Ada makna tersendiri yang diterapkan dalam penamaan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Kata 'besar' pada KBBI bermakna bahwa kamus tersebut memiliki ruang lingkup kata-kata yang luas.
Untuk itu, tidak hanya ada bahasa baku yang hadir dalam KBBI. Namun, ada juga kata tidak baku, ragam cakapan, kata klasik, kata yang sudah usang, hingga kata kasar.
Hal tersebut disampaikan Kepala Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra, Badan Pengembangan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Badan Bahasa Kemendikdasmen) Dora Amalia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengungkapkan, pihaknya pernah mendapat protes dari guru lantaran memasukkan kata kasar dalam KBBI. Para guru menilai kata-kata tersebut tidak mendidik.
"Dulu (ada) protes dari guru mengapa KBBI itu memasukkan kata-kata kasar, itu kan tidak mendidik. Justru, menurut kami itu mendidik," katanya dalam acara Silaturahmi Kemendikdasmen dengan Forum Wartawan Pendidikan di Gedung Arjuna, Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra Kemendikdasmen, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, Jumat (23/1/2026) ditulis Minggu (25/1/2026).
Baca juga: Bisakah Sebuah Kata Dihapus dari KBBI? |
Kata Kasar di KBBI
Badan Bahasa menilai, penghadiran kata kasar dalam KBBI bertujuan untuk mendidik. Berbeda dengan kata lainnya, KBBI memberi label khusus untuk kata kasar.
"Jadi kalau kata-kata yang ada label 'kas', hati-hati menggunakannya karena itu termasuk ragam yang kasar," jelasnya.
Dora menilai perspektif penutur bahasa Indonesia saat ini harus diubah bila melihat KBBI hanya berisi kata baku. Menurutnya, bila hanya kata-kata baik yang dimasukkan, KBBI berubah makna menjadi kamus kecil.
"Mungkin perspektifnya harus diubah, karena kalau hanya memasukkan kata yang bagus-bagus aja, tidak jadi kamus besar; jadi kamus kecil dan subjektif," sebutnya.
Kehadiran Kata Tidak Baku di KBBI
Dora kembali mengingatkan, tidak semua kata yang ada di KBBI adalah kata baku. Salah satunya yaitu kata yang viral beberapa waktu lalu, yakni kapitil, lawan kata kapital.
Kapitil dijelaskannya bersifat sebagai kata ragam cakapan. Sifat ini membuatnya tidak bisa digunakan pada keterangan resmi, seperti penulisan surat pemerintah atau berita.
Alasan mengapa kata tidak baku dihadirkan di KBBI adalah karena masyarakat masih mencari kata itu jika mereka tidak tahu artinya. Untuk mengantisipasinya, KBBI juga menerapkan fitur rujuk silang kata tidak baku yang dicari ke kata bakunya.
"Seperti kata analisa itu dirujuk silang ke analisis, artinya kata analisa adalah bentuk tidak baku dari kata analisis," bebernya.
Ada beragam label lain di KBBI. Pada kata pansos, misalnya, ada label 'n cak akr' yang menjelaskan kata ini adalah ragam kata percakapan dan merupakan akronim. Diketahui, pansos merupakan akronim dari panjat sosial.
"Kalau kita lihat bentuk ragamnya adalah 'cak', jadi ini adalah bentuk kreativitas berbahasa yang muncul dalam ragam yang informal," jelas Dora.
(det/twu)










































