi, atau volume) batuan dalam lempeng. Berdasarkan hasil analisis mekanisme sumbernya, gempa ini memiliki pergerakan naik (thrust fault).
Sementara itu, pakar gempa bumi dari Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Ir Gayatri Indah Marliyani S T M Sc Ph D IPM mengatakan gempa Pacitan berasal dari dalam lempeng samudra yang tersubduksi (bergerak ke bawah lempeng benua), yang disebut slab.
"Deformasi terjadi apabila lempeng terus didorong ke dalam, sehingga lempeng dapat terus berubah bentuk dan bergeser. Perubahan dan pergeseran lempeng tersebut menyebabkan terjadinya gempa bumi," ucap Gayatri, dikutip dari laman UGM, Rabu (28/1).
Pada gempa DI Yogyakarta atau Bantul, ia mengatakan gempa ini terjadi di zona sesar aktif Sesar Opak. Menurutnya, ada kemungkinan gempa ini terjadi karena adanya pasokan tekanan yang diberikan gempa pertama, meskipun sumber kedua gempa berbeda.
"Tekanan tersebut yang membuat lempeng tidak stabil dan bergerak sehingga gempa dapat terjadi," ucapnya.
Kekuatan magnitudo dan karakter sumber gempa yang berbeda menurut Gayatri membuat gempa Bantul dan Pacitan terasa berbeda bagi warga yang mengalaminya. Gempa Pacitan cenderung seperti mengayun, sedangkan gempa Bantul seperti sentakan.
"Perbedaan efek yang dirasakan masyarakat dipengaruhi oleh lokasi terjadinya gempa. Kekuatan magnitude yang besar dan pergerakannya yang vertikal membuat gelombangnya naik ke atas, sehingga dampaknya meluas," ungkapnya.
Gempa Bantul-Pacitan Tidak Berpotensi Tsunami
Selaras dengan Stasiun Geofisika Sleman BMKG, Gayatri mengatakan gempa tidak berpotensi tsunami atau gempa susulan.
"Kekuatan magnitudo gempa tidak terlalu besar, sehingga kecil kemungkinan terjadi gempa susulan. Jadi, jangan terlalu khawatir," ucapnya.
Pengingat Siaga Gempa
Merespons kecemasan warga akan gempa di dua daerah yang jelas terasa dan berlangsung dalam hari yang sama, Gayatri mengatakan hal ini sebagai pengingat untuk siaga gempa.
"Masyarakat memang harus selalu waspada dengan adanya gempa ini. Kejadian gempa pada hari ini dapat dijadikan pengingat bahwa kita berada di area tektonik aktif. Sehingga, masyarakat harus siap siaga dalam merespons gempa bumi ini," ucapnya.
Gempa Cilacap
Diketahui, Stasiun Geofisika Sleman BMKG juga melaporkan adanya gempa M4.2 di Cilacap, Jawa Tengah pada Selasa (27/1) sore sekitar pukul 15.18 WIB. Berdasarkan lokasi episenternya di 61 km arah selatan Cilacap dan kedalaman hiposenter 34 km, gempa Cilacap merupakan gempa bumi dangkal yang disebabkan aktivitas sesar aktif bawah laut.
Gempa Cilacap terasa di kota tersebut dengan intensitas II-III MMI di Cilacap, serta II MMI di Purworejo. Gempa ini dilaporkan tidak memiliki susulan.
(twu/nah)











































