Operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) kecelakaan pesawat ATR 42-500 di lereng Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan memasuki hari keenam. Tim gabungan kini berfokus mencari korban kecelakaan.
Salah satu yang terlibat dalam tim gabungan yakni tim Search and Rescue Universitas Hasanuddin. Lima orang mahasiswa dan relawan anggota tim terlibat dalam pencarian darat dan menyisir wilayah gunung sejak Sabtu (17/1/2026).
"Kami memberikan dukungan penuh kepada Tim SAR Unhas yang sejak awal telah terlibat langsung dalam operasi pencarian," kata Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Unhas Prof drg Muhammad Ruslin MKes PhD SpBM(K), dikutip dari laman kampus.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dilansir detikSulsel, unsur SAR pada operasi ini terdiri dari anggota TNI, Polri, Basarnas, relawan mapala, KSR-PMI, dan warga lokal.
Pada Rabu (21/1/2026), korban ketiga ditemukan sekitar pukul 12.30 siang. Proses evakuasi dilakukan di tebing dan jurang dengan memperhatikan cuaca.
"Secara prioritas kita sudah memastikan pesawat kita stand by kan untuk bisa evakuasi. Baik itu terhadap korban dan juga bodypart pesawat," ujar Kepala Basarnas Marsda Muhammad Syafii kepada wartawan di Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar, Rabu (21/1/2026), dikutip dari detikSulsel.
Sementara itu, korban pertama ditemukan telah teridentifikasi sebagai pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Deden Maulana. Jasadnya ditemukan pada Minggu (18/1/2026), dilansir detikSulsel.
Korban kedua teridentifikasi sebagai Florencia Lolita Wibisono, pramugari pesawat ATR 42-500. Jasadnya ditemukan pada Senin (19/1/2026).
Sedangkan black box ATR 42-500 ditemukan pada Rabu (21/1/2026). Black box ini terpasang dalam bagian potongan ekor pesawat, yang ditemukan di tebing sedalam 150 meter dari puncak Gunung Bulusaraung.
Asisten Operasi Kodam XIV Hasanuddin Kolonel Inf Dody Triyo Hadi mengatakan ekor pesawat tersebut semula teridentifikasi dari pantauan visual sejak Selasa (20/1/2026). Tim khusus TNI, Basarnas dan tim reaksi cepat Tonasa diturunkan untuk menjangkau medan terjal lokasi ekor pesawat dan black box.
Dody mengatakan black box tersebut masih dalam kondisi utuh saat ditemukan. Diharapkan, data penerbangan dalam black box tersebut aman sehingga dapat mengungkap penyebab kecelakaan pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT).
"Kita doakan saja data-datanya masih aman. Itu intinya. Kalau teknisnya bukan bidang kami," kata Dody di Posko Operasi SAR gabungan, Desa Tompobulu, Kecamatan Balocci, Pangkep, Rabu (21/1/2026), dikutip dari detikSulsel.
(twu/pal)











































