Setiap tahun, jutaan orang di seluruh dunia terdampak bencana alam seperti banjir, badai, gempa bumi, dan kekeringan. Namun, tidak semua negara menghadapi risiko yang sama. Laporan terbaru WorldRiskIndex 2025 mengungkap 10 negara teraman di dunia untuk ditinggali jika terjadi bencana alam.
Data yang dipublikasikan oleh DevelopmentAid menunjukkan negara-negara dengan infrastruktur kuat, tata kota terencana, dan sistem mitigasi bencana yang baik cenderung memiliki risiko lebih rendah.
Menariknya, negara-negara kecil di Eropa dan Timur Tengah mendominasi daftar tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Begini Cara Dunia Mengukur Risiko Bencana Alam
Laporan WorldRiskReport (WRR) yang disusun oleh BΓΌndnis Entwicklung Hilft bersama Institute for International Law of Peace and Armed Conflict (IFHV) menilai 193 negara anggota PBB berdasarkan lima komponen utama yaity paparan (exposure), kerentanan (vulnerability), kerentanan sosial (susceptibility), kemampuan menghadapi (coping capacities), dan kemampuan beradaptasi (adaptive capacities).
Kelima aspek ini membantu menentukan seberapa besar kemungkinan suatu negara mengalami bencana alam dan seberapa siap negara tersebut dalam mengatasinya.
Menurut laporan tersebut, Asia dan Amerika masih menjadi wilayah dengan risiko bencana tertinggi. Sementara Afrika disebut sebagai benua paling rentan, dengan lebih dari 80% wilayahnya tergolong "berisiko tinggi" atau "sangat tinggi".
Sebaliknya, negara-negara di Eropa dan Teluk Persia justru termasuk yang paling aman. Hal ini tak lepas dari stabilnya letak geografis, pembangunan infrastruktur, serta sistem mitigasi yang kuat.
"Risiko bencana tidak hanya ditentukan oleh kekuatan alam, tetapi juga oleh kesiapan manusia dalam menanganinya," tulis laporan WorldRiskIndex 2025 yang dikutip dari DevelopmentAid.
Baca juga: Masuk Deretan Tahun Terpanas, Ini Rekor 2025 |
10 Negara Paling Aman di Dunia dari Risiko Bencana Alam
Berikut daftar 10 negara dengan risiko bencana alam terendah di dunia tahun 2025, berdasarkan peringkat WorldRiskIndex 2025:
- Monaco (WRI 0.18): Negara terkecil di dunia ini menjadi yang paling aman dari bencana alam. Letaknya di antara Pegunungan Alpen dan Laut Mediterania membuat Monaco terlindung dari gempa besar, badai, maupun tsunami. Negara ini juga memiliki sistem drainase efisien dan aturan bangunan tahan gempa yang ketat.
- Andorra (WRI 0.29): Terletak di antara Prancis dan Spanyol, negara ini aman dari gempa besar dan banjir, meski masih berisiko longsor di daerah pegunungan.
- San Marino (WRI 0.35): Negara di tengah Italia ini punya risiko bencana alam sangat rendah berkat lokasinya yang jauh dari pantai dan zona seismik aktif.
- Luxembourg (WRI 0.57): Minim paparan bencana, dengan infrastruktur tangguh dan sistem adaptasi iklim yang baik.
- SΓ£o TomΓ© dan PrΓncipe (WRI 0.61): Negara kepulauan kecil di Teluk Guinea ini cukup aman dari gempa dan badai besar, meski masih rentan terhadap banjir pesisir dan kenaikan permukaan laut.
- Singapore (WRI 0.67): Meski padat penduduk, Singapura termasuk aman karena berada di wilayah nonseismik dan memiliki sistem mitigasi bencana berteknologi tinggi.
- Liechtenstein (WRI 0.68): Berada di antara Swiss dan Austria, negara ini terlindung dari bencana besar, kecuali risiko kecil seperti longsor atau salju longsor.
- Belarus (WRI 0.72): Lokasi geografisnya yang jauh dari laut dan jalur gempa membuatnya aman dari tsunami dan gempa besar.
- Bahrain (WRI 0.87): Pulau kecil di Teluk Persia ini punya risiko rendah terhadap banjir dan kenaikan permukaan laut, didukung oleh infrastruktur yang kuat.
- Qatar (WRI 0.88): Dengan kondisi geografis datar dan stabil, Qatar nyaris bebas dari bencana besar seperti gempa atau badai tropis.
Upaya Dunia untuk Mencegah Risiko Bencana Alam
Selain memeringkat negara paling aman, WorldRiskReport 2025 juga menyoroti strategi global untuk mencegah dan mengurangi dampak bencana alam.
Laporan ini menekankan pentingnya pendekatan yang berfokus pada pencegahan jangka panjang dan adaptasi terhadap perubahan iklim.
Beberapa langkah penting yang direkomendasikan antara lain:
1. Perkuat Tata Kelola dan Kesiapsiagaan Lokal
Negara perlu membangun sistem hukum dan kelembagaan yang jelas di tingkat daerah agar penanganan bencana bisa cepat dan tepat. Pemerintah juga disarankan membentuk pusat kompetensi regional untuk berbagi data dan pengalaman terkait risiko bencana.
2. Gunakan Teknologi Canggih untuk Pemantauan
WRR 2025 mendorong pengembangan data lintas negara dengan akses real-time ke citra satelit dan sistem peringatan dini berbasis AI, agar potensi bencana bisa terdeteksi lebih cepat dan akurat.
3. Terapkan Solusi Berbasis Alam
Negara didorong memperluas area hutan bakau, lahan basah, dan taman kota untuk menahan air hujan, mencegah banjir, serta meningkatkan keanekaragaman hayati.
4. Bangun Kota "Spons"
Konsep "sponge city" disebut sebagai model perencanaan kota masa depan yang bisa menyerap dan menyimpan air hujan menggunakan infrastruktur hijau seperti taman dan jalur air alami, sehingga mampu mencegah banjir dan kekeringan.
Penulis adalah peserta program Magang Hub Kemnaker di detikcom.
(nah/nah)











































